Tarbawi

Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Kedelapan)

وَلَا يَزْنُوْنَ

“… dan tidak berzina.” (QS. Al-Furqān : 68).

Zina adalah menikmati kemaluan yang diharamkan. Zina adalah satu jenis kefasikan, kemaksiatan, dan permusuhan. Allah telah menjadikan jalur bagi hasrat alami dalam diri manusia yaitu dengan cara menikah. Siapa yang meletakkan syahwatnya pada tempat yang diharamkan, ia telah berbuat zalim dan melampaui batas, ia berhak mendapat dosa serta konsekuensinya di dunia dan akhirat. Seorang hamba Ar-Rahman tidak melepaskan syahwatnya begitu saja di tempat yang diharamkan dan berzina, Allah bahkan telah mencela perbuatan itu dengan seburuk-buruk celaan,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.” (QS. Al-Isrā` : 32)

Kedua dosa ini (yakni membunuh dan berzina) adalah kezaliman dan sikap melampaui batas. Lalu keduanya mengakibatkan pelakunya merasakan kesempitan. Di dalam sebuah hadis disebutkan,

لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا

“Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah haram tanpa alasan yang dihalalkan.” (HR. Bukhari)([1])

Ketiga dosa ini (Syirik, membunuh dan zina) termasuk dari pada dosa-dosa besar, fondasi kekufuran, kefasikan, dan maksiat. Syirik merusak agama, membunuh merusak badan, sedangkan zina merusak kehormatan.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh ketiga dosa ini begitu tampak dan berbahaya. Oleh sebab itu, Allah mengatakan,

وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ

“Siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat dosa. Baginya akan dilipatgandakan azab pada hari Kiamat dan dia kekal dengan azab itu dalam kehinaan.” (QS. Al-Furqān : 68-69) sebagai bentuk balasan dari perbuatan mereka. Allah pun memberikan kepada pelaku dosa-dosa ini empat hukuman berat, yaitu :

Pertama : Aṡām (أثاما) dosa, maksudnya ialah azab. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah nama sebuah lembah di neraka Jahanam. Dosa itu mendatangkan kesialan di dunia sebelum di akhirat nanti. Jiwa tercemar, mood kacau, hati pun keras dan gelap. Ibnu Mas’ūd berkata,

الإِثْمُ حَوَّازُ الْقُلُوْبِ

“Dosa itu selalu mengendalikan hati.”([2])

Kedua : Dilipatgandakan azab.

يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ

“Baginya akan dilipatgandakan azab pada hari Kiamat dan dia kekal dengan azab itu dalam kehinaan.” (QS. Al-Furqān : 69) Azab yang seperti apakah gerangan? Allah mendeskripsikan azab akhirat dengan beberapa sifat yang mengerikan; azab yang agung, azab yang perih, azab yang keras, azab yang besar, azab yang mengelilingi, azab yang menghinakan. Azab yang patut untuk ditakuti. Oleh karena itu, hanya orang berilmu yang merasakan khasyah dari kalangan hamba-hamba-Nya.

Baca Juga  Istighfar dan Maksiat

قُلْ اِنِّيْٓ اَخَافُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.” (QS. Al-An’ām : 15)

Ketiga : Dikekalkan di neraka. Kekal yang dimaksud dalam ayat tersebut berarti dua hal yang mengerikan; senantiasa tersiksa dan putus harapan untuk selamat dan lepas dari azab tersebut. Kekekalan ini didapatkan dengan kesyirikan sebagaimana firman Allah,

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُ ۗوَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al-Mā`idah : 72)

Adapun membunuh dan berzina, nas-nas hadis yang bersifat mutawātir telah menunjukkan bahwa pelaku dosa besar seperti ini akan dikeluarkan dari neraka, seperti hadis-hadis tentang syafaat.

Keempat : Kehinaan. Ini menunjukkan adanya azab yang pahit bagi jiwa. Perasaan dihinakan, direndahkan, dan dikucilkan terasa menyakitkan, bagaimana lagi jika ditambah dengan azab fisik? Semoga Allah melindungi kita semua.

Kerugiannya begitu besar, kebangkrutan yang diderita begitu buruk, namun Allah membukakan pintu keluar dan memberikan jalan keselamatan dengan mengerjakan tiga hal:

Allah berfirman,

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّهٗ يَتُوْبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا

“Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Siapa yang bertobat dan beramal saleh sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya.” (QS. Al-Furqān : 70-71)

Pertama, tobat yang sebenarnya dengan beberapa kriteria yaitu; merasa menyesal, meninggalkan dosa, bertekad tidak kembali mengerjakannya, dan mengembalikan hak-hak orang lain disertai dengan keikhlasan kepada Allah pada masa di mana tobat masih bisa diterima secara khusus maupun umum, yaitu sebelum ruh melewati kerongkongan dan sebelum matahari terbit di sebelah barat.

Baca Juga  Jangan Ragu Berbuat Baik Kepada Orang Tua

Kedua, Kejujuran iman yang menyentuh dasar hati. Seseorang akan mendapati manisnya iman, rasa cinta, takut, harap, tawakal, kedamaian, dan kegembiraan dengan rahmat dan karunia Allah.

Ketiga, Amal Soleh. Kejujuran di hati tidak bisa lepas dari perilaku ketaatan anggota tubuh.

Tiga hal yang saling terkait ini (tobat, iman, dan amal saleh) terulang di dalam Al-Quran di banyak tempat, misalnya :

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا

“Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh…” (QS. Al-Furqān : 70)

وَاِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan (amal soleh)…” (QS. Ṭāhā : 82)

اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh…” (QS. Maryam : 60)

فَاَمَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Adapun orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh…” (QS. Al-Qaṣṣas : 67)

Jika tiga hal ini terkumpul, tobat yang dilakukan adalah tobat nasuha (yang sebenar-benarnya) Itu karena tobat seperti perkara yang lain yang berbeda-beda sesuai kekuatan dan kelemahannya. Di antaranya adalah tobat wanita Al-Ghāmidiyyah yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ,

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ

“Sungguh, dia telah bertobat kalau sekiranya tobatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti tobatnya akan mencukupi mereka semua.”([3])

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertobat, sekiranya tobat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni.”([4])

Ada juga tobat yang lemah, jika syahwat bertiup dan mengenainya, tobat itu pun terbongkar, terjatuh lagi dalam dosa.

Di antara dampak tobat nasuha ialah diubahnya keburukan menjadi kebaikan. Ini bisa bermakna dua hal:

Pertama, orang yang bertobat digantikan perbuatan buruknya dengan perbuatan yang baik. Allah mengganti kesirikan dengan tauhid, kefasikan dengan ketakwaan, kedurhakaan dengan bakti, memutus tali persaudaraan dengan menyambungnya. Demikianlah Allah memperbaiki urusan dan keadaannya.

Kedua, Allah mengubah catatan keburukan yang ada pada malaikat menjadi catatan kebaikan sebagaimana yang tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda,

Baca Juga  Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Kedua)

إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا: رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ: اعْرِضُوا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوبِهِ وَارْفَعُوا عَنْهُ كِبَارَهَا، فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوبِهِ، فَيُقَالُ: عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: نَعَمْ، لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَ -وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ-. فَيُقَالُ لَهُ: فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً، فَيَقُولُ: رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لَا أَرَاهَا هَا هُنَا، فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ.

“Sesungguhnya aku mengetahui penduduk surga yang terakhir kali masuk dan penduduk neraka yang terakhir kali keluar darinya, yaitu seorang laki-laki didatangkan pada hari kiamat (ke hadapan Rabb), lalu dikatakan kepadanya, ‘Tampakkanlah kepadanya dosa-dosanya yang kecil dan hapuskan dosa-dosanya yang besar.’ Lalu ditampakkanlah dosa-dosanya yang kecil. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah melakukan demikian, demikian, dan demikian dan kamu telah melakukan demikian, demikian, dan demikian pada suatu hari.’ Lalu dia menjawab, ‘Ya.’ Dia tidak bisa mengingkari, dan dia meminta belas kasihan dari dosa-dosa besarnya ketika diungkapkan kepadanya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya bagimu setiap kejelekan berubah menjadi kebaikan.’ Lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sungguh aku telah melakukan sesuatu yang mana aku tidak melihatnya dalam catatan amal di sini.’ (Abu Dzar) berkata, ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya’.” HR. Muslim([5])

Banyak hadis lain yang menunjukkan makna semisal, tidak terdapat kontradiksi dalam dua bentuk di atas.

Allah telah mengingatkan dan menganjurkan orang-orang yang bertobat untuk merealisasikan dan memaksimalkan tobat serta menjadikan tobat yang dikerjakan semata-mata ikhlas karena-Nya.

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّهٗ يَتُوْبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا

“Siapa yang bertobat dan beramal saleh sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenarnya.” (QS. Al-Furqān : 71)

Oleh sebab itu, hendaknya setiap orang yang bertobat memperindah tobatnya.

([1]) HR. Bukhari (6862).

([2]) HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-īmān (5434) dan lain-lain.

([3]) HR. Muslim (1696).

([4]) HR. Muslim (1965).

([5]) HR. Muslim (190).

Fahmi Alfian, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?