Selayang Pandand Fikih Ibadah ( I )

29

Apa Tujuan Jin dan Manusia Hidup? 

Allah Azza wa Jalla berfirman:  

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)} [الذاريات: 56 – 58] 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) 

 

Ayat ini menjelaskan, bahwa tujuan utama semua jin dan manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Kewajiban itu dihitung sejak ia balig sampai meninggal dunia. Kemudian Allah menjamin rezeki bagi jin dan manusia dan menetapkan kadar rezeki yang akan diperoleh oleh setiap jiwa. Seseorang tidak akan mati sampai semua rezeki yang telah ditetapkan tersebut ia dapatkan dengan sempurna, supaya tidak ada alasan nantinya ia meninggalkan ibadah karena sibuk mencari rezeki.  

Agar tugas utama kita sebagai hamba dapat terlaksana dengan baik, maka ada poin-poin penting yang perlu kita pahami dengan baik tentang fikih ibadah ini. Tetapi, sebelum membahas poin-poin penting tersebut, ada baiknya kita mengulangi kajian tentang definisi dari fikih ibadah ini. 

Fikih Ibadah terdiri dari dua kata, yang pertama, fikih dan yang kedua, ibadah. 

  1. Fikih  

Dalam bahasa Arab, Fikih berarti mengetahui dan memahami sesuatu. . (i) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ» (متفق عليه) 

Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia paham dalam agama.(ii)   

Orang yang mendapat taufik dari Allah Azza wa Jalla untuk belajar agama, menuntut ilmu syariat dan mendalaminya adalah orang yang beruntung. Ia akan lebih beruntung jika kemudian mendapat taufik untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu tersebut.  

Tingkatan pemahaman setiap kita terhadap agama dan syariat Allah tentu berbeda-beda, sehingga yang paling tinggi derajatnya adalah yang paling memahami syariat Allah dan paling tinggi ilmu agamanya.  

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ 

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11). 

Dengan demikian, kita harus berusaha belajar ilmu agama dan memahami syariat islam dengan segenap kemampuan, agar kita termasuk golongan yang dikehendaki Allah kebaikan baginya dan Allah mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat kelak. 

Istilah fikih pada awalanya bermakna: pemahaman terhadap semua hukum agama, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah dan adab/akhlak. Dalam perkembangan selanjutnya setelah setiap disiplin ilmu berdiri sendiri, istilah ilmu fikih memiliki makna khusus, yakni:  

«العِلْمُ بِالأَحْكَامِ الشّرْعِيَّةِ العَمَلِيَّةِ المُكْتَسَبة مِنْ أَدِلّتِها التَّفْصِيلِيّة» 

Pengetahuan tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan amalan mukalaf yang diambil dari dalil-dalil terperinci. (iii)  

Inilah istilah yang sekarang kita kenal dengan ilmu fikih yang berkaitan dengan ibadah (salat, puasa, zakat, haji), muamalah, nikah, peradilan, jihad, dll.  

Pemahaman yang benar terhadap fikih akan mempengaruhi amal ibadah seorang mukmin. Mari kita lihat contohnya: Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam 

“Sesungguhnya panjangnya salat seseorang dan ringkasnya khotbahnya adalah tanda fikihnya (kedalaman ilmu & pemahamannya).Panjangkanlah salat dan ringkaslah khotbah. Dan sesungguhnya kata-kata yang indah berpengaruh seperti sihir.”(iv)  

Pemahamannya dalam ilmu agama serta kelihaiannya dalam memilih dan merangkai kata-kata, membuatnya mampu menyampaikan ilmu dengan singkat, padat dan bermanfaat. Ia juga mengerti kondisi dan situasi, sehingga tau kapan harus dipersingkat dan kapan pula dapat diperpanjang. 

  1. Ibadah 

Secara bahasa, ibadah berarti (الخضوع والتذلل ) yakni tunduk, merendahkan diri. Ibadah juga berarti ( الطاعة ) taat/patuh. (v)   

Adapun dari segi istilah, ibadah mempunyai makna umum dan khusus, sama seperti istilah fikih. Ibadah dalam makna yang umum dan luas didefinisikan dengan:  

اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ ما يُحِبُّهُ اللهُ ويَرْضَاهُ مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ والظَّاهِرة 

“Sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin(vi) 

Makna inilah yang sejalan dengan firman Allah Ta’ala: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Jadi, kita menjalani dan mengisi hidup ini dengan ibadah, baik amalan hati, ataupun aktifitas anggota tubuh. Semua itu akan bernilai ibadah jika diniatkan untuk meraih rida Allah dan dilaksanakan sesuai syariat Allah: Katakanlah: “Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am: 162-164) 

Memahami makna ibadah secara luas, paling tidak akan membawa 3 manfaat besar bagi kita,  

Pertama, Memacu kita untuk megisi waktu dengan ibadah kepada Allah dan semua amalan yang bermanfaat untuk akhirat dan dunia kita. 

Kedua, Memotivasi kita untuk melaksanakan amal ibadah dengan sebaik mungkin, karena ganjaran yang kita raih sesuai kadar keikhlasan dan kesesuaiannya dengan syariat Allah dan tuntunan Rasulullah. 

Ketiga, Mendorong kita untuk menghindari semua perbuatan maksiat dan yang tidak bermanfaat bagi akhirat maupun dunia kita. 

Adapun makna khusus dari ibadah adalah apa yang sekarang kita kenal dengan jurusan fikih atau syariat di dunia perkuliahan. Dalam jurusan syariat atau fikih, fikih ibadah hanya berkaiatan dengan taharah, salat, puasa, zakat dan haji.  

Berikut poin-poin penting yang perlu kita pahami terkait fikih ibadah:  

POIN PERTAMA: RUKUN IBADAH 

Rukun ibadah ada 3, yakni alMahabbah (cinta), alRajaa’ (harap) dan alKhauf (takut). Maksudnya seseorang melaksanakan ibadah tertentu atas dasar cinta yang tulus kepada Allah Ta’ala, mengharap rida dan surga-Nya serta takut dari murka dan neraka-Nya.  

Ketika mendefiniskan ibadah ini, Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’iy berkata: “Ungkapan untuk suatu amalan yang mencakup rasa cinta, tunduk dan takut yang sempurna (kepada Allah).” (vii)  

Banyak  dalil-dalil yang menekankan urgensi ketiga rukun ibadah ini, di antaranya:  

Firman Allah Ta’ala: (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? (QS. Az-Zumar: 9) 

Juga firman Allah: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (QS. Al-Anbiya’: 90). 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: (pertama) Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.” (viii) 

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengumpamakan ketiga rukun ini dalam hati seorang hamba dengan seekor burung. Beliu menjelaskan: “Dalam perjalanan ibadah menuju Allah, hati ini laksana seekor burung. Kepalanya adalah mahabbahh (cinta) dan kedua sayapnya adalah khauf (takut) dan rajaa’ (harap). Jika kepala dan kedua sayapnya lengkap maka ia dapat terbang dengan sempurna. Jika kepalanya terputus maka burung tersebut mati, dan jika kedua sayapnya hilang maka ia akan jadi mangsa buruan yang mudah.” (ix)   

Cinta kepada Allah haruslah senantiasa mengiringi seorang hamba kapan pun dan di mana pun ia berada. Namun bagaimana dengan rasa harap dan takut? Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata:  

اِعْلَمْ أنَّ المُخْتارَ لِلْعَبدِ فِي حَالِ صِحَّتِه أن يَكونَ خائفًا راجِيًا، ويكونَ خَوْفُه ورَجاؤُه سَواءً، وفِي حالِ الْمَرَضِ يُمَحِّضُ الرّجاءَ، وقَواعِدُ الشَّرْعِ مِنْ نُصُوْصِ الْكِتابِ والسُّنةِ مُتَضَافِرةٌ علَى ذلك. 

“Ketahuilah, pada kondisi sehat hendaklah seorang hamba menetapi rasa takut dan penuh harap secara bersamaan, namun ketika sakit maka hendaklah rasa harapnya lebih tinggi, inilah yang sesuai dengan banyak nas-nas Al-Qur’an dan Sunnah.” (x)  

Beberapa Golongan yang Salah Paham terhadap 3 Rukun Ibadah 

Di dalam memahami dan mengamalkan ketiga rukun ini, ada 3 golongan yang keliru, yakni:  

  1. Kaum Sufi. 

Umumnya kaum shufi hanya mengandalkan mahabbah dalam beribadah kepada Allah, tidak perlu mengharap pahala dari Allah atau takut dari azabnya. Klaim tokoh-tokoh mereka dalam hal ini banyak tersebar, seperti Dzin Nun Al-Mishriy, Rabi’ah Al-‘Adawiyah, Abdul-Ganiy An-Nabulsiy, dll. 

  1. Murjiah. 

Kelompok ini mengklaim bahwa mereka menyembah Allah hanya karena rajaa’ yakni, mengharap pahala dan surga-Nya, tanpa adanya mahabbah dan khauf. Inilah yang menyebabkan sebagian mereka tenggelam dalam maksiat dan terjerumus dalam perkara-perkara yang diharamkan. Kekeliruan ini berangkat dari kesalahan dalam memahami hakikat iman, mereka tidak menganggap amal perbuatan bagian dari iman. 

  1. Khawarij.  

Kebalikan dari Murjiah, kelompok al-Khawarij mengklaim beribadah kepada Allah hanya berdasarkan khauf (takut) dari azab Allah tanpa mahabbah dan rajaa’.  

Makhul ASy-Syamiy rahimahullah berkata: 

مَنْ عَبدَ اللهَ بِالحُبِّ وَحْدَه فَهُوَ زِنْدِيْق، وَمَنْ عَبدَهُ بِالرَّجَاءِ وَحْدَه فَهُوَ مُرْجِئ، وَمَنْ عَبدَه بِالخَوْفِ وَحْدَه فَهُوَ حَرُوْرِيّ، وَمَنْ عَبدَهُ بِالْحُبِّ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُوَحِّد. 

“Siapa yang beribadah kepada Allah atas dasar cinta saja ia adalah zindik, yang beribadah kepada-Nya dengan dasar rajaa’ saja ia adalah murjiah, yang beribadah kepada-Nya dengan dasar khauf saja ia adalah khawarij, dan siapa yang menyembah Allah dengan cinta, khauf dan rajaa’ dialah mukmin muwahhid.” (xi)   

Mengapa 3 golongan ini keliru dalam memahami dan mengamalkan ibadah kepada Allah? Kalau kita dalami, maka setidaknya ada 3 pemicunya: 

  1. Kekeliruan dalam memahami hakikat iman, sebagaimana kita ketahui, pada umumnya mereka tidak memasukkan amal perbuatan dalam definisi/hakikat iman. Padahal, hakikat iman itu terdiri dari 3, yaitu keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. 
  1. Tafrith dalam memahami nas-nas syariat, tidak berusaha mengumpulkan semua nas-nas Al-Qur’an dan Hadis yang berkaitan dengan hakikat iman dan ibadah, sehingga kesimpulan yang dihasilkan tidak memadai alias keliru. 
  1. Guluw (ekstrem) dalam beragama. Tidaklah seseorang ghuluw/ekstrem dalam suatu perkara kecuali ia akan tafrith/lalai dalam perkara lainnya. 

Kaum sufi berbuat guluw dalam mahabbah hingga melalaikan khauf dan rajaa’, Murjiah bersikap guluw dalam nas-nas wa’d (janji ampunan, rahmat Allah yang luas) sehingga hanya berpegang pada rajaa’ dan melalaikan sisi mahabbah dan khauf, sebaliknya Khawarij bersikap guluw dalam nas-nas wa’id (ancaman) sehingga hanya mendahulukan sisi khauf dan melalaikan sisi mahabbah dan rajaa’ 

Pelajaran penting yang dapat kita ambil adalah, bahwa dalam memahami agama hendaklah pemahaman kita komprehensif, mengumpulkan semua dalil yang berkaitan dengan satu masalah, kemudian menentukan hukum berdasarkan dalil-dalil tersebut. Semoga kita terhindar dari sikap guluw/ekstremis dan tafrith/lalai dalam beragama dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Leave A Reply

Your email address will not be published.