Tarbawi

Sebab-Sebab Ampunan (6)

Sebab ampunan yang ketiga ialah tauhid. Tauhid adalah sebab terbesar. Siapa yang kehilangan tauhid, kehilangan ampunan. Siapa yang datang dengan tauhid, ia datang dengan sebab terbesar ampunan tersebut. Allah berfirman,

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisā`: 48)

Siapa yang datang dengan tauhid sembari membawa kesalahan sepenuh bumi, Allah akan menjumpainya dengan sepenuh bumi ampunan. Jika Allah berkehendak, Allah mengazabnya disebabkan dosa-dosanya, lalu kesudahannya ialah ia tidak dikekalkan di neraka, ia akan dikeluarkan kemudian dimasukkan ke dalam surga.

Sebagian ulama berkata, “Orang yang bertauhid tidak akan dicampakkan ke dalam neraka sebagaimana orang kafir dicampakkan. Di neraka, orang yang bertauhid tidak akan mendapatkan apa yang yang didapatkan oleh orang kafir. Ia pun tidak akan tinggal di sana sebagaimana orang-orang kafir tinggal. Jika sempurna tauhid dan keikhlasan seorang hamba untuk Allah, ia pun menjalakan segala kriteria tauhid tersebut dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya saat kematian menjelangnya, itu akan meniscayakan ampunan atas segala dosanya yang telah berlalu dan menghalanginya masuk ke dalam neraka selamanya. Orang yang hatinya telah merealisasikan kalimat tauhid, kalimat itu akan mengeluarkan dari dalam hatinya segala sesuatu yang dicinta, diagungkan, dihormati, ditakuti, diharapkan, dan disandari selain Allah. Ketika itu, segala dosa dan kesalahannya pun terbakar meskipun sebanyak buih di lautan. Bisa jadi kalimat tauhid itu mengubah dosa-dosa dan kesalahan menjadi kebaikan-kebaikan sebagaimana yang telah dibahas dalam pembahasan tentang pergantian keburukan menjadi kebaikan. Tauhid inilah formula rahasia terbesar. Jika diteteskan sedikit saja pada segunung dosa dan kesalahan, berubah gunung itu menjadi gunung kebaikan sebagaimana riwayat yang disebutkan dalam Al-Musnad dan lain sebagainya dari Ummu Hāni`. Beliau meriwayatkan bahwa rasulullah ﷺ bersabda,

Baca Juga  Sudah benarkah ke istiqomahan kita?

لا إله إلا الله لا تترُك ذنباً، ولا يسبِقها عمل

“Lā Ilāha Illāllāh tidak akan meninggalkan dosa dan tidak akan disusul dengan amal apapun.”[1]

Di dalam Al-Musnd terdapat riwayat dari Syaddād bin Aus dan ‘Ubādan bin Aṣ-Ṣāmit bahwa nabi ﷺ berkata kepada para sahabatnya,

ارفعُوا أيدِيَكم، وقولوا: لا إله إلا الله

“Angkatlah tangan kalian dan ucapkanlah, Lā ilāha illallāh!”

Kami lalu mengangkat tangan sesaat kemudian rasulullah ﷺ menurunkan tangan beliau. Beliau lalu berdoa,

(الحمدُ لله، اللهمَّ بعثتني بهذه الكلمة، وأمرتني بها، ووعدتني الجنَّة عليها، وإنَّك لا تُخلِفُ الميعاد

“Segala puji bagi Allah. Ya Allah, Engkau mengutusku dengan kalimat ini, Engkau memerintahkaku dengan kalimat ini. Engkau menjanjikanku surga dengan kalimat ini. Engkau tidak pernah ingkar janji.”

Lalu beliau pun bersabda,

أبشروا، فإنَّ الله قد غفر لكم

“Bergembiralah karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.”[2]

Al-Syibli berujar, “Siapa yang bersandar pada dunia, terbakar oleh api dunia. Ia pun menjadi abu yang diterbangkan angin. Siapa yang bersandar pada akhirat, terbakar dengan cahayanya, ia menjadi emas yang bermanfaat. Siapa yang bersandar kepada Allah, terbakar oleh cahaya tauhid. Ia menjadi permata yang tak ternilai.”

Jika api cinta sudah menyala di dalam hati, api itu pun membakar semua selain Tuhan. Hati pun menjadi suci dari segala selain-Nya. Hati menjadi wadah yang sempurna bagi tauhid.

ما وسعني سمائي ولا أرضي،ولكن وسعني قلبُ عبدي المؤمن

“Iman/cinta/makrifat kepada-Ku tidak tertampung oleh langit-Ku juga bumi-Ku, akan tetapi tertampung oleh hati hamba-Ku yang beriman.”[3]

غصَّنِي الشوقُ إليهم بريقي … فَوَا حَريقي في الهوى وا حريقي

قَد رماني الحُبُّ في لُجِّ بَحرٍ … فخُذوا باللهِ كفَّ الغريق

Baca Juga  Apa Setelah Ramadan?

حلَّ عندي حُبُّكم في شِغافي … حلَّ مِنِّي كُلَّ عَقدٍ وَثِيقِ

Kerinduan kepada mereka menyelami lisanku, aduh terbakarlah aku di dalam inginku terbakarlah aku…

Rasa cinta membuangku ke ombak lautan, maka ambillah demi Allah tangan orang yang tenggelam ini…

Telah bertahta di relung hati cintaku kepada kalian, cinta itu bertahta dari diriku di setiap pertalian janji…

Selesai

[1]  HR. Ahmad 6/425 dan Aṭ-Ṭabrāni dalam Al-Kabīr No. 1061 dengan lafaz yang hampir mirip. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah No. 3793 dengan lafaz serupa. Hadis ini lemah.

[2] HR. Ahmad 4/124, Al-Bazzār sebagaimana yang disebutkan dalam Kasyfu Al-Astār No. 10, Ad-Dūlābi dalam Al-Kunā 1/93, Aṭ-Ṭabrāni dalam Al-Kabīr No. 7163, dan Al-Hakim 1/501. Hadis ini lemah karena kelemahan periwayatan Rāsyid bin Dawūd

[3]  Bukan hadis namun sebuah riwayat israiliyat.

Fahmi Alfian, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?