Ruh Ilmu (Bagian II)

151

اﻟﺣﻣد واﻟﺻﻼة واﻟﺳﻼم ﻋﻠﻰ رﺳول ﷲ وﻋﻠﻰ آﻟﮫ وأﺻﺣﺎﺑﮫ وﻣن واﻻه، أﻣﺎ ﺑﻌد:

Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan hakikat ilmu, bahwsanya ilmu yang benar niscaya akan menuntun seseorang untuk takut kepada Allah serta mengagungkan perintah dan laranganNya. Sedangkan ilmu yang tidak menuntun kepada rasa takut dan amalan tobat, tidak lain hanyalah perniagaan duniawi. Oleh karenanya, siapa yang berilmu dari kalangan ulama atau para cendikiawan namun tidak tampak pada diri mereka tanda-tanda pengagungan terhadap syariat, sikap menahan diri batasan-batasannya serta komitmen dengan petunjuk petunjuk-Nya, maka penyebab itu semua adalah lemahnya sifat takut kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya dalam hati.

Dalam tulisan bagian kedua ini akan dipaparkan lebih jelas tentang keadaan orangorang yang menyimpang dan tersesat serta berpaling dari petunjuk petunjuk Al-Quran. Allah Ta’ala telah menyifati mereka dalam firman-Nya:

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ49 كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ50

Artinya: “Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?, Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa.” (QS. Al-Muddatstsir: 49-50).

Oleh karena itu, sikap bersegera untuk tunduk dan taat bagi pencari kebenaran, berlawanan dengan sikap berpaling dan membangkang bagi pencari kebatilan. Sementara itu, buruknya sikap berpaling dan membangkang tersebut tergantung kepada hawa nafsu dan kerusakan yang ada pada hati. Dalam hal ini Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kita dapati orang orang yang menyembah Allah dengan akal dan perasaan mereka saja, ada yang lari dan berpaling dari Al-Quran dan syariat seperti keledai liar yang lari terkejut dari pemburu dan singa, bila dikatakan kepada mereka, ‘Berkata Rasulullah’, mereka berpaling…”1

Anda melihat sebagian dari mereka menjilat kaum barat dan kotorannya yang bau, jika disebutkan tokoh-tokoh pemikiran barat dan para filosof materialis, mereka senang dan menyambut pemikiran mereka dengan hangat. Sangat dikhawatirkan sikap mereka terhadap tokoh-tokoh tersebut termasuk dalam kategori firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ45

Artinya: “Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar: 45).

Bahkan, kita melihat para pengikut hawa nafsu tersebut berpaling dari teks-teks syariat yang jelas, mereka lari darinya dengan penuh pembangkangan dan kesombongan, bersusah payah dalam menyelewengkan dan melucuti nas-nas tersebut dari maksudnya, sementara itu mereka mengklaim mengikuti syariat, padahal klaim dan sikap mereka itu tidak lain hanyalah penentangan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala campakkan kepada mereka, wal’iyaadzubillaah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَن يَعۡشُ عَن ذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ نُقَيِّضۡ لَهُۥ شَيۡطَٰنٗا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٞ36 وَإِنَّهُمۡ لَيَصُدُّونَهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ37

Artinya: “Siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (AlQuran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan). Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf: 36-37).

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berfirman menjelaskan ulah mereka,
وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بَِٔايَٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُۚ إِنَّا جَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۖ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَى ٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَهۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدٗا57

Artinya: “Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu Dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57).

Kita akan terheran-heran dengan ucapan ‘Amr bin ‘Ubaid -salah satu tokoh Sekte Muktazilah- ketika ia menyebutkan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:
إن أﺣدﻛم ﯾﺟﻣﻊ ﺧﻠﻘﮫ ﻓﻰ ﺑطن أﻣﮫ أرﺑﻌﯾن ﯾوﻣﺎ …

Artinya: “Sesungguhnya setiap orang dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa air mani…” (HR Bukhari Muslim).

Ia berkata, “Sekiranya saya mendengar Al-A’masy mengucapkan ini tentu saya akan mendustakannya, begitu juga bila saya mendengarnya dari Zaid bin Wahb saya tidak akan membenarkannya, dan seandainya saya mendengar Ibnu Mas’ud mengucapkannya tentu tidak akan saya terima, dan bila saya mendengar Rasulallah sallallahu’alaihi wasallam bersabda tentang hal ini saya akan menolaknya, dan sekiranya saya mendengar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hal ini, saya akan katakana, ‘Bukan untuk hal ini Engkau ambil janji janji kami’.”2

Ketika mendengar dan membaca karya sebagian orang zaman sekarang yang disematkan kepada mereka pujian dan penghormatan, kita akan memahami bahwa orang yang hatinya tidak tenang dengan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta jiwanya tidak tersentuh oleh indahnya keimanan, niscaya dia akan berpaling dari syariat, bahkan ia akan lari seperti larinya orang orang yang sombong. Hal ini tentu disebabkan minimnya taufik dan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap diri mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَفَمَن يَمۡشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجۡهِهِۦٓ أَهۡدَىٰٓ أَمَّن يَمۡشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ22

Artinya: “Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?!.” (QS. Al-Mulk: 22).
Bersambung…..

1. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa ( 13 \ 224 )
2 Adz-Dzahabiy, Miizan al-I’tidaal ( 3 \ 278 ), dan As-Siyar ( 6 \ 104 )

Leave A Reply

Your email address will not be published.