Puasa & Ramadhan

Revitalisasi Tarbiah di Bulan Penuh Berkah

Bulan yang penuh berkah ini memberikan nilai-nilai tarbiah istimewa baik dalam skala luas untuk segenap umat Islam, seperti mempererat persatuan dan persaudaraan, juga memupuk solidaritas sosial antara sesama muslim. Selain itu, banyak nilai-nilai tarbiah istimewa untuk ranah pribadi dan keluarga muslim yang perlu dipahami untuk kemudian diamalkan secara maksimal.

Usia 18 Tahun Memimpin Pasukan Sahabat

Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau telah membentuk sariyyah (pasukan) di bawah komando Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma untuk memerangi Romawi. Usamah pada saat itu baru berusia 18 tahun, sedangkan di dalam pasukannya ada Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat mulia dari kalangan Muhajirin dan Anshar. (Lihat: Abu Nu’aim, Ma’rifat ash-Shahabah, cet. Dar al-Wathan, jilid I, hal. 224).

Hebat sekali, baru berusia  18 tahun, Usamah sudah mendapat kemuliaan dengan amanah besar yang diembankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sudah pasti, Rasulullah tidak akan memberikan amanah kepada yang bukan ahlinya.

Yang lebih hebat lagi tentulah sang murabbi yang telah berhasil mendidik dan menyiapkan Usamah, sehingga layak mengemban amanah tersebut. Ya, kehebatan Rasulullah dalam mendidik para sahabat beliau tidak diragukan lagi, sehingga setelah beliau kembali kepada Sang Khaliq, para sahabat berhasil meneruskan perjuangan menebarkan dakwah Islam yang penuh rahmat ke seantero penjuru dunia, serta menaklukkan dua imperium terbesar di zaman itu, Romawi dan Persia.

Tarbiah Sejak Usia Dini

Usamah bin Zaid hanya satu contoh dari puluhan figur pemuda dari kalangan sahabat Rasulullah, di usia yang masih belia mereka telah menorehkan prestasi gemilang yang ditulis dengan tinta emas sejarah. Figur-figur tersebut tidaklah muncul begitu saja, namun sejak kecil mereka telah ditarbiah dengan benar. Dari kecil keimanan dan kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya sudah ditanamkan dalam hati sanubari mereka. Sejak usia dini, mereka telah menyaksikan suri teladan mulia yang mengajarkan prinsip-prinsip dasar Islam dalam segala aspek kehidupan, bukan hanya dengan kata-kata, namun juga dengan praktik nyata.

Baca Juga  Info Kajian: Istimewanya al-Quran di Bulan Nan Suci

Sejak Usia Berapa Anak-anak Mulai Ditarbiah Secara Intensif?

Persiapan untuk mencetak generasi pejuang sebenarnya sudah dimulai sejak seorang pria memilih calon istri. Memilih wanita yang memiliki keistimewaan dari sisi kriteria duniawi, seperti kecantikan, nasab yang mulia dan kekayaan, kemudian menjadikan kebaikan agamanya menjadi standar penentu pilihan.

Dilanjutkan saat istri mengandung, dengan senantiasa menjaga ibadah fardu, serta sering-sering membaca atau mendengar tilawah Alquran. Setelah anak lahir dan selama usia balita dijauhkan dari tontonan atau aktivitas jelek yang dapat merusak akhlaknya dan begitulah seterusnya.

Akan tetapi yang kita maksud di sini adalah usia anak siap digembleng untuk menjadi pejuang yang shalih dan mushlih. Jika kita amati nas-nas syariat, maka kita dapati bahwa umur tujuh tahun adalah usia ideal untuk memulai pendidikan anak dengan intensif. Namun, bila anak kita cerdas, penurut dan mudah diatur, maka walau belum mencapai usia tujuh tahun sebaiknya proses tarbiah intensif sudah dimulai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak-anak kalian salat saat berusia tujuh tahun, pukullah mereka (jika meninggalkannya) setelah berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad, no. 6756 dan Abu Dawud, no. 495).

Walau salat baru diwajibkan saat seorang anak balig yang pada umumnya pada usia 13-15 tahun, namun latihan untuk membiasakan salat sudah diperintahkan sejak berusia tujuh tahun.

Pada usia ini, hendaklah mereka diajarkan kewajiban-kewajiban yang wajib dilaksanakan nanti setelah ia balig.  Pada usia ini pula mereka mulai diberitahu perbuatan dan perkataan yang wajib dijauhi. Tentunya semua dilakukan secara bertahap dan dengan bahasa yang sesuai dengan usianya.

Baca Juga  Bolehkah Wanita I'tikaf Di Mushalla Rumahnya?

Ketika mencapai usia sepuluh tahun, syariat membolehkan untuk memberi sanksi bila mereka meninggalkan salat dengan sengaja. Dibolehkan memukul mereka, tentu setelah didahului dengan nasehat, sedikit ancaman, dan jika semua tak berguna barulah pukulan menjadi sanksi terakhir.

Karena sanksi berupa pukulan bertujuan untuk mendidik dan bukan menyiksa, maka para ulama menetapkan beberapa syarat, di antaranya: memukul dengan lembut, tidak pada anggota tubuh yang dapat membahayakan hidupnya, tidak lebih dari tiga kali pukulan, dan menjelaskan sebab ia mendapat sanksi tersebut.

Begitu pula anak perempuan, hendaklah sejak usia dini ditarbiah dengan akhlak malu, menutup aurat, memakai jilbab dan menjaga jarak dengan pria yang bukan mahram, apalagi jika tinggal di sebuah negara yang berideologi sekuler atau liberal, di mana kebebasan semu menjadi hak asasi. Jika tidak diajarkan sejak dini, maka sulit untuk mengarahkannya setelah besar nanti.

Momen Tarbiah di Bulan Penuh Berkah

Pada bulan Ramadan hampir semua faktor pendukung tarbiah anak sejak usia dini terpenuhi, situasi dan kondisi juga sangat mendukung. Jika sebelumnya kita belum sempat memperhatikan tarbiah putra-putri kita karena kesibukan urusan dunia, maka jangan biarkan Ramadan tahun ini berlalu tanpa ada nilai tarbiah yang kita tanamkan pada buah hati kita.

Karena semua orang berpuasa dan salat tarawih bersama,  maka latih anak-anak berpuasa sesuai kemampuannya, ajak mereka salat berjamaah di masjid. Ingatkan mereka supaya berpuasa dengan iman dan mengharap pahala dari Allah semata.

Sahabat wanita Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah mengirim utusan untuk mengumumkan pada pagi hari Asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di Madinah, ‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyempurnakannya. Barang siapa yang tidak berpuasa, hendaknya menahan (makan dan minum) sampai malam.’ Setelah pengumuman itu, kami berpuasa, mengajak anak-anak untuk berpuasa dan mengajak mereka ke masjid. Kami juga membuatkan mainan dari kulit (wol), jika mereka menangis karena lapar, kami memberikan mainan tersebut sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136).

Baca Juga  Khutbah Jumat: Ramadhan Telah Tiba

Karena mayoritas kaum muslimin semangat untuk membaca dan mengkhatamkan Alquran, maka motivasilah mereka untuk ikut mengaji, jika bacaan sudah lancar maka motivasilah mereka untuk khatam Alquran walau hanya sekali. Begitu pula amal kebaikan lainnya, seperti melibatkan mereka dalam menyiapkan acara buka puasa bersama, melatih bersedekah dan sebagainya. Sehingga cinta ibadah dan berbuat baik terpatri dalam hati dan jiwanya sejak dini.

Intinya, semua kebaikan dan keahlian yang kita harapkan anak akan memilikinya setelah besar nanti, maka kita sudah harus mengajari, melatih dan menanamkannya sejak usia dini. Semakin berkualitas program tarbiah yang diterapkan pada anak-anak, maka semakin baik output yang dihasilkan. Bukan tidak mustahil akan muncul figur-figur pemuda muslim yang mampu memperbaiki nasib bangsa dan umat manusia, sebagaimana generasi sahabat mampu menguasai segenap dunia dan menghiasinya dengan keindahan syariat Islam.

Abu Zulfa, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?