Renungan Bersama Wabah COVID-19

453

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beberapa bulan belakangan ini dunia digegerkan oleh tersebarnya sebuah virus yang awalnya merebak di kota Wuhan; di Cina, kemudian menyebar dan merebak ke seluruh penjuru dunia, yang terinfeksi virus ini pun terus bertambah, bahkan sampai angka ratusan ribu, dan korban yang meninggal pun sudah banyak berjatuhan, bahkan sampai pada angka ribuan, dan nampaknya yang akan menjadi “tumbal” dari virus ini akan terus meningkat dan bertambah.

Virus ini tidak hanya menimpa negara-negara miskin dan berkembang, namun banyak dari negara-negara modern yang terkena imbasnya pula; Amerika, Italia, Inggris, Spanyol dan negara-negara yang lainnya dipenuhi keresahan, keguncangan dan kepanikan, maka ekonomi pun jeblok, pertandingan sepakbola di liga-liga yang bergengsi dibekukan, balap mobil Formula Satu yang tersohor dihentikan, bahkan ada beberapa negara yang mengeluarkan kebijakan lockdown. Sekolah-sekolah diliburkan, penerbangan  ditangguhkan, bahkan -di sebagian negara- sarana transportasi (taxi dan yang semisalnya) pun diliburkan, dan di negara-negara Islam, beredar fatwa dihentikannya salat berjemaah dan salat Jumat di masjid-masjid, dan “diliburkannya” ibadah umrah, demi untuk menghindari menjalarnya virus ini, COVID-19.

Hal yang mengerikan dari virus ini adalah; mudah menular bahkan sangat cepat, virus ini menyerang paru-paru, dan belum ditemukan vaksin dan obatnya secara klinis, serta bisa berefek pada kematian. Karena beberapa hal inilah virus ini kemudian mendapat julukan pandemi.

Kaum muslimin, jemaah salat Jumat  yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa Ta’ala.

Di tengah kepanikan dunia dalam menghadapi virus ini, mari kita duduk sejenak merenungi dan mentafakuri peristiwa ini, demi untuk memetik pelajaran darinya, di antara pelajaran tersebut adalah:

 

Pertama: peristiwa ini adalah bukti nyata tentang kebesaran Allah dan kekuasaannya.

Selama ini banyak manusia yang terjatuh dalam kepongahan; teknologi yang tinggi, perkembangan ilmu kedokteran yang luar biasa, dan penemuan-penemuan yang spektakuler menjadikan banyak manusia yang melalaikan Rabb-nya, terbelenggu dalam kesombongan, dan terjajah oleh kepongahan, sehingga mereka seakan tidak membutuhkan sang Rabb yang Mahakuasa atas segalanya. Maka banyak manusia yang terjerembab ke dalam jurang kemaksiatan, bahkan hidup bergelimang kekufuran dan kemunafikan, liberalisme dijajakan seakan tidak ada syariat yang mengikat, atheisme dikembangkan dan didakwahkan, komunisme dibanggakan dan diterapkan seakan tiada Rabb sang Maha pencipta. Namun hari ini, terbelalak mata manusia dan terperangah, ketika mereka diuji dengan sebuah virus kecil, yang tersebar di tengah  mereka, kemudian meneror kesehatan bahkan mengancam nyawa, virus ini begitu cepat merebak,  menyelundup ke pos-pos perbatasan negara adidaya, dan merasuki gedung-gedung pencakar langit, seakan bergerilya mencari mangsa, tidak berlaku bagi virus ini paspor, tidak mempan bagi virus ini sistem keamanan modern, semua dapat dikelabuinya. Oleh karena itu, WHO menjulukinya dengan pandemi.

Manusia yang selama ini kental dengan lekukan kesombongan pada wajahnya, yang biasanya dengan penuh semangat menyerukan liberalisme, atheisme, dan LGBT,  pada hari ini harus tunduk penuh putus asa, bahkan mungkin mengangkat tangan mengetuk pintu langit untuk mengharap rahmat dari Rabb-nya. Hari ini seakan telah mati liberalisme yang selama ini didengungkan, dan seakan telah tamat atheisme yang dibanggakan.

Datangnya virus ini mengetuk hati manusia, dan menyadarkan mereka dari kelalaian, bahwa selama ini manusia tidak cukup besar pengagunganya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal kekuasaan-Nya Mahabesar, keangungan-Nya Mahaagung, Allah berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya ada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, sedangkan langit dilipat dengan tangan kanan-Nya, Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. Az-Zumar: 67).

Ayat ini menunjukkan kebesaran, kekuatan dan keagungan Allah yang sangat besar dan tak terbatas, seyogyanya manusia mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan kebesaran dan keangungan Allah, namun banyak dari mereka yang tidak mampu melaksanakan hal ini. Maka peristiwa merebaknya virus COVID-19 ini dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi kembali interaksi dan pengagungan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua: bahwa merebaknya virus COVID-19 adalah ujian dari Allah.

Allah telah menjelaskan di dalam Al-Quran:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

Artinya: “Dan niscaya akan Kami berikan cobaan dan ujian kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”. (QS. Al-Baqarah: 155).

Ujian berupa musibah dan bencana yang ditimpakan oleh Allah kepada para hambanya tujuannya bukan untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, namun itu semua bersumber dari kebijaksanaan Allah. Ada hikmah yang sangat besar di balik musibah dan bencana yang menimpa kita, di antaranya adalah untuk menguji kwalitas keimanan seorang hamba. Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Apakah manusia menduga bahwa mereka dapat mengucapkan, ‘Kami telah beriman kepada Allah’, sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh telah Kami uji orang-orang beriman sebelum mereka, maka Kami tahu orang yang jujur imannya dan yang dusta”. (QS. Al-Ankabut 2-3).

Maka musibah yang datang mendera, yang berupa merebaknya virus Corona ini adalah momentum kita untuk melaksanakan muhasabah (evaluasi) amalan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan di antara hikmah dan keutamaan dari datangnya musibah bagi kaum muslimin adalah dapat menghapuskan dosa-dosa orang bersabar ketika menghadapinya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

لا يصيب المرء المؤمن من نصب ولا وصب ولا هم ولا حزن ولا غم ولا أذى حتى الشوكة يشاكها إلا كفر الله عنه بها خطاياه

Artinya: “Tidaklah seorang muslim mendapatkan capek, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan bahkan meskipun hanya tertusuk duri, kecuali Allah akan menhapuskan dosa-dosanya”. (HR. Bukhari & Muslim).

Maka hendaknya seorang muslim menyadari bahwa merebaknya virus corona ini adalah bagian dari ujian dan musibah yang timpakan Allah kepada hamba-hamba-Nya, tentunya ada hikmah dan keutamaan bagi orang yang bersabar.

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga: senantiasa mengingat kematian.

Pada beberapa waktu belakangan ini tiba-tiba manusia dirundung kepanikan, pasalnya angka kematian yang diakibatkan oleh virus ini lumayan besar, dan yang lebih mengerikan dari virus ini adalah mudahnya proses penyebaran dan penularannya, sehingga dalam waktu 3 bulan ini telah ratusan ribu orang yang terinfeksi di banyak negara, sehingga kepanikan itu begitu nampak di beberapa negara.

Sesungguhnya kematian adalah sebuah keniscayaan dan kepastian bagi orang yang hidup, namun harus diakui bahwa selama ini kita lalai dengan makhluk yang satu ini, sehingga berimplikasi pada rendahnya keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, yang kemudian berakibat pada sedikitnya ibadah-ibadah yang kita tunaikan kepada Allah, dan mudahnya kita terjatuh dan bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah.

Sesunguhnya mengingat kematian dapat mendatangkan manfaat dan faedah yang besar, Umar bin Khattab mengatakan:

كفى بالموت واعظا

Artinya: “Cukuplah kematian itu sebagai pengingat dan nasihat bagi manusia”.

Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kita untuk memperbanyak mengingat kematian, beliau bersabda:

أكثروا ذكر هاذم اللذات

Artinya: “Perbanyaklah mengingat kematian”. (HR. Tirmizi).

Dan di antara keutamaan mengingat kematian adalah ucapan Ad-Daqqaq: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan mendapatkan tiga kebaikan; bersegera dalam bertobat, bersikap kanaah (sifat merasa cukup dan puas) dalam hati (dengan rezeki yang Allah berikan), dan rajin dalam beribadah”. (At-Tadzkirah karya Al-Qurthubiy: 1/8).

Dan yang perlu diingat, bahwa kematian itu tidak mesti harus dengan terinfeksi virus corona. Betapa banyak sarana dan faktor-faktor kematian itu, maka mengingat dan takut kepada kematian bukan hanya ketika merebaknya virus corona saja, sebab virus tersebut bukan satu-satunya penyebab kematian, namun ada laksaan penyebab kematian di sekitar kita. Jadi, seyogyanya kita sering mengingat kematian agar melembutkan hati kita, dan menyadarkan kita dari kelalaian.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.