Penjelasan Hadis Arba’in Nawawiyah | Penjelasan Hadis Pertama (bagian 2)

387

Hadis Pertama : 

عَنْ أمير المؤمنين أبي حفص عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ). 

Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya amal itu bergantung dengan niatnya dan tiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya maka hijrahnya karena Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijranya karena apa yang ia inginkan. [HR. Bukhari dan Muslim] 

 

Pada artikel yang lalu penulis sudah menuliskan pembahasan terkait hadis pertama dari empat sisi, izinkan penulis melanjutkannya pada artikel kali ini. 

Kelima  

Hadis ini menekankan pentingnya keikhlasan dan betapa berbahayanya riya. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku?‘, Dia menjawab, ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Alquran dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu perbuat?‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Alquran demi Engkau.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rezeki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya?’ Dia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridai. Allah berfirman, ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.”1 

  

Oleh sebab itu, wajib bagi setiap insan untuk memurnikan niatnya dan senantiasa bertanya pada diri sendiri dalam setiap amalan: apa tujuan saya melakukan amalan ini? Apa tujuan saya menuntut ilmu, menghafal Alquran dan melakukan amal ketaataan lainnya? Jika jawabannya adalah karena Allah maka silakan dilanjutkan. Jika karena selain Allah maka hendaknya diperbaiki sebelum amal itu dikerjakan. 

 

Jangan pernah lelah memeriksa niat karena niat itu selalu berubah-ubah. Bisa jadi seseorang memulai suatu amal dengan niat baik lalu masuk niat-niat busuk setelah itu.  

 

Amal itu bisa disusupi sebuah penyakit yang berbahaya. Nabi bahkan menyebutnya sebagai syirik kecil. Walaupun kecil tetap saja namanya syirik. Penyakit itu adalah penyakit riya. Riya yang menyusup lantas mengeruhkan amal dan ia terbagi menjadi beberapa keadaan sebagai berikut. 

  1. Riya yang terdapat sejak awal beramal, yakni semenjak awal amal itu dilakukan bukan karena Allah. Contohnya: orang yang salat agar disebut sebagai ahli ibadah, maka amalnya tidak diterima dan ia berdosa. Allah berfirman, 

وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ    

Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.‘” [QS. Az-Zumar :65].  

Dalam ayat di atas Allah memberi peringatan kepada Nabi. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada toleransi sama sekali dari Allah jika ada hambaNya yang mempersekutukan Dia sedikit pun. Allah berfirman dalam hadis qudsi, Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukanKu dengan selainKu, Aku  meninggalkannya dan sekutunya.”2  

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.”3 

  1. Amal itu awalnya dikerjakan karena Allah lalu selanjutnya muncul riya. Ibadah ini terbagi menjadi dua:
  2. Jika ibadahnya berupa rangkaian yang bersambung awal dan akhirnya seperti salat maka ibadah itu tidak diterima. Demikianlah hukumnya di akhirat. Adapun hukumnya di dunia maka ibadah itu tidak perlu diulangi, hanya saja orang yang mengerjakannya harus bertobat.
  3. Jika ibadah itu bukan berupa rangkaian (tidak ada keterkaitan satu dengan yang lain) seperti sedekah, zikir, membaca Alquran, menuntut ilmu, dan lain-lain maka yang dianggap gugur adalah bagian yang tercampuri oleh riya. Pelakunya berdosa. Bagian yang tidak tercampuri riya dan dikerjakan ikhlas karena Allah menjadi pahala.
  4. Amalan dikerjakan karena Allah lalu terbetik di benak keinginan pada selain Allah namun dia berusaha menghilangkan keinginan itu maka diharapkan keinginan yang terbetik itu diampuni oleh Allah. Orang seperti ini akan dibantu oleh Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya:  

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ   

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”  [QS. Al-A’raf: 201] 

  1. Amalannya ditunaikan karena Allah namun terbetik di dalam hati rasa senang terhadap pujian orang padanya karena amal tersebut. Ini tidak mempengaruhi ibadahnya karena ibadah tersebut telah ditunaikan dengan keikhlasan. Namun bila ia menyebut-nyebut amalnya setelah ditunaikan dengan maksud membanggakan diri maka dikhawatirkan ia terjerumus pada penyakit sum’ah. 

Keenam 

Di dalam hadis ini terdapat celaan bagi orang yang mengejar dunia. Rasul menyebutkan orang yang mencari dunia sebagai perbandingan terhadap orang yang menginginkan Allah dan RasulNya. Tidak dipungkiri bahwa seorang hamba harus mencari dunia untuk terus bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini tidak tercela. Yang tercela ialah jika ia mencari dunia pada dua keadaan: 

  1. Jika ia menampakkan bahwa dirinya mencari akhirat namun sejatinya ia ingin dunia sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ini. Ada orang yang berhijrah dan tampaknya ia berhijrah karena Allah namun sejatinya hijrahnya karena dunia. 
  2. Jika kesibukannya mencari dunia melalaikannya dari akhirat. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.