Tarbawi

Pengaruh Dossa (Bag. 1)

Sesungguhnya maksiat pasti akan mendatangkan mudarat bagi pelakunya, yang mudaratnya terhadap hati seperti mudarat racun terhadap badan, maka semua keburukan dunia dan akhirat, sebabnya adalah dosa dan maksiat. Berikut ini 10 pengaruh dosa yang disebutkan oleh Syaikhah Bintu Muhammad al-Qasim dalam kitabnya Syarah Mukaffirat al-Zunub:

  1. Terhalang dari ilmu

Allah telah menjadikan para ahli ilmu sebagai pewaris para Nabi yang cahaya kenabian tersebut akan terhalangi dari para pelaku maksiat, maka di antara pengaruh dosa, yaitu membuat pelakunya lupa akan ilmu yang bermanfaat, yang seharusnya bisa mengantarkannya kepada rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun maksiat tersebut  akan menghalanginya dari jalan menuju keridaan-Nya, karena ilmu adalah cahaya yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala pancarkan ke dalam hati seseorang, sedangkan maksiat akan memadamkan cahaya tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ

Artinya:

“Bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu” (Al-Baqarah/2:282)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata:

“Sesungguhnya saya melihat seseorang yang lupa sebuah ilmu yang dahulu dia ketahui, karena dosa yang dia lakukan.”[1]

Ali bin Khasyram berkata:

“Saya pernah mengadu kepada Imam Waki’ tentang sedikitnya hafalanku, maka beliau berkata : ”Mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bisa menghafal dengan sedikit dosa”.”[2]

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan salah satu hukuman bagi manusia dengan mencabut hidayah dan ilmu yang bermanfaat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 فَلَمَّا زَاغُوْٓا اَزَاغَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْۗ

Artinya:

“Maka, ketika mereka berpaling (dari perintah Allah), Allah memalingkan hati mereka (dari kebenaran)”. (as-Saff/61:5)[3]

  1. Terhalang dari rezeki

Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari sebuah rezeki disebabkan karena sebuah dosa yang dia lakukan.”

Pelaku maksiat kadang terhalangi dari rezeki zahir seperti harta atau jabatan atau semacamnya. Dan kadang juga terhalangi dari rezeki maknawi seperti melaksanakan ibadah wajib atau ibadah sunah. Seseorang berkata kepada Abu Sulaiman ad-Darani:

Baca Juga  Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Keenam)

“saya tidak sempat salat witir tadi malam, juga tidak salat dua rakaat sebelum subuh, juga tidak salat subuh secara berjamaah (di masjid), maka Beliau menjawab: “Itu semua terjadi karena dirimu sendiri, dan Allah tidaklah zalim terhadap hamba-Nya, itu semua karena syahwat yang engkau perturutkan”.”[4]

Al-Fudhoil Rahimahullah berkata:

“Jika engkau tidak mampu melaksanakan salat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah sesungguhnya engkau adalah orang yang terhalangi dan terbelenggu, terbelenggu oleh dosa-dosamu”[5]

Oleh karenanya, seorang hamba harus berhati-hati ketika dia malas melakukan ketaatan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

 وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ

Artinya:

“Akan tetapi, (mereka memang enggan dan oleh sebab itu) Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka.” (At-Taubah/9:46)

Di dalam ayat tersebut, peringatan keras bagi siapa saja yang merasa dirinya tidak bersemangat dalam ketaatan, bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci orang tersebut termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang melakukan ketaatan kepada-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala melemahkan keinginan mereka untuk melakukan ketaatan.[6]

  1. Melemahkan pengagungannya kepada Allah di dalam hati

Maksiat pasti akan melemahkan pengagungan di dalam hati seorang hamba, karena seandainya dia mengagungkan dan memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hatinya, maka dia tidak akan berani melakukan maksiat kepada-Nya. Al-Fudhail bin Iyadh berkata:

“Jika dosa terlihat kecil bagimu, maka dia akan semakin besar bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebaliknya, jika dosa terlihat besar bagimu, maka kecil bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala[7]

Dan barangsiapa yang mengagungkan Allah di dalam hatinya, sehingga tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengagungkannya di hadapan makhluk-Nya sehingga mereka tidak menghinakannya.

  1. Hilangnya kenikmatan ibadah
Baca Juga  KOKOH DITENGAH BADAI UJIAN (bag: 1)

Ibadah memiliki kenikmatan, yang jiwa akan merasa tenang dengannya dan hati merasa bahagia dengannya, dan dada menjadi lapang dengannya, kenikmatan yang menjadikan seseorang lupa dengan lelahnya ketaatan, bahkan menjadikannya lupa dengan rasa lapar dan haus. Abdullah bin Wahb berkata:

“segala sesuatu di dunia ini memiliki satu kenikmatan kemudian hilang, kecuali ibadah, sesungguhnya ibadah memiliki tiga kenikmatan, yaitu kenikmatan ketika sedang melakukannya, kenikmatan saat mengingat bahwa engkau telah melaksanakannya, dan kenikmatan ketika engkau diberikan balasannya.”

Ibnu Qoyyim berkata:

“Aku pernah mendengar Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah berkata, jika engkau tidak merasakan kenikmatan dan kelapangan dari suatu ibadah di dalam hatimu, maka curigalah, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Syukur, yaitu bahwa Dia pasti akan memberikan balasan bagi orang yang melakukan amalan kebaikan di dunia berupa kenikmatan yang dia dapatkan di dalam hatinya, kelapangan, dan penyejuk mata. Jika dia tidak mendapatkan hal tersebut, maka ada sesuatu di dalam amalannya.”[8]

Hilangnya kenikmatan ibadah dari seseorang disebabkan oleh buruknya maksiat, maka ibadahnya berubah menjadi rutinitas. Seseorang berkata kepada Wuhaib bin al-Wird:

“Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mendapatkan kenikmatan ibadah?, maka dia menjawab: “Bahkan orang yang baru baru berniat dan bertekad untuk melakukannya (tidak akan mendapatkan kenikmatan ibadah tersebut)”.”[9]

Kenikmatan maksiat pasti akan hilang, yang dibarengi dengan penyesalan dan kesedihan, dan sebagaimana dikatakan:

“lelahnya ketaatan akan hilang, namun pahalanya tetap tinggal, sedangkan kenikmatan maksiat akan hilang, namun hukumannya tetap tinggal.”

  1. Penguasaan orang lain terhadap pelaku maksiat

Di antara hukuman bagi pelaku maksiat adalah bahwa maksiat tersebut akan membuat orang lain lancang terhadap dirinya, baik keluarga, pembantu, anak-anak dan tetangganya, sampai hewan ternaknya. Sebagian salaf berkata:

Baca Juga  Aku Rela Menjual Mataku

“sesungguhnya saya bermaksiat kepada Allah, maka saya mengetahuinya dari perilaku istri dan hewan ternakku.”[10]

Diriwayatkan dari seorang salaf bahwa seseorang menghardik dan menghinanya (padahal dia tidak pernah menyakiti orang tersebut), maka ketika orang tersebut telah selesai, dia berkata: Ya Allah, ampunilah dosaku yang dengannya Engkau memberikan kuasa kepadanya atas diriku, maka benarlah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Artinya:

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu)”. (Asy-Syura/42:30)

Ibnu al-Qoyyim mengatakan:

“Tidaklah seorang hamba dikuasai oleh orang yang menyakitinya kecuali karena dosa, maka tidak ada hal yang lebih bermanfaat bagi seseorang jika disakiti atau dikuasai oleh musuhnya selain taubat nasuha, dan tanda kebahagiannya adalah dia mengembalikan pikiran dan pandangannya kepada diri, dosa dan aib-aibnya, kemudian dia menyibukkan diri dengannya, memperbaiki dan bertaubat darinya, tidak ada celah untuk merenungi apa yang terjadi kepadanya. Maka dia adalah orang yang paling bahagia, peristiwa yang paling berberkah dan pengaruh yang paling baik yang datang kepadanya.”[11]

Bersambung…

[1]Ibnu al-Qayyim, al-Fawaid, hal. 215.

[2]al-Baihaqi, Syuab al-Iman, Jilid 3, hal. 272.

[3]Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, Jilid 14, hal 152.

[4]Asbahani, Hilyatu al-Awliya, Jilid 9, hal. 258.

[5]Ibnu al-Jauzi, Sifat as-Safwah, Jilid 2, hal. 238.

[6]Rekaman Syarah Aqidah Ahli Sunnah wa al-Jamaah.

[7]Ibnu al-Qayyim, al-Fawaid, hal. 60.

[8]Ibnu al-Qayyim, Madarij al-Salikin, Jilid 2, hal. 51.

[9]al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, Jilid 5, hal. 477.

[10]Ibnu al-Qayyim, al-Jawab al-Kafi, hal. 54.

[11]Ibnu al-Qayyim, Badai al-Fawaid, Jilid 2, hal. 242.

Syahrul Bardin, S.H.

Mahasiswa S1, Universitas Islam Madinah, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?