Motivasi Islami

Nasehat Sebelum Melakukan Maksiat

NASEHAT SEBELUM MELAKUKAN MAKSIAT

Ada 5 nasihat sebelum melakukan maksiat dari salah seorang salaf yang hidup pada abad ke 7 hijriyah, beliau bernama Abu Ishaq, nama aslinya Ibrahim Ibn Adham rahimahullah, salah seorang ulama Ahlusunnah yang terkenal kezuhudannya, beliau berasal dari keluarga yang terpandang dan kaya raya. Imam Ahmad Rahimahullah pernah ditanya, “Bisakah orang yang memiliki ribuan dinar itu dikatakan zuhud”, beliau berkata, ”Bisa, yaitu ketika ia tidak tertipu dengan harta yang ia miliki dan tidak bersedih ketika diambil oleh Allah Subhanahu wata’ala”.

Orang miskin tidak dikatakan zuhud ketika tamak, oleh karenanya salah seorang salaf pernah melihat di siang hari pada bulan suci Ramadhan ada yang bekerja sebagai pemungut sampah dan dia tidak berpuasa dan beliau kemudian menangis, ketika ditanya beliau berkata. ”Orang yang paling celaka adalah orang yang celaka dunianya dan celaka juga akhiratnya”, sudah terhinakan di dunia dan juga tidak mengenal Rabbnya”. Biar kita miskin yang penting mengenal Allah dan rajin beribadah dan biar kaya yang penting taat. Karena ketakwaanlah yang menjadikan kita mulia di sisi Allah Subhanahu wata’ala.

Suatu ketika ada seorang pemuda yang datang kepada Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah, pemuda ini curhat, dan berkata:”Ya syaikh, Sesungguhnya jiwaku (nafsu amarah yang memerintahkan kepada keburukan_Penj) mendorongku untuk melakukan kemaksiatan, tolong berikan kepadaku nasihat, yang mudah-mudahan nasihat itu aku bisa menahan diri untuk terjatuh dalam kemaksiatan”. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata, ”Jika jiwa mengajak untuk bermaksiat kepada Allah maka silakan, tidak mengapa tetapi ada 5 syarat”. Pemuda ini kemudian berkata “coba sampaikan”.

1. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata, ”Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala lakukanlah di tempat yang engkau tidak dilihat oleh Allah”. Jangankan diri kita apa yang kita sembunyikan dalam hati kita diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Katakanlah:”Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali „Imran : 29).

Baca Juga  Pengorbanan Cinta Pemuda Pilihan

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (QS. Al An’am : 59).

Ibnu Abbas Rahimahullah mengatakan, ”Tidaklah ada daun yang jatuh melainkan ada malaikat ditugaskan menjaganya dia tahu kemana jatuhnya dan dibawa kemana oleh angin”.

Jika engkau bersendirian dalam gelapnya malam dan jiwamu mengajak engkau untuk bermaksiat dan malulah pada pandangan Allah dan katakana pada dirimu sesungguhnya yang menciptakan malam melihat apa yang aku lakukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya”. “Kami sudah malu duhai Rasulullah”, jawab para sahabat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bukan demikian namun yang dimaksud malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah menjaga kepala dan anggota badan yang terletak di kepala, menjaga perut dan anggota badan yang berhubungan dengan perut, mengingat kematian dan saat badan hancur dalam kubur. Siapa yang menginginkan akhirat harus meninggalkan kesenangan dunia. Siapa yang melakukan hal-hal tersebut maka dia telah merasa malu dengan Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi dll, dinilai hasan karena adanya riwayat-riwayat lain yang menguatkannya oleh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 935). Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit”. (QS. Ibrahim : 38).

Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata:”Jika demikian engkau tidak malu keapda Allah sedangkan Allah melihatmu”, Pemuda ini kemudian terdiam dan berkata:”Tambahkan nasihatmu kepadaku”.

Baca Juga   Bunda Terbaik dari Kaum Quraisy 

2. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah jika engkau bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala jangan engkau bermaksiat di buminya Allah, lelaki itu kemudian berkata:”Jika begitu kemana saya akan pergi, dimana semua yang ada dibumi ini dan yang ada dilangit adalah milik Allah Subhanahu wata’ala”.  Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata:”Jika demikian engkau tidak malu bermaksiat kepada Allah sedangkan engkau tinggal dibuminya Allah”. Rumah yang kita miliki merupakan pinjaman dari Allah Subhanahu wata’ala bahkan jiwa kita bukan milik kita, akan tetapi milik Allah, ketahuilah ketika kita bermaksiat kepada Allah berarti kita bermaksiat pada nikmat Allah Subhanahu wata’ala. Pemuda ini kemudian berkata:”Tambahkan nasihatmu kepadaku”

3. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah mengatakan:”Jika engkau hendak bermaksiat kepada Allah silakan tetapi jangan engkau makan rezeki yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadamu”.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. (QS. Hud : 6).

Semua rezeki kita telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya jangan takut banyak anak Karena setiap anak yang lahir rezekinya sudah ditentukan bahkan bertambah, oleh karenanya perkataan orang tua kita dahulu yang mengatakan banyak anak banyak rezeki itu benar. Pemuda ini kemudian berkata:”Bagaimana saya bisa hidup kalau begitu, dimana semua nikmat itu datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala”. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata:”Jika demikian apakah engkau tidak malu bermaksiat kepada Allah dialah Allah yang memberikan kepadamu makan, memberikan kepadamu minum dan yang menjaga rezekimu”. Pemuda ini kemudian mengatakan:”Coba tambahkan lagi nasihatmu kepadaku”.

4. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata:”Jika engkau bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala kemudian datang seorang malaikat maut hendak mencabut nyawamu bisakah engkau mengatakan mohon maaf saya belum mau mati”. Pemuda ini kemudian mengatakan:”Subhanallah saya tidak mampu mengatakannya”. Andaikan kematian itu bisa ditolak dengan kekayaan maka niscaya tidak akan ada orang kaya yang mati, andaikan malaikat maut itu bisa dijaga oleh para penjaga maka tidak ada pejabat dan penguasa yang mati. Salah seorang saleh ketika hilang jabatannya ia kemudian berkata:”Ya Allah jika engkau mencabut pangkat dan jabatan itu dariku jangan engkau mencabut dariku rahmat mu ya Allah“. Kemudian Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah berkata:”Subhanallah engkau mampu bermaksiat dan tidak mampu bersembunyi dari pandangan Allah, kemudian engkau tinggal dibuminya Allah, kemudian engkau mendapatkan rezeki  dari Allah, kemudian engkau tidak mampu menolak datangnya malaikat maut kemudian engkau hendak bermaksiat kepada Allah”. Akhirnya pemuda ini kemudian berkata:”Tolong sampaikan nasihat anda yang terakhir”.

Baca Juga  Ibunda Sang Ahli Ibadah dan Mujahid Sejati

5. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah kemudian berkata:”Silakan engkau bermaksiat tapi nanti di hari kiamat ketika malaikat hendak menyeretmu dan memasukkanmu kedalam neraka bisakah engkau mengatakan saya tidak mau masuk neraka saya mau masuk surga”. Akhirnya pemuda ini mengatakan:”Saya tidak mampu”. Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah mengatakan:”Subhanallah engkau tidak mampu bersembunyi dari pandangan Allah, engkau tinggal di buminya Allah, engkau makan rezekinya Allah, engkau tidak mampu menolak datangnya malaikat maut dan engkau tidak mampu menolak dirimu ketika diseret kedalam neraka, kemudian engkau hendak bermaksiat kepada Allah.?”. Akhirnya pemuda ini mengatakan:”Astagfirullah Al-‘adzhim”, dia beristighfar dan bertobat akhirnya ia kemudian tidak jadi melakukan kemaksiatan tersebut. Jadikan nasihat ini untuk kita semua, kita hanya diberi waktu yang singkat oleh Allah Azza Wa Jalla, jangan ada diantara kita yang rajin bermaksiat dan rezekinya lancar kemudian dia mengatakan:”Saya rajin bermaksiat dan rezekiku juga lancar, ini dinamakan dengan istidraj”, terkadang Allah membiarkan kedzaliman kepada orang yang berbuat dzalim namun jika Allah telah mengambilnya maka tidak akan ada yang menyelamatkannya, kita akan berjumpa kepada Allah Subhanahu wata’ala, semoga nasihat Ibrahim Ibn Adham Rahimahullah ini bisa kita jadikan pelajaran dan semakin membuat diri kita takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menjaga diri kita dari maksiat. Wallahu A’lam Bish Showaab.

Harman Tajang, Lc., M.H.I

Kandidat Doktor, Qassim Universtity, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?