Tatsqif

MENJAGA IDENTITAS ISLAM (I)

Identitas Islam Anugerah Allah Ta’ala

Identitas Islam dalam Bahasa Arab disebut “الهُوِيّة الإِسْلامِيَّة” (al-Huwiyyah al-Islamiyyah), berasal dari kata ganti ketiga “هُو” artinya “dia”, bermakna seseorang dengan ciri-ciri dan jati diri khusus. Bisa juga disbut “الهَوِيّة” (al-Hawiyyah) berasal dari kata “الهَوَى” artinya keinginan atau nafsu, bermakna bahwa identitas tersebut diinginkan oleh sebuah komunitas atau umat dan menarik mereka untuk bergabung di dalamnya.

Setiap masyarakat bergama di dunia pastilah berusaha memilih dan menampakkan identitas masing-masing, baik dangan ritual keagaman yang diterapkan sejak bayi lahir seperti baptis dalam agama nasrani, dalam ritual kenegaraan seperti saat pelantikan raja atau putra mahkota, ataupun ritual memberkati pasukan sebelum berangkat perang.

Allah Azza wajalla telah memuliakan masyarakat muslim dengan identitas unik nan istimewa, baik dari sisi referensi dasar ajarannya maupun dalam prinsip-prinsip dasar ideologi dan hukum syariatnya. Muslim manapun yang konsisten mengamalkannya akan bahagia di dunia dan akhirat. Firman Allah Azza wajalla:

{صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ} [البقرة: 138]

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (QS. Al-Baqarah: 138).

          Shibghah berarti celupan, kain yang dicelup dengan warna tertentu, warna tersebut akan selamanya melekat padanya dan membedakannya dengan kain yang dicelup dengan warna lainnya. Shibghah Allah di sini maksudnya adalah agama Islam, sehingga seorang muslim memiliki identitas khusus yang berbeda dengan pemeluk agama lainnya.

Jika seorang bayi lahir, maka pemeluk Nasrani akan menyelupkannya ke air yang mereka anggap suci, begitu pula seseorang yang ingin memeluk agama Nasrani, dia akan dibaptis. Tetapi, celupan dalam ritual tersebut adalah buatan manusia biasa, sedangkan kaum muslimin disucikan Allah dengan fitrah Islam, dengan ajaran Islam. Tentu shibghah Allah tidak pantas dibandingkan dengan buatan manusia.

Baca Juga  Kuantum Niat

Inilah nikmat terbesar bagi kaum muslimin, dan setiap orang yang diberi nikmat besar pasti ada saja pihak lain yang iri dan dengki kepadanya, sehingga si pendengki akan berusaha merusak nikmat tersebut supaya mereka sama-sama merugi.

          Firman Allah Ta’ala:

{وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ} [البقرة: 109]

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 109).

          Allah Ta’ala juga berfirman:

{وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ} [النساء: 89]

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. (QS. An-Nisa’: 89)

Urgensi Menjaga Identitas Islam

Menjaga identitas istimewa masyarakat muslim sangatlah penting, sebab masyarakat yang tidak memiliki identitas istimewa yang dapat dipegang teguh adalah masyarakat yang lemah, kehilangan arah dan terombang-ambing kadang ke Timur dan kadang ke Barat.

Seorang muslim sejati dituntut untuk berani mendaklarasikan keislamannya dan menampilkan identitas tersebut di hadapan dunia dengan karya-karya istimewa dan akhlak mulia. Bahkan ia dituntut untuk mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat dunia.

Allah Azza wajalla berfirman:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} [فصلت: 33]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk muslim (orang-orang yang menyerah diri)? (QS. Fusshilat: 33).

Baca Juga  Bunda Yang Puitis

          Seorang muslim yang ingin konsisten menjaga identitas keislamannya, sejatinya haruslah beregang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai benteng pertahanan menghadapi semua tantangan dan godaan, bahkan makar yang dapat membuatnya lepas kendali dan hilang haluan. Firman Allah Ta’ala:

{فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (43) وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ (44)} [الزخرف: 43، 44]

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab. (QS. Al-Zukhruf: 43-44).

          Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sangat penting, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -dalam wasiat yang menggetarkan hati- memerintahkan kita mempertahakannya dengan gigi geraham.

          Dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafa’ al-rasyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

          Bayangkanlah betapa teguhnya para sahabat yang hijrah ke Habasyah (ethopia) berpegang pada identitas keislamannya, walau tinggal lama di negeri Nasrani bahkan ada yang sampai sekitar 14 tahun, mereka tidak terpengaruh dengan ideologi, kebiasaan dan budaya penduduk di sana. Ketika kembali ke Madinah, sebagian mereka menceritakan tentang fenomena yang mereka lihat, bahwa gereja-gereja di sana dihiasi dengan patung-patung manusia. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika orang shalih dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Generasi Terbaik Dalam Sejarah Manusia

          Tentu masih banyak lagi kisah-kisah teladan para sahabat dan salaf umat ini dalam menjaga agama dan identitas keislaman mereka, yang layak untuk kita teladani di masa yang penuh fatamorgana ini.

Abu Zulfa, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?