Menjadi Mukmin yang Kuat (2)

160

B. Ibadah Khafiyyah Sumber Kekuatan dan Kebahagiaan.

Ibadah atau amal baik yang dirahasiakan dari orang lain dikenal dengan ibadah khafiyyah atau sirriyyah. Seorang muslim yang telaten merahasiakan ibadah dan amal baik yang ia lakukan memiliki nilai plus dibandingkan muslim yang merasa cukup dengan ibadah ‘alaniyah (nyata) yang biasa disaksikan oleh orang lain.

Di tengah masyarakat, seorang muslim yang terlihat aktif menjalankan kewajiban agama biasanya dihargai dan dipuji. Istiqamah dalam melaksanakan ibadah-ibadah tersebut adalah anugerah dari Allah yang layak disyukuri. Tetapi, inti dari amal manusia adalah ibadah hati serta ibadah yang ia rahasiakan atau sembunyikan dari orang lain, meskipun istrinya sendiri.

Dalam suatu hadis disebutkan, “Siapa di antara kalian mampu untuk memiliki amal saleh yang dirahasiakan, maka hendaklah ia melakukannya.”(1)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang taqiy (bertakwa), ganiy (kaya hatinya, rida dengan pemberian Allah), dan khafiy (merahasiakan ibadah dan amal baiknya).” (2)

Ibnu Dawud al-Khuraibiy berkata, “Adalah mereka (ulama salaf) menganjurkan agar seseorang memiliki amal saleh yang disembunyikan, yang tidak diketahui oleh istrinya tidak pula selainnya.” (3)

Syekh Abdul Aziz al-Tharifiy berkata, “Ibadah tersembunyi dan meninggalkan maksiat tersembunyi adalah faktor utama diampuninya dosa-dosa kecil, dan dilipatgandakannya pahala kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia”. (QS. Yasin: 11).

Keutamaan Dan Urgensi Ibadah Khafiyyah

1. Tanda iman yang benar.
Tidaklah gemar merahasiakan ibadah dan amal saleh melainkan seseorang yang yakin bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui segala tindak-tanduknya, juga apa saja yang ia tampakkan dan sembunyikan. Ia terus konsisten dalam kondisi ini, hingga mencapai derajat Ihsan, yakni beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah melihatnya baik di tengah keramaian, maupun saat sendirian di tengah malam gelap gulita.

2. Tegar dalam ujian dan cobaan.
Ibadah khafiyyah adalah faktor terpenting dalam mendukung ketegaran dan kesabaran seseorang menghadapi berbagai fitnah, ujian dan cobaan. Modal terkuat dalam melawan hawa nafsu dan berbagai godaan.

Syekh Abdul Aziz al-Tharifiy hafidzhahullah berkata, “Semakin maksimal usahamu merahasiakan ketaatan semakin teguh pula konsistensimu, laksana pasak yang tegak, semakin dalam ditanam semakin kukuh berdirinya, pasak yang besar namun dangkal akan mudah dicabut, sementara pasak yang kecil namun dalam terhunjam akan sulit dicabut. Rahasia kekuatannya terletak pada bagian yang tersembunyi.” (4)

3. Menjauhkan diri dari sifat munafik.
Orang yang beribadah dan beramal agar dilihat oleh manusia hingga mendapat sanjungan dan pujian mereka berbeda jauh dengan mukmin yang beramal karena mengharap rida Allah semata. Orang yang sering mengeluhkan adanya penyakit riya, biasanya disebabkan ibadah khafiyyah dirinya minim atau tidak ada sama sekali.

Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam kitabnya Tarikh Dimasyq, bahwa seseorang datang kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Aba Abdillah! Sesungguhnya aku khawatir termasuk orang munafik.” Maka beliau bertanya kepada lelaki tersebut, “Apakah engkau salat jika sendirian, dan beristigfar ketika berdosa?” Ia menjawab, “Ya”. Kemudian beliau berkata, “Pergilah, Allah tidak menjadikanmu seorang munafik.” (5)

Artinya, suka menyembunyikan ibadah dan amalan saleh bukanlah kebiasaan orang munafik, sebaliknya seorang munafik gemar memamerkan setiap amalan yang ia lakukan. Seorang munafik juga tidak pernah khawatir dan takut terjerumus kepada kemunafikan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142).

4. Lebih utama dan lebih besar pahalanya.
Ibadah dan amal saleh yang disembunyikan lebih utama dan lebih banyak pahalanya dibanding ibadah atau amal saleh yang diperlihatkan. Terkecuali ibadah yang memang diperintahkan untuk dilaksankan secara berjamaah seperti salat lima waktu bagi pria, salat tarawih, istisqa, ibadah haji, dll.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya salat yang lebih utama adalah salat seseorang yang dilaksanakan di rumahnya, kecuali salat fardu.”(6)

Di dalam bersedekah, sedekah yang disembunyikan lebih utama daripada yang ditampakkan kepada orang lain. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. AlBaqarah: 271).

5. Mendapat naungan Allah di hari kiamat.
Seseorang yang berusaha menyembunyikan sedekahnya semaksimal mungkin akan termasuk salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat kelak. Begitu juga orang yang menyendiri untuk beribadah kepada Allah, ia mengingat Allah hingga air matanya berlinang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya. Yaitu: …, seorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah dalam kesendirian sehingga kedua air matanya berlinang.” (7)

Ia tidak hanya bersedekah, tetapi berusaha menyembunyikan sedekahnya. Ia tidak sekadar menangis mengingat Allah, tetapi itu terjadi saat ia menyendiri. Sebab seseorang yang berada di tengah jamaah yang sedang terharu atau sedih biasanya lebih mudah terpengaruh, sehingga ikut menangis, sedangkan jika sedang sendiri dan ia menangisi dosa dan kesalahannya, maka biasanya air matanya keluar karena ikhlas dan tulus.

6. Bekal penyelamat dalam kesulitan.
Ketika seseorang menghadapi cobaan atau ujian berat, sedang tak ada satu pun manusia yang bisa menolongnya, maka jika sebelumnya ia memiliki amal saleh yang disembunyikan, maka amal tersebut bisa ia jadikan senjata untuk berdoa mengharap rahmat dan pertolongan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan kisah tiga orang yang terkurung dalam goa. Masing-masing mereka kemudian berdoa kepada Allah dengan amal saleh yang dulu pernah ia lakukan. Ketiganya berkata, “Ya Allah, jika aku mengerjakannya dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu”, ini menunjukkan bahwa mereka beramal dengan ikhlas dan selama ini berusaha merahasiakan amal-amal saleh tersebut dari orang lain, sehingga tiada orang yang tahu selain mereka yang terlibat langsung dalam kisahnya. (8)

7. Disenangi dan dicintai oleh manusia.
Sungguh ajaib, sebagian orang mati-matian memoles diri dengan penampilan; menampakkan perangai yang baik, aktif dalam ibadah, amal saleh dan amal sosial, ia berharap orang-orang mencintai, mengapresiasi dan menghormatinya. Tetapi yang ia dapatkan justru sebaliknya. Sebaliknya, tidak jarang ada sosok yang dalam kegiatan amal ibadah dan baktinya di depan publik terkesan biasa-biasa saja, tetapi mayoritas orang mencintainya, menghormati dan memuliakannya.

Orang yang pertama tidak meraih apa yang ia kejar, karena manusia tau bahwa semuanya ia lakukan hanya demi pencitraan. Andai pun ada yang memuliakan, memuji, dan menyanjungnya, biasanya mereka adalah orang-orang yang punya kepentingan dan mencari maslahat pribadi.

Sedangkan sosok kedua, dialah yang memiliki amal saleh yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, sehingga ketika melakukan amal saleh di depan publik ia juga mengerjakannya dengan ikhlas, tidak mengharap pamrih dari manusia. Balasannya Allah meridainya dan mencintainya, kemudian menjadikan segenap manusia mencintai dan memuliakannya.

‘Aun bin Abdillah rahimahullah berkata, “Orang-orang baik (sahabat Rasulullah) senantiasa saling mewasiatkan dan mengingatkan dengan tulisan maupun saat bersua akan tiga perkara berikut; siapa yang beramal untuk akhiratnya maka Allah akan mencukupi urusan dunianya, siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia, dan siapa yang memperbaiki sarirah (amal tersembunyi)nya maka Allah akan memperbaiki ‘alaniah(amal nyata)nya.” (9)

Ibnu al-Jauziy berkata, “Demi Allah, sungguh aku pernah melihat orang yang banyak salat, puasa, dan diam, ia memperlihatkan kekhusyukan diri dan penampilannya, tetapi hati manusia menjauh dan nilai dirinya tidaklah seberapa. Aku juga melihat seorang yang mengenakan pakaian bagus, ia tidak memiliki begitu banyak amalan sunnah, tidak pula terlihat terlalu khusyuk, tetapi hati manusia tertarik kepadanya. Aku pun merenunginya, kemudian kutemukan bahwa rahasianya dalah amalan yang tersembunyi (dari kedunya).” (10)

8. Husnul-Khatimah.
Terkadang kita mendengar atau menyaksikan seorang yang terkenal alim dan saleh, tetapi saat meninggal ternyata ia su’u-khatimah. Sebaliknya ada orang yang kelihatan amal saleh dan ibadahnya biasa saja, bahkan sebagian orang mencela amal perbuatannya, tetapi ketika wafat Allah mengarunainya husnul-khatimah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar mengamalkan amalan ahli Surga menurut yang tampak bagi manusia padahal ia termasuk ahli Neraka, dan seseorang mengamalkan amalan ahli Neraka menurut apa yang tampak bagi manusia, padahal dia termasuk ahli Surga.” (11)

Ibnu Rajab berkata, “Sabda Rasulullah ‘menurut yang tampak bagi manusia’ menunjukkan bahwa yang tersembunyi darinya justru sebaliknya, dan bahwa su’ul-khatimah disebabkan keburukan tersembunyi yang tidak dilihat oleh orang banyak, kebiasaan buruk tersebut menyebabkan ia termasuk penghuni neraka. Sebaliknya seseorang kelihatan melakukan perbuatan para penghuni neraka, namun dalam kesendiriannya ada amalan saleh yang ia lakukan, di akhir hayatnya amal saleh tersebut mengalahkan amal lainnya, hingga ia husnul-khatimah.” (12)

PENUTUP
Marilah setiap kita memilih sebuah amalan untuk dirahasiakan dari segenap manusia, baik berupa salat sunnah, puasa, sedekah, zikir, atau perbuatan baik kepada orang lain. Hendaklah kita juga membiasakan menyembunyikan amal saleh dan setiap kebaikan yang kita lakukan, tanpa menceritakannya kepada siapa pun, tidak pula mengeksposnya di media sosial.

Hindari kebiasaan selfie pada setiap momen ibadah atau amal saleh. Jangan pula menceritakan keburukan atau maksiat yang pernah kita lakukan, rahasiakanlah dan mohonlah ampunan dan rahmat dari Allah Yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita hamba-Nya yang bertakwa, rida dengan karunia-Nya, dan senatiasa menyembunyikan amal baik yang mampu kita amalkan. Wallahu A’lam

1. HR. Ibnu Abi Syaibah, dalam al-Mushannaf, no. 34625. Ed: Hadis ini daif, dan yang sahih ini merupakan ucapan Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu.
2. HR. Muslim, no. 2965.
3. Tahdzib al-Kamal, karya al-Mizzy: 14/464.
4. https://twitter.com/abdulaziztarefe/status/396216315033440256?lang=ar
5. Tarikh Dimasyq: 61/251.
6. HR. Bukhari,no. 731.
7. HR. Bukhari, no. 660, Muslim, no. 1031.
8. Silahkan lihat kisah ini di Shahih Bukhari, hadits no. 2272 & 2333, Shahih Muslim, no. 2743.
9. Al-Zuhd, karya Waki’ bin al-Jarrah, h. 848, no. 525.
10. Shaid al-Khathir, h. 220.
11. HR. Bukhari, no. 2898, Muslim, no. 112.
12. Jami’ al-Ulum wa al-Hikam: 1/173, diterjemahkan secara ringkas.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.