Khutbah Jumat: Mengagungkan Al-Qur’an

248

Kaum muslimin, jamaah shalat jumat yang dirahmati oleh Allah.

Sesungguhnya mengimani Al-Qur’an merupakan bagian dari rukun Iman, tidak lengkap keimanan seorang hamba kecuali jika telah beriman kepada seluruh kitab suci yang Allah turunkan, di antaranya adalah Al-Qur’an.
Allah berfirman:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”. (QS Al-Baqarah: 285).

Kaum muslimin, jamaah shalat jumat yang dirahmati oleh Allah.

Al-Quran adalah mukjizat pamungkas bagi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keabadiannya adalah suatu keniscayaan, keistimewaannya tidak terbantahkan, di antara keistemewaan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Al-Quran adalah kalamullah.

Telah sepakat para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah bahwa Al-Quran merupakan kalamullah [firman Allah], Allah berbicara dengan ayat-ayat Al-Quran kepada Jibril secara hakiki, kemudian Jibril mewahyukannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya mendengar kalamullah [firman Allah].” [QS. At-Taubah: 6].

  • Al-Quran menghapus semua kitab suci yang sebelumnya.

Islam adalah mata rantai terakhir dari agama para Nabi dan Rasul yang menghapus seluruh agama-agama sebelumnya, yang kemudian menjadi agama satu-satunya yang diridhai dan terima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Allah berfirman:

“Dan barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali Imran: 85].

Maka demikian pula dengan Al-Quran, ia adalah kitab yang menghapus kitab-kitab suci yang sebelumnya, seperti: Injil, Taurat, Zabur, dan lainnya, sehingga Al-Quran menjadi satunya-satunya rujukan manusia untuk mencari hidayah dan keselamatan.

Allah berfirman:
“Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya, dan menjadi muhaimin [penjaga/ukuran/saksi] bagi kebenaran kitab-kitab yang sebelumnya.” [QS. Al-Maidah: 48].

Dan ketika Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu membaca lembaran-lembaran
Taurat, Rasulullah menegurnya dengan mengatakan:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Artinya: “Demi Allah, Seandainya saudaraku (Nabi) Musa masih hidup, maka niscaya akan mengikuti saya”. (HR Ahmad, dan dinyatakan hasan Oleh Syaikh Albani dalam Irwaul Ghalil 6/34).

  • Al-Quran terjaga keotentikannya.

Umat-umat yang telah lalu memiliki kitab suci juga, namun kitab suci mereka telah terselewengkan, terselipkan ucapan-ucapan para pemuka agama dan para pendeta mereka, sehingga kitab-kitab tersebut tidak sakral [suci] lagi dan bukan merupakan wahyu ilahi yang murni lagi. Hanya Al-Quran yang terjaga dari hal tersebut dengan jaminan Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al-Hijr: 9].

Kaum muslimin, jamaah shalat jumat yang dirahmati oleh Allah.

Sesungguhnya manusia dalam menjalani kehidupan membutuhkan pedoman dan rambu agar bisa menikmati kehidupan dengan penuh ketentraman dan kebahagiaan, maka diutuslah para Nabi dan Rasul, dan diturunkanlah Al-Quran agar menjadi sumber hidayah dan petunjuk bagi manusia serta menjadi way of live [jalan hidup] bagi mereka, dan barang siapa mencari petunjuk selain dari Al-Quran, maka dia akan tersesat, Allah berfirman:

“Kitab [ al-Quran] ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqarah: 2].

Al-Quran merupakan cahaya yang dapat menjadi suluh bagi hati, sehingga tidak tersesat dalam kegelapan, menjadikan hati mengenal Penciptanya, mengetahui syariat- Nya dan mengilmui yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh-Nya, Allah berfirman:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا

Artinya: “Maka berimanlah kepada Allah, Rasulnya, dan cahaya [ al-Quran] yang kami turunkan.” [QS. At-Taghabun: 8].

Al-Quran juga merupakan obat bagi penyakit yang menimpa manusia, dan penyakit terbagi menjadi dua;

Pertama: penyakit jasmani, berupa penyakit-penyakit yang terdapat pada badan manusia, seperti liver, darah tinggi, malaria, sakit jantung dll, dan kebanyakan obatnya dihasilkan dari penelitian-penelitian kedokteran, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat diobati dengan bacaan ayat Al-Quran, yang biasanya disebut dengan ruqyah syar’iyah.

Kedua: penyakit rohani, yaitu penyakit yang menjangkiti hati manusia sehingga menghilangkan keimanannya atau melemahkannya, seperti: penyakit syirik, penyakit cinta dunia, sombong, riya’ dll. Penyakit-penyakit ini apabila diremehkan dan dibiarkan, maka akan berakibat pada matinya hati, dan obat yang paling mujarab bagi penyakit-penyakit ini ada di dalam Al-Quran, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” [QS. Yunus: 57].

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wata’ala. Setiap muslim memiliki kewajiban, dan salah satu kewajiban yang teragung adalah mengagungkan Al-Quran. Di antara fenomena yang tidak bisa dipungkiri pada zaman ini, ialah fenomena jauhnya kaum muslimin dari Al-Quran. Bahkan masih banyak di antara kaum muslimin yang belum mampu membaca Al-Quran, dan hal ini merupakan fenomena yang menyedihkan dan menyesakkan dada, padahal Al-Quran menduduki posisi yang mulia di dalam agama Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengeluhkan hal ini sebagaimana dalam ayat:

“Dan Rasul pun berkata: Ya Allah, sesungguhnya kaumku mengacuhkan al-Quran.” [QS. Al-Furqan: 30].

Dan di antara bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an adalah:

  • Iman Kepada Al-Quran.

Ini adalah induk kewajiban dan salah satu rukun iman bagi seorang muslim. Iman kepada Al-Quran berarti meyakini kebenarannya, dan mempercayai bahwa Al-Quran diucapkan oleh Allah kemudian diwahyukan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, serta mengimani keabadian ajarannya, Allah berfirman:

Yang Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Allah, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan Rasul-RasulNya”. (QS Al-Baqarah: 285).

  • Membaca Al-Quran.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Al-Quran berfungsi sebagai hidayah bagi manusia dan menjadi pedoman serta rambu-rambu bagi mereka, maka berinteraksi dengan Al-Quran dan sering membacanya merupakan kunci utama untuk memperoleh hidayah dan untuk mengetahui pedoman hidup yang harus dijalani.

Membaca Al-Quran merupakan salah satu cermin keimanan kita kepadanya dan salah satu tanda kecintaan kita kepada Allah, karena Al-Quran adalah kalamullah [firman Allah], maka kecintaan kita kepada Allah tercermin pada intensitas interaksi kita dengan Al-Quran. Bukankah seseorang apabila menyukai seorang penyanyi akan membuatnya sering mendendangkan lagunya?

Di samping keutamaan di atas, seorang muslim yang membaca Al-Quran akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang banyak, di antaranya:

o Mendapatkan pahala membaca Al-Quran pada setiap hurufnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْف

Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari al-Quran, maka baginya satu pahala kebaikan, dan pahala [tersebut] dilipat gandakan sepuluh kali lipat, saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf.” [HR. Tirmidzi, shahih].

o Al-Quran memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِه

Artinya: “Bacalah al-Quran, sesungguhnya [al-Quran] datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” [HR. Muslim].

o Pembaca Al-Quran akan dikelilingi oleh malaikat.

Rasulullah bersabda:

الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَؤُهُ وَهُوَ يَشْتَدُّعَلَيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ

Artinya: “Barang siapa yang mahir membaca al-Quran maka bersama malaikat yang mulia, dan barang siapa yang kesulitan [tidak mahir] membaca al-Quran maka baginya dua pahala.” [HR. Abu Dawud, shahih].

o Pembaca Al-Quran bagai buah utrujjah (sejenis jeruk besar).
Rasulullah bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ

Artinya: “Perumpamaan mukmin yang membaca al-Quran bagaikan buah utrujjah, wangi baunya dan enak rasanya, sedangkan seorang mukmin yang tidak membaca al-Quran bagaikan buah kurma, tidak memiliki bau, namun enak rasanya.” [HR. Bukhar dan Muslim].

Inilah keutamaan-keutamaan membaca Al-Quran, dan masih ada keutamaan- keutamaan lain yang tidak kami sebutkan dalam artikel ini, khususnya terkait keutamaan membaca surat dan ayat tertentu, maka selayaknya bagi kaum muslimin untuk terlecut dengan keutamaan-keutamaan ini, dan menyediakan waktu untuk banyak membaca Al-Quran.

  • Mengamalkan Al-Qur’an

Al-Quran diturunkan untuk diamalkan dan dipraktekkan, Fudhail bin Iyadh mengatakan:

إِنَّمَا نَزَلَ الْقُرْآنُ لِيُعْمَلَ بِهِ، فَاتَّخَذَ النَّاسُ قِرَاءَتَهُ عَمْلاً ، أَي لِيُحِلُّوا حَلالَهُ ، وَيُحَرِّمُوا حَرَامَهُ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Quran diturunkan untuk diamalkan, maka manusia menjadikan bacaannya terhadap Al-Quran sebagai amalan, atau untuk laksanakan yang dihalalkan, dan dijauhi yang diharamkan”. (HR Al-Ajurry dalam Akhlaq Hamalatul Quran, hal: 41).

Dan inilahyang merupakan salah satu puncak dari pengagungan terhadap Al-Quran, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah representasi dari Al-Quran itu sendiri, Aisyah mengatakan:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Artinya: “Sesungguhnya Akhlaq Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Al-Quran”. (HR Ahmad).

Leave A Reply

Your email address will not be published.