Akhlak

MENELADANI NABI ADAM PERIHAL TAUBAT DAN PENGAKUAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Keduanya (nabi Adam dan istrinya) berkata: Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-A’raf: 23).

Tahukah kita, sesungguhnya yang paling memuliakan Nabi Adam Alaihissalam bukanlah penciptaannya, bukan pula kedudukan dan kemuliaannya di depan para malaikat. Akan tetapi, sesungguhnya yang paling memuliakan beliau di sisi Allah adalah pengakuan dosa dan kejujuran beliau dalam bertaubat.

 Perhatikanlah kalimat doa di atas. Doa tersebut merupakan doa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan langsung kepada nabi Adam alaihissalam  dan istrinya ketika beliau diturunkan ke bumi disebabkan karena memakan buah terlarang itu. Sebagaimana diketahui, bahwa apa yang dilakukan bapak kita nabi Adam ketika itu adalah sebuah kesalahan. Namun ketika Allah subhanahu wa ta’ala melihat ketulusan hati beliau dalam bertaubat dan menyesali perbuatan tersebut dengan penyesalan yang begitu mendalam, Allah pun menyambut, membimbing, dan mengangkat  derajat beliau di dunia dan di akhirat.

Berbeda halnya dengan Iblis, ketika ia tak mau tunduk pada perintah Allah dengan bersujud di hadapan nabi Adam, ia sama sekali tak menyesali kesalahannya. Justru dengan kesalahan itu ia semakin sombong dan berbangga diri, maka Allah pun murka dan melaknatnya. Maka  ia pun menjadi makhluk terlaknat selama-lamanya.

Saudaraku, bukan perkara banyaknya dosa yang menjadi persoalan, sebab tidak ada diantara kita yang terlepas dari kesalahan. Namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita ketika terjatuh pada dosa tersebut? Apakah kita berlarut-larut di dalamnya? Ataukah kita langsung tersadar dan teringat bahwa Allah maha mengetahui setiap hal dan akhirnya membawa kita kembali kepada-Nya?

Baca Juga  Tiga Ciri Akhlak yang Mulia

Saudaraku, berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah merupakan satu dosa tersendiri. Maka jangan biarkan setan mempermainkan kita dengan membisikkan rasa itu di dalam diri ketika terjatuh pada kubangan dosa, yang mana dengannya membuat kita semakin jauh dari Allah. Bangkit dan tunjukkanlah penyesalan dan pengakuan dosa itu di hadapan Allah, sebagaimana bapak kita Adam alaihissalam. Sesungguhnya Allah sangat bergembira dengan taubat seorang hamba yang kembali kepada-Nya. Pintu taubat akan selalu terbuka hingga nyawa dikerongkongan. Ia akan selalu terbuka meskipun kita jatuh bangun dalam meraihnya.

Pengakuan dosa dan penyesalan merupakan hal terindah yang akan membuka pintu hati seorang hamba untuk lebih mendekat dan merasakan nikmatnya bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Olehnya, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu meminta nasihat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengatakan: ”Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku sebuah doa yang dapat aku baca di dalam salatku?”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun mewasiatkan: ”Ucapkanlah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisimu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah hadis di atas wahai saudaraku..

Lihatlah yang meminta nasihat dan juga yang memberikan nasihat?; Yang meminta adalah seorang yang telah dijamin masuk surga dari setiap pintunya, dan yang memberikan nasihat adalah orang yang paling mulia dan jujur dalam bernasihat. Namun nasihat kepada sahabatnya yang paling mulia tersebut, tetaplah memintanya agar memperbanyak memohon ampunan di dalam salat dan mengakui kesalahannya. ( Lihat buku ”Qawaid Qur’aniyah” hal. 255)

Subhanallah, jikalau mereka orang-orang mulia ini diminta untuk banyak meminta ampun dan mengakui kesalahan di hadapan Tuhan-Nya, maka bagaimana lagi dengan kita yang belum ada jaminan apapun, ditambah tumpukan dosa kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah mencurahkan ampunannya kepada kita semua dan menutupi segala aib dan kesalahan kita.

Barangsiapa yang dosanya membuat ia menyesal dan kembali kepada Allah, maka sungguh ia beruntung karena telah mengikuti apa yang dicontohkan bapaknya Adam alaisissalam. Namun barangsiapa yang dosanya justru membuat ia semakin angkuh dan jauh dari Allah, maka sungguh ia telah mengikuti rekam jejak dari Iblis Laknatullah.

Hasbi Halid, Lc

Kandidiat Magister, Qassim University, Arab Saudi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?