Akhlak

Malu: Sifat Para Nabi dan Rasul

              Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang memberikan perhatian besar terhadap akhlak para penganutnya. Bahkan, Islam menjadikan akhlak baik sebagai salah satu sebab seseorang mendapatkan kedudukan yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di akhirat kelak. Beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

“Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya paling dekat denganku pada hari Kiamat ialah orang yang paling bagus akhlaknya. (HR. Tirmizi: 1941).

              Di antara akhlak mulia yang memiliki kedudukan khusus dalam Islam adalah sifat malu. Selain ia adalah salah satu sifat utama para nabi dan rasul, ia juga memiliki banyak keutamaan baik dalam Al-Quran maupun hadis-hadis Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam. Dengan sifat ini seseorang mampu menjaga diri dari segala hal yang dilarang. Sebaliknya, tanpanya seseorang akan melakukan segala hal yang diinginkan hawa nafsunya, bahkan maksiat dan dosa sekalipun! Sebab itu, dalam sebuah hadisnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara tersirat mencela siapa saja yang tidak memiliki sifat malu ini. Beliau bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ، إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara perkara yang didapatkan manusia dari perkataan para nabi adalah; jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu. (HR. Bukhari: 3224).

Oleh sebab itu, sifat ini merupakan salah satu nikmat yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya terpilih dan tidak semua orang memilikinya. Di dalam Al-Quran, ketika Nabi Adam dan istrinya, Hawa memakan buah pohon yang Allah larang, aurat keduanya tersingkap maka secara spontan keduanya langsung menutupnya. Allah mengisahkan ini dalam firman-Nya,

Baca Juga  Syukur dan Keutamaannya (1)

فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ

“Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga.” (QS. Al-A’raf: 22)

Ayat ini menunjukkan bahwa sifat malu merupakan fitrah manusia dan bahwa pada hakikatnya orang yang tidak memiliki sifat malu telah menyelisihi fitrahnya sendiri.

              Nabi Musa ­‘alaihissalam merupakan sosok nabi yang terkenal dengan sifat malunya. Sampai-sampai beliau tidak hanya malu jika auratnya tersingkap, melainkan beliau juga malu jika sebagian dari badannya tersingkap dan terlihat orang lain walaupun ia bukan bagian dari aurat. Hal inilah yang menjadikan kaumnya menyindir beliau dan mengatakan bahwa sesungguhnya pada diri Musa ada sebuah aib yang tidak ingin dilihat. Hal ini kemudian disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam konteks membersihkan tuduhan keji tersebut. Dia berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اٰذَوْا مُوْسٰى فَبَرَّاَهُ اللّٰهُ مِمَّا قَالُوْا ۗوَكَانَ عِنْدَ اللّٰهِ وَجِيْهًا ۗ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang (dari Bani Israil) yang menyakiti Musa, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 69).

              Adapun nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliaulah penghulu seluruh manusia yang bersifat pemalu ini. Bahkan, sifat malu beliau melebihi sifat malu seorang wanita yang dipingit. Abu Sa’id al-Khudriy radiallahu ‘anhu mengisahkan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang lebih pemalu dari seorang wanita yang dipingit di dalam kamarnya. (HR. Bukhari: 3298).

Baca Juga  Tunaikanlah amanahmu!

Sifat malu beliau tidak hanya tampak dari perbuatan yang beliau contohkan langsung. Akan tetapi, beliau pun menegaskan langsung melalui perkataannya bahwa sifat malu tidaklah menyebabkan pada seseorang kecuali kebaikan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imran bin Hushain radiallahu ‘anhu, beliau bersabda,

الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Sifat malu itu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. (HR. Bukhari: 5652)

Dalam hadis ini jelas bahwa sifat malu adalah sumber kebaikan karena tidaklah seseorang memiliki sifat malu kecuali ia akan mudah menerima kebenaran. Malu yang paling tinggi adalah malu kepada Allah, yaitu malu dari bermaksiat terhadap-Nya karena Dialah yang menciptakannya dan melihat serta mengetahui segala gerak-geriknya yang tampak maupun tidak.

Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah mengabarkan bahwa malu adalah bagian dari iman. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman. (HR. Bukhari: 8).

              Semoga Allah subhanahu wata’ala menganugerahi kita semua sifat mulia ini sehingga dapat dikumpulkan bersama para nabi,para siddiq,dan para syuhada. Wallahu a’lam.

Darul Idam, Lc., M.A.

Alumni Majister Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?