Tarbawi

Makna Ketakwaan Pasca Ramadhan

Hari Raya Idul Fitri merupakan hari agung yang dirayakan umat Islam pasca Ramadan. Tentunya hati kita bergembira, senang, dan bahagia. Ini menjadi gambaran fitrah dan naluri orang-orang bertakwa yang telah melewati perjuangan dan pengorbanan di bulan Ramadan, dengan menahan rasa lapar dan dahaga, melawan hawa nafsu serta syahwat dan melakukan salat, puasa, zikir, doa, sedekah, dan berbagai amal saleh lainnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat ganjaran dari Allah Ta’ala pada bulan Ramadan ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan keimanan dan berharap pahala (kepada Allah ‘azza wa jalla), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadis lain disebutkan:

مَنْ صامَ رَمَضَانَ وقامه إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa dan menunaikan qiyamullail dalam Ramadan karena iman dan mengharap pahala (kepada Allah ‘azza wa jalla), maka akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari dilahirkan oleh ibunya. (HR. Ibnu Majah: 1328).

Sebelum menunaikan Salat Id, umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa, serta budak maupun merdeka,  mesti membayar zakat fitrah. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى  وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang mensucikan diri, dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS. Al-A’la: 14-15).

Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu menafsirkan bahwa mereka yang beruntung ini adalah orang-orang yang menunaikan zakat fitrah lalu melakukan Salat Idul Fitri. Sungguh sangat beruntung orang beriman yang telah melakukan amalan tersebut.

Baca Juga  Risalah Da'i

Di sisi lain, kita juga patut bersedih karena bulan Ramadan tahun ini telah meninggalkan kita dan tak akan kembali lagi. Bulan penuh rahmat, berkah, ampunan yang mungkin tidak kita dapatkan di bulan lainnya. Kita juga perlu khawatir apabila amal saleh yang kita lakukan tidak diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Bahkan, kita juga sedih apabila kita tidak berjumpa lagi di bulan Ramadan berikutnya.

Berlalunya bulan suci Ramadan bukan berarti kita selesai beribadah dan berhenti dari aktivitas amal saleh. Justru indikasi kita memperoleh predikat takwa adalah jika setelah Ramadan kita tetap semangat dan konsisten melakukan amal saleh.

Banyak kaum muslimin pada zaman ini, setelah Ramadan ia bermalas-malasan dan berhenti dari ibadah-ibadah yang ia lakukan di bulan suci Ramadan. Kita berharap semoga kita bukanlah termasuk orang-orang yang seperti itu; karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Artinya: “Sembahlah Tuhanmu sampai kematian menemuimu”. (QS. Al-Hijr: 99)

Diksi ayat di atas adalah kita beribadah sampai kematian menjemput. Bukan sembahlah Tuhanmu sampai bertemu di bulan Syawal. Oleh karena itu, ada perkataan salaf yang menyebutkan: “Jadilah hamba Allah rabbani yang beribadah di mana pun dan kapan pun. Sebaliknya, janganlah jadi hamba Allah ramadani yang hanya beribadah di bulan suci Ramadan.”

Merupakan sifat munafik adalah ketika hanya beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla  pada waktu dan tempat-tempat tertentu. Seorang salaf berkata, “Nikmat Allah ‘azza wa jalla yang paling agung adalah keistikamahan dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Ini merupakan nikmat sangat agung dan mulia bagi orang mukmin. Dengan istikamah, ia bisa meraih husnulkhatimah dan surga Allah ‘azza wa jalla.

Makna ketakwaan pasca Ramadan adalah wujudnya komitmen dan konsistensi dalam amal saleh. Dengan bimbingan dan didikan Ramadan kepada kita, kita diharapkan bisa beradaptasi dan mudah melakukan ibadah pasca Ramadan. Allah berfirman dalam surat Al-Fatihah ayat 5 yang kita baca 17 kali dalam salat 5 waktu kita:

Baca Juga  Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Artinya: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus”.

Makna jalan lurus ini ialah hidayah taufik yang intinya adalah agar kita  diberikan keteguhan dan konsistensi dalam iman dan takwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Saifurrahman

Mahasiswa S1, Jurusan Dirasat Islamiyah, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?