Khutbah Jumat: Urgensi Ilmu Syari

245

Kaum muslimin, jamaah shalat jum’at yang di rahmati oleh Allah.

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menciptakan jin dan manusia, meninggikan langit dan menghamparkan bumi dengan tujuan untuk mewujudkan peribadatan kepadaNYA secara murni, Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ۞ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu, Aku tidak menginginkan dari mereka rezeki dan tidak menginginkan makanan”. QS. Adz-Dzariyat: 56-57.

Namun tujuan yang agung ini tidak akan terwujud dengan sempurna, apabila manusia melupakan sarana-sarana untuk mewujudkannya, dan sarana yang terbesar adalah Ilmu Syar’i, para ulama kita mengatakan:

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Artinya: sarana yang dapat mewujudkan sesuatu yang hukumnya wajib, maka hukumnya adalah wajib pula.

Ma’syarol muslimin, jamaah shalat jumat rahimakumullah.

Yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah Wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam  berupa Alqur’an dan As-Sunnah.

Karena dengan wahyu tersebut Allah menjelaskan kepada para hambaNya syariat yang dibebankan kepada mereka, dan berisi tentang perintah dan laranganNya untuk para hambaNya.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan tentang ilmu:

كُلُّ اْلعُلُوْمِ سِوَى القُرْآنِ مُشْغِلَةٌ إِلَّا             الْحَدِيْثَ وَاْلفِقْهَ وَاْلعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ وَحَدَّثَنَا 

Semua ilmu selain Alqur’an menyibukkan kecuali ilmu hadits dan fiqih, ilmu itu yang jika ada ucapan: Allah berfirman (Alqur’an) dan Rasulullah bersabda (hadits).

Jadi ilmu yang selaras dan dapat mewujudkan tujuan dari diciptakannya makhluk adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, adapun ilmu yang lainnya, berpotensi untuk menyibukkan hamba dengan urusan dunia, dan berpotensi pula untuk melalaikan dari tujuan asasi diciptakannya manusia.

Definisi imam Syafi’i disepakati oleh ulama yang hidup di abad ke delapan, yaitu Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahumahullah, namun beliau menambahkan satu poin penting terkait definisi ilmu, beliau mengatakan:

العِلْمُ قَالَ اللهُ قَالَ رَسُوْلُهُ  ………….. قَالَ الصَّحَابَةُ  أُوْلَئِكَ أُوْلُوْا الْعِرْفَانِ

Artinya: Ilmu itu adalah Allah berfirman (Al-Qur’an), Rasulullah bersabda (As-Sunnah), para Sahabat berkata, mereka (para sahabat) adalah ahli ilmu”.

Satu penting yang ditambahkan oleh beliau adalah perkataan para sahabat, hal ini tentunya berdasarkan nash-nash yang ada terkait keutamaan mereka, merekalah yang di sebut dengan ulama salaf dengan ijma’, mereka adalah murid-murid dari Rasulullah, yang menimba langsung ilmu dari lisan Rasulullah yang mulia, dan melihat dengan nyata praktek dan perbuatan beliau, maka mereka adalah orang yang paling paham tentang wahyu yang datang kepada Rasulullah.

Kaum muslimin, jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah.

Ilmu syar’i selain berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan kesempurnaan penghambaan kita kepada Allah, ia adalah ibadah yang diperintahkan dan disyariatkan oleh Allah kepada para hambanya, Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Artinya: “Maka ketahuilah , bahwa sesungguhnya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan mintalah ampunan bagi dosamu dan dosa kaum muslimin dan kaum muslimat”. QS Muhammad 19.

Ayat di atas merupakan perintah untuk menuntut ilmu, sebelum berucap dan berbuat, agar ucapan dan perbuatan kita berlandaskan ilmu, sehingga tidak terjatuh dalam kesalahan yang fatal, olehnya Al-Imam Al-Bukhari mengambil kesimpulan dari ayat di atas dengan mengatakan:

بَاب الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

Artinya: “Bab: (tentang) berilmu (dahulu) sebelum berucap dan beramal”.

Maka ucapan dan perbuatan manusia akan berkualitas apabila berlandaskan kepada ilmu syar’i.

Bahkan di antara urgensi ilmu syar’i, Allah menjadikannya sebagai salah satu tujuan diciptakannya langit dan bumi, Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Artinya: “Allah yang menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, turun wahyu Allah di antara keduanya, agar kalian mengetahui sesungguhnya Allah Maha Mampu dan Dia mengetahui segala sesuatu”. QS. Ath-Thalak: 12.

Untuk lebih memahami ayat di atas, maka alangkah baiknya jika kita menukilkan ucapan pakar tafsir, salah satunya adalah Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, beliau mengatakan: “kemudian Allah mengabarkan bahwa DIA menciptakan makhluk berupa tujuh lapis langit beserta penghuninya, dan tujuh lapis bumi beserta penghuninya, dan menurunkan perkara yang sangat penting, berupa syariat dan hukum-hukum terkait agama yang diwahyukan kepada para Rasulnya untuk memberi peringatan kepada para hamba-hambaNya dan memberikan Nasihat kepada mereka, dan juga menurunkan perintah terkait urusan takdir, yang dengannya Allah mengatur makhluknya, semua itu tujuannya adalah agar para makhluk dapat mengenal Allah dan mengetahui besarnya kekuatannya, dan maha luasnya pengetahuannya terhadap segala sesuatu. Maka apabila para makhluk mengenalNya lewat sifat-sifatNya yang suci, dan mengetahui nama-namaNya yang indah dan kemudian menyembahNya dan mencintaiNya dan menjalankan hak-hakNYa, maka inilah semua tujuan sejati dari penciptaan dan perintah untuk mengenal Allah dan beribadah kepadaNya.

Kaum muslimin, jamaah shalat jumat yang dirahmati oleh Allah.

Dengan penjelasan di atas, maka kita semakin memahami urgensi ilmu terkait dengan tujuan penciptaan makhluk, yaitu mewujudkan ibadah kepada Allah, bahwa ilmu syar’i menyempurnakan dan menghiasi penghambaan dan ibadah kita kepada Allah, bahkan bisa menjadi ukuran di terimanya amalan kita, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintahnya (ilmunya) dari kami, maka amalan itu tertolak”. HR Muslim.

Leave A Reply

Your email address will not be published.