Khutbah Jumat: Memaafkan Dan Berlapang Dada

Khutbah Pertama:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾.
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾.
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Amma Ba’du:
Sesungguhnya di antara sifat Allah عز وجل adalah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa, Maha Pemurah lagi Maha Penyantun. Allah benar-benar telah memaafkan Bani Israil setelah mereka menyembah anak sapi. Allah berfirman: “Kemudian Kami memaafkan kalian setelah itu agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 52).
Dan Allah juga berfirman: “Kemudian mereka menjadikan anak sapi (sebagai sesembahan) setelah datang kepada mereka bukti-bukti yang jelas, lalu Kami memaafkan perbuatan itu dan Kami berikan kepada Musa kekuasaan yang nyata.” (QS. An-Nisā’: 153).
Allah juga berfirman tentang orang-orang yang tertinggal dari hijrah karena lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak: “Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisā’: 99).
Allah سبحانه وتعالى juga memaafkan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain: “Jika kalian menampakkan kebaikan, atau menyembunyikannya, atau memaafkan kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisā’: 149).
Dan Allah berfirman: “Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menghapus dosa-dosa, serta Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Asy-Syūrā: 25).
Di antara hikmah dari luasnya kesabaran, kemurahan, dan ampunan Allah adalah agar Allah memperkenalkan kepada hamba-Nya betapa luas kemurahan-Nya dalam menutupi dosa-dosa hamba. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia bisa langsung menghukum hamba atas dosanya dan membukanya di hadapan manusia, sehingga hidupnya tidak akan tenang selamanya.
Kalau bukan karena kesabaran dan kemurahan Allah, niscaya tidak akan ada kehidupan yang berjalan dengan baik, bahkan langit dan bumi akan rusak. Tidak ada jalan keselamatan bagi seorang hamba kecuali dengan ampunan Allah, rahmat-Nya, dan diterimanya tobat. Bahkan Allah-lah yang memberi taufik kepada hamba untuk bertobat dan mengilhamkannya untuk kembali kepada-Nya. (Nadhrah an-Na‘īm, 1/21).
Allah juga menjelaskan tentang sikap pemaaf para nabi terhadap orang-orang yang menzalimi mereka. Di antaranya adalah kisah Nabi Yusuf عليه السلام dan bagaimana beliau memaafkan saudara-saudaranya. Allah berfirman melalui ucapan Nabi Yusuf: “Apakah kalian mengetahui apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui akibatnya?” Mereka berkata, “Apakah benar engkau ini Yusuf?” Dia berkata, “Aku Yusuf, dan ini saudaraku. Sungguh Allah telah melimpahkan karunia kepada kami. Barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkanmu atas kami, dan kami benar-benar orang yang bersalah.” Yusuf berkata, “Tidak ada celaan bagi kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 89–92).
Allah juga berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ: “Jadilah pemaaf, perintahkan kepada yang ma‘ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A‘rāf: 199).
Dan dalam sebuah hadits, Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه berkata: “Seakan-akan aku melihat Nabi ﷺ menceritakan seorang nabi dari para nabi; kaumnya memukulinya hingga berdarah, lalu ia mengusap darah dari wajahnya sambil berkata: ‘Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Aku pernah berjalan bersama Nabi ﷺ. Saat itu beliau mengenakan selendang Najran yang tebal dan kasar pinggirannya. Tiba-tiba seorang Arab Badui mendekatinya lalu menarik beliau dengan tarikan yang sangat keras, sampai aku melihat bekas tarikan selendang itu membekas di pundak Nabi ﷺ.
Orang itu kemudian berkata: “Perintahkan agar aku diberi harta dari harta Allah yang ada padamu!” Maka Nabi ﷺ menoleh kepadanya, lalu tersenyum dan tertawa, kemudian memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu. (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah sikap pemaaf Rasulullah ﷺ. Beliau memperlakukan orang tersebut dengan akhlak yang mulia, bukan dengan kemarahan, padahal beliau diperlakukan dengan kasar.
Dari Abu Abdullah Al-Jadali, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah رضي الله عنها: “Bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ di dalam keluarganya?”
Aisyah menjawab: “Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau tidak berkata kotor, tidak berbuat keji, tidak berteriak-teriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi beliau selalu memaafkan dan berlapang dada.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Maka seandainya kita meneladani akhlak beliau, baik di rumah bersama keluarga maupun di pasar dan di tengah masyarakat: menjauhi ucapan dan perbuatan keji, tidak ribut dan kasar, serta tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Dari Aisyah رضي الله عنها, dalam menggambarkan Rasulullah ﷺ, beliau berkata (dan sungguh alangkah baiknya jika kita mengambil pelajaran dari sifat-sifat ini): Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul apa pun dengan tangannya, tidak pula memukul seorang wanita atau seorang pembantu, kecuali ketika berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah melaknat siapa pun. Beliau tidak pernah membalas dendam untuk kepentingan dirinya sendiri atas perlakuan buruk yang diterimanya. Jika hak Allah dilanggar, barulah beliau marah karena Allah. Dan apabila beliau dihadapkan pada dua pilihan, beliau selalu memilih yang paling mudah selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما, ia berkata: Kami pernah ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ ke arah Najd. Ketika kami pulang, kami singgah pada waktu siang hari yang sangat panas di sebuah lembah yang banyak pepohonannya.
Rasulullah ﷺ berteduh di bawah sebuah pohon, lalu menggantungkan pedangnya di sana. Orang-orang pun berpencar untuk berteduh dan tertidur karena kelelahan.
Tiba-tiba datang seorang musyrik, mengambil pedang Rasulullah ﷺ yang tergantung di pohon, lalu mencabutnya dari sarungnya dan membangunkan beliau sambil berkata: “Apakah engkau takut kepadaku?”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak.”
Orang itu berkata: “Lalu siapa yang akan melindungimu dariku?”
Beliau menjawab: “Allah.”
Maka pedang itu jatuh dari tangan orang tersebut. Rasulullah ﷺ mengambil pedang itu dan berkata: “Sekarang, siapa yang akan melindungimu dariku?”
Orang itu berkata: “Bersikaplah seperti orang yang paling baik dalam memegang kekuasaan.”
Rasulullah ﷺ bertanya: “Maukah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah?”
Ia menjawab: “Tidak, tetapi aku berjanji tidak akan memerangimu dan tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangimu.”
Maka Rasulullah ﷺ membiarkannya pergi dan tidak menghukumnya.
Orang itu pun kembali kepada kaumnya dan berkata: “Aku baru saja datang dari sisi manusia terbaik.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah sikap pemaaf Rasulullah ﷺ: pemaaf dalam keluarganya, pemaaf kepada orang-orang musyrik, bahkan pemaaf kepada orang yang berniat membunuh beliau.
Dan para sahabat رضي الله تعالى عنهم أجمعين telah mencontohkan akhlak yang mulia ini, yaitu akhlak pemaafan, pengampunan, dan kasih sayang.
Diriwayatkan bahwa Ibn Abbas رضي الله تعالى عنهما berkata: “Ketika ‘Uyainah bin Hisn bin Hudhayfah bin Badr—yang dikenal dengan kekasarannya dalam berbicara, seorang pemimpin kaumnya—datang, ia menginap di rumah keponakannya, al-Hurr bin Qais. Al-Hurr ini dikenal bijaksana dan berbeda jauh dari pamannya dalam kelembutan berbicara. Ia termasuk orang yang sering mendekati Umar dan merupakan bagian dari kalangan para pembaca (qurra) yang duduk dalam majelis Umar dan menjadi penasihatnya, baik yang sudah lanjut usia—yang telah melewati usia empat puluh—maupun yang masih muda—berusia lebih dari tiga puluh. Lalu, ‘Uyainah berkata kepada keponakannya: ‘Wahai keponakanku, apakah engkau memiliki kedekatan dengan pemimpin ini?—tidak mengatakan ‘Ameerul Mu’minin’ atau ‘Umar’, tetapi ‘pemimpin ini’—Izinkan aku berbicara dengannya.’ Al-Hurr pun berkata: ‘Aku akan meminta izin untukmu.’ Ibn Abbas berkata: Lalu al-Hurr meminta izin untuk ‘Uyainah, dan Umar pun memberi izin. Ketika ‘Uyainah masuk, ia langsung berkata: ‘Wahai Ibn al-Khattab, demi Allah, engkau tidak memberi kami banyak, dan engkau tidak memutuskan perkara di antara kami dengan adil.’ Umar pun marah dan hampir saja hendak menghadapinya. Namun al-Hurr berkata: ‘Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya Allah telah berfirman kepada Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم: ‘Ambillah apa yang dapat memaafkan, perintahkan yang baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang jahil‘ (QS. Al-A’raf: 199).
Dan orang ini termasuk orang yang jahil.’ Anas berkata: ‘Demi Allah, Umar tidak melampaui ayat itu ketika dibacakan kepadanya, dan beliau pun berhenti sejenak merenungkannya.’ [HR. Bukhari (4642)].
Dan sebagian ulama berkata: “Bukanlah orang yang penyantun itu adalah orang yang dizalimi lalu bersabar, kemudian jika ia mampu ia membalas dendam. Tetapi orang yang penyantun adalah orang yang dizalimi lalu bersabar, dan jika ia mampu, ia memaafkan.” [Ihya’ Ulum al-Din, karya Imam al-Ghazali (3/196)].
Imam Bukhari dalam kitabnya [Jilid 6, Halaman 127] menjelaskan firman Allah سبحانه وتعالى: “Tidaklah sama antara kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia, akan menjadi seperti teman yang sangat dekat.” (QS. Fussilat: 34).
Ibnu Abbas berkata: “Maksud dari ‘Tolaklah keburukan dengan cara yang lebih baik’ adalah bersabar di saat marah, memaafkan saat disakiti. Jika kalian melakukannya, maka Allah akan menjaga kalian dan menjadikan musuh kalian tunduk.”
Di saat marah, seseorang sering lupa untuk memaafkan, tidak mengingat untuk bersikap lapang dada, dan tidak memikirkan rahmat bagi orang di depannya. Namun, ketika ia diingatkan untuk mengalahkan hawa nafsunya, ia pun teringat dan segera menenangkan diri. Dari Anas bin Malik رضي الله تعالى عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Jika kalian diingatkan tentang Allah, maka berhentilah (dari kemarahan kalian).” [HR. Al-Bazzar dalam Musnadnya (8541), Shahihah (1319)].
Memaafkan adalah melupakan kesalahan orang lain, dan tidak menghukum mereka yang berbuat salah, terutama bagi orang yang tidak dikenal berbuat keburukan. Ketika seseorang melakukan kesalahan, ia dimaafkan dan disikapi dengan toleransi. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah رضي الله تعالى عنها, ia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: ‘Berilah kesempatan kepada orang-orang yang memiliki kehormatan untuk memperbaiki kesalahan mereka, kecuali dalam hal hudud (hukuman yang ditetapkan syariat).'” [HR. Abu Dawud (4375), Shahihah (638)].
Diriwayatkan bahwa al-Bayhaqi mengutip dari Imam Syafi’i رحمه الله: “Mereka yang dimaksud dengan ‘memberi kesempatan memperbaiki kesalahan’ adalah orang-orang yang tidak dikenal melakukan keburukan, yang kadang-kadang jatuh dalam kesalahan.”
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ للهِ وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسࣱ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدࣲۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا .
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَغَافِرَ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ إِن نَّسِینَاۤ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ إِصۡرࣰا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۤۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَـٰفِرِینَ.
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ.
رَبَّنَا اَتِنَافىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ الاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ ٱللَّهَ یَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِیتَاۤىِٕ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَیَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡیِۚ یَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ.




