Akidah

Keutamaan Masjid Nabawi dan Adab-Adabnya

Masjid Nabawi yang terletak di jantung Kota Medinah dibangun oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam bersama para sahabat pada tahun pertama hijriah. Ia merupakan masjid yang kedua dibangun pasca Islam. Sekitar 21 hari sebelumnya, saat Nabi transrit di daerah Quba sebelum memasuki Kota Medinah, beliau bersama para sahabat terlebih dahulu membangun Masjid Quba yang terhitung sebagai masjid pertama pasca Islam.

Kedua masjid tersebut memiliki nilai historis yang urgen dalam Islam. Terlebih Masjid Nabawi, selain memiliki nilai histori, Masjid Nabawi juga memiliki banyak keutamaan.

Keutamaan Masjid Nabawi

Berikut di antara keutamaan Mesjid Nabawi:

Pertama: Pahala salat di Masjid Nabawi lebih dari seribu kali lipat.

Satu kali salat di Masjid Nabawi lebih utama dari seribu kali salat di mesjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ.

 “Salat di masjidku ini nilainya seribu kali lebih baik dibandingkan pada masjid lain kecuali pada Masjidil Haram”. (HR. Bukhari no. 1116 dan HR. Muslim no.2469).

Imam Nawawi menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup salat fardu dan salat sunat berdasarkan keumuman lafadz “salat” pada hadis ini. Beliau juga menjelaskan bahwa keutamaan salat di Masjid Nabawi bukan hanya seribu kali lipat tetapi lebih dari seribu kali dibanding di masjid lainnya, selain Masjidil Haram. (Lihat: Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim:IX/164).

Kedua: Allah dan RasulNya menjadi saksi bahwa Masjid Nabawi dibangun atas dasar taqwa.

Allah berfirman:

لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِ

Sungguh masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya.” (QS. At-Taubah:108)

Abu Said Alkhudri berkata: Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di rumah salah seorang dari isterinya, dan bertanya, “Ya Rasulullah, masjid manakah di antara dua masjid (Masjid Quba atau Masjid Nabawi) yang dibangun di atas dasar taqwa?” Beliau mengambil segenggam pasir lalu dibuangnya kembali ke tanah, kemudian beliau bersabda: “Masjid kamu ini” (yaitu masjid Madinah). (HR. Muslim no. 2477).

Baca Juga  Urgensi Pemahaman Salaf Dalam Memahami Nas-Nas Wahyu

Dalam riwayat lain, Abu Said Alkhudri berkata: “Seorang dari bani Khudrah berdebat dengan seseorang dari bani ‘Amru bin Auf tentang masjid yang dibangun atas dasar takwa. Orang yang berasal dari bani Khudrah berkata: “Itu adalah Masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” sedangkan orang yang berasal dari bani ‘Amru bin Auf berkata: “Itu adalah Masjid Quba.” Lalu mereka pun mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengadukan hal itu, maka beliau pun bersabda: “Itu adalah masjid ini -yakni masjid beliau-, dan pada masjid Quba ada kebaikan yang banyak” (HR. Tirmidzi no. 297).

Ketiga: di Masjid Nabawi terdapat taman surga.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ.

Tempat yang ada di antara rumahku dan mimbarku adalah raudah (taman) di antara taman-taman surga”. (HR. Bukhari no. 1121).

Ibnu Hajar Al-Asqalani meresume secara berurut berdasarkan tingkat kekuatannya, tiga penjelasan para ulama terkait maksud raudah sebagai taman surga, yaitu:

  • Seperti raudah (taman) di antara taman-taman Surga dalam hal turunnya rahmat dan terwujudnya kebahagian akibat dari rutinnya zikir di tempat tersebut, terutama di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
  • Beribadah di dalamnya mengantar pelakunya masuk ke Surga.
  • Raudah tersebut akan dipindahkan masuk ke dalam Surga kelak di akhirat. (Lihat: Fath Al-Baarie: IV/100).

Keempat: Masjid Nabawi salah satu tujuan safar dalam rangka ibadah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا يُسَافَرُ إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِي وَمَسْجِدِ إِيلِيَاءَ

“Safar hanya ditujukan kepada tiga masjid, yaitu; Masjid Ka’bah, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjid Iliya (Masjidil Aqsha)”. (HR. Muslim no. 2476).

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga  Saat Allah mencintai

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Tidaklah dilakukan safar kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu alaihi wasallam dan Masjidil Aqsha”. (HR. Bukhari no.1115).

Ibnu Atsir menjelaskan bahwa yang dimaksud la tusyaddu ar-rihaal adalah tidak ada tempat yang boleh dikunjungi dalam rangka ibadah dan taqarub kepada kepada Allah Ta’ala kecuali tiga tempat (masjid) tersebut. Hal ini sekaligus sebagai wujud penghormatan dan pengagungan kepadanya. (Lihat: Jami’ al-Ushul fi Ahadis ar-Rasul: IX/283).

Selanjutnya, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa: hadis ini bermakna larangan, dan larangan berkonsekwensi haram. (Lihat: Al-Radd ‘ala Al-Ikhna’iy, hal. 38).

Kelima: Belajar atau mengajar di Masjid Nabawi bagaikan jihad di jalan Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

Barangsiapa masuk masjid kami ini untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Ahmad No. 8603).

Adab-Adab Penting Mendatangi Masjid Nabawi

  • Mengikhlaskan niat untuk beribadah kepada Allah di Masjid Nabawi.
  • Disunahkan terlebih dahulu berwudhu di tempat tinggal masing-masing sebelum berangkat ke Masjid Nabawi.
  • Masuk masjid dengan kaki kanan sambil berdoa kepada Allah, dengan doa antara lain:

أَعُوذُ بِاللَّهِ العَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.

  • Mengerjakan salat sunat tahiyatul masjid sebelum duduk, atau salat sunat rawatib sebelum salat wajib.
  • Memperbanyak amalan, baik amalan wajib seperti salat lima waktu ataupun amalan sunat, seperti salat-salat sunat, tilawah Alquran, zikir dan doa.
  • Dianjurkan melakukan salat di Raudah, baik salat wajib atau pun salat sunat.
  • Saat keluar dari masjid disunahkan mendahulukan kaki kiri dan berdoa kepada Allah dengan doa antara lain:
Baca Juga  Menyembelih Sembelihan dalam Perspektif Akidah dan Fikih

بِسْمِ اللَّهِ وَالصّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِك، اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

  • Bagi laki-laki dianjurkan untuk berziarah ke makam Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu ke makam Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma yang posisinya berada di samping kiri Raudah.

Dengan cara mendatangi makam Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menghadapkan wajah kepadanya lalu mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله

Kemudian melangkah sehasta ke sisi kanan, lalu memberi salam kepada Abu Bakar radhiyallahu anhu dengan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ

Kemudian melangkah sehasta ke samping kanan dan memberi salam kepada Umar bin Khatthab radhiyallahu anhu dengan mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا عُمَر

Ucapan salam ini, lafaznya singkat dan dapat ditambah dengan lafaz yang lebih panjang dan sesuai dengan predikat masing-masing. Misalnya;

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dan السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ   untuk Abu Bakar radhiyallahu anhu.

Dan السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا عُمَرُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ untuk Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

Atau lafaz yang lebih Panjang, misalnya:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَشْهَدُ أَنَّكَ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الأَمَانَةَ، وَنَصَحْتَ الأُمَّةَ، وَجَاهَدْتَ فِي اللهِ  حَقَّ جِهَادِهِ، فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا عَنْ أُمَّتِكَ، وَجَزَاكَ أَفْضَلَ مَا يَجْزِي نَبِيًّا عَنْ أُمَّتِهِ،    untuk Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Dan lafaz:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ، خَلِيْفَةَ رَسُوْلَ اللهِ! رَحِمَكَ اللهُ وَرَضِيَ عَنْكَ وَجَزَاكَ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ خَيْرًا  untuk Abu Bakar radhiyallahu anhu. Dan lafaz:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا عُمَرُ، خَلِيْفَةَ خَلِيْفَةِ رَسُوْلَ اللهِ! رَحِمَكَ اللهُ وَرَضِيَ عَنْكَ وَجَزَاكَ عَنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ خَيْرًا  untuk Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

Salahuddin Guntung, Lc., MA., Ph.D.

Alumni S3, Bidang Aqidah & Pemikiran Kontemporer, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?