Fikih

Keutamaan Berzikir kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru kepada hamba-hambaNya dalam Alquran untuk banyak berzikir kepadaNya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga mengajak dan memberi contoh kepada umatnya untuk senantiasa berzikir kepada Allah.

Alquran dan sunah menyebutkan banyak keutamaan yang dapat memotivasi seseorang untuk berzikir kepada Allah dan menjauhkannya dari rasa malas berzikir kepadaNya, antara lain sebagai berikut:

Keutamaan Berzikir dalam Sunah Nabi shallallahu aliahi wasallam:

  • 1- Zikir merupakan amalan paling mulia dan tertinggi derajatnya di sisi Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ»؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى»

“Inginkah aku beritahukan amalan terbaik bagi kalian? Amalan termulia di sisi Allah Zat Penguasa kalian? Amalan yang paling meninggikan derajat kalian? Amalan yang lebih utama bagi kalian daripada berinfak dengan emas dan perak, bahkan lebih utama dari berperang di jalan Allah hingga kalian membunuh musuh kalian atau kalian syahid dibunuh oleh musuh? Para sahabat menjawab: Iya, kami mau. Nabi bersabda: zikir kepada Allah Ta’ala”. (HR. Ahmad No. 21702, Tirmidzi No. 3377 dan Ibnu Majah No. 3790).

  • 2- Orang yang senantiasa banyak berzikir kepada Allah dipandang sebagai para pemenang kompetisi. Nabi bersabda:

«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»

“Telah menang al-Muafarridun” para sahabat bertanya, “Siapa yang dimaksud al-Mufarridun wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah”. (HR. Muslim No. 2676).

Imam an-Nawawi menukil penjelasan Ibnu Qutaibah dan ulama lainnya bahwa mereka disebut sebagai al-mufarridun karena mereka telah mengungguli rival-rivalnya yang sudah tersisih sehingga tersisa mereka yang berada dalam gelanggang berzikir kepada Allah.

  • 3- Orang yang rajin berzikir dipandang sebagai orang hidup sedang orang yang tidak berzikir diibaratkan sebagai orang mati.

Dalam hadisnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganalogikan orang yang senantiasa berzikir kepada Allah dan orang yang tidak berzikir kepadaNya dengan orang hidup dan orang mati. Beliau juga menganalogikan rumah yang dihuni dan dipakai berzikir kepada Allah dan rumah yang di dalamnya tidak terdapat orang yang selalu berzikir kepada Allah sebagai rumah orang hidup dan rumah orang mati alias kuburan. Orang yang rajin berzikir dipandang sebagai orang yang hidup sedang yang tidak berzikir diibaratkan sebagai orang mati. Nabi bersabda:

«مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ»

“Perumpamaan orang yang senantiasa berzikir kepada Allah dan orang yang tidak berzikir kepadaNya seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. (HR. Bukhari No. 6407).

Baca Juga  Selayang Pandand Fikih Ibadah (1)

«مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ»

Perumpamaan rumah yang di dalamnya Allah diingat dan disebut-sebut dan rumah yang di dalamnya Allah tidak diingat dan tidak disebut seperti rumah orang yang hidup dan orang yang mati”. (HR. Bukhari No. 6407).

Keutamaan Berzikir dalam Alquran:

Selain penjelasan Nabi shallallahu alaihi wasallam, dalam Alquran juga Allah telah memerintahkan hambaNya untuk memperbanyak zikir kepadaNya dengan berbagai macam cara.

Menurut Ibnul Qayyim setidaknya terdapat sepuluh macam model seruan dan perintah Allah untuk berzikir kepadaNya di dalam Alquran, yaitu:

  • Seruan yang berbentuk perintah, baik secara mutlak atau pun secara muqayyad (terbatas), seperti firman Allah:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)﴾ [الأحزاب: 41 – 43]

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 41-43).

﴿وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ﴾ [الأعراف: 205]

“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS. Al-A’raf: 205).

  • Larangan dari lalai dan lupa berzikir kepada Allah.

﴿وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ﴾ [الأعراف: 205]

“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan jangan kamu termasuk orang-orang yang lalai.(QS. Al-A’raf: 205).

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾ [الحشر: 19]

“Dan jangan kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hasyar: 19).

  • Menjadikan zikir yang banyak sebagai syarat untuk meraih kemenangan.

﴿وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [الأنفال: 45]

“Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45).

  • Menyampaikan bahwa Allah menyediakan balasan untuk orang yang banyak berzikir kepadaNya.
Baca Juga  Hukum Fikih Berkaitan dengan Anak (Bagian 1)

﴿وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: 35]

Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).

  • Menginformasikan kerugian bagi orang yang lalai berzikir kepada Allah.

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾ [المنافقون: 9]

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9).

  • Menginformasikan bahwa penyebutan hamba di sisi Allah bergantung pada zikir hamba kepadaNya.

﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾ [البقرة: 152]

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).

  • Menginformasikan bahwa zikir kepada Allah merupakan amalan terbesar, karena pada dasarnya semua ibadah dilakukan untuk mengingat Allah Ta’ala.

﴿اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴾ [العنكبوت: 45]

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat (zikir kepada) Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 450.

  • Allah menjadikan zikir sebagai penutup beberapa amalan agung, seperti penutup puasa, haji, salat, terutama salat Jumat, serta amalan agung lainnya.

Pada ayat ibadah puasa Allah berfirman:

﴿وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾ [البقرة: 185]

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (hari puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Pada ayat ibadah haji, Allah berfirman:

﴿فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ﴾ [البقرة: 200]

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200).

Pada ayat ibadah salat secara umum, Allah berfirman:

﴿فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾ [النساء: 103]

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), berzikirlah dengan mengingat Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103).

Baca Juga  Rambu-rambu Bisnis Online (1)

Dan pada ibadah salat jumat, Allah berfirman:

﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [الجمعة: 10]

Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah: 10).

  • Menginformasikan bahwa para pezikir adalah orang-orang yang dapat mengaktualisasikan ayat-ayatNya, yaitu para Ulil Albab dan pemilik akal yang sehat.

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [آل عمران: 190، 191]

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191).

  • Allah menjadikan zikir sebagai pendamping yang menyertai ibadah-ibadah lainnya, seperti salat, puasa, haji, jihad dan sebagainya.

﴿وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي﴾ [طه: 14]

“Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Toha: 14).

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [الأنفال: 45]

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45).

Karakteristik Zikir

Zikir dapat dikategorikan sebagai ibadah yang fleksibel karena dapat dilakukan dalam  segala waktu: siang dan malam serta pagi dan petang, di dalam segala tempat: di daratan, lautan atau pun di angkasa, dalam segala kondisi: di kala berdiri, duduk atau pun baring, baik di masa safar atau pun hadhar (tidak safar), serta baik di kala suci maupun hadas.

Imam an-Nawawi menegaskan bahwa para ulama telah bersepakat akan bolehnya berzikir dengan hati dan lisan bagi orang yang sedang hadas, junub, haid dan nifas dengan zikir yang berupa tasbih, tahlil, tahmid, takbir, selawat kepada Nabi, doa dan sebagainya. Tetapi diharamkan membaca Alquran bagi orang yang sedang junub, haid dan nifas. (Lihat: al-Azkar hal. 11).

Salahuddin Guntung, Lc., MA., Ph.D.

Alumni S3, Bidang Aqidah & Pemikiran Kontemporer, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?