Kemilau Takwa dan Amal Saleh

110

Kaum muslimin jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

            Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan berbagai macam rupa, beraneka ragam ras, suku dan warna kulit, serta berbeda-beda pekerjaan dan jabatannya. Namun kemahaadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat tampak ketika menetapkan bahwa parameter kemulian seorang hamba bukan terletak pada warna kulitnya, ketampanannya, kepriyayiannya, ataupun pada jabatannya, namun parameternya adalah ketakwaan kepada-Nya, Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Wahai para manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”. (QS Al-Hujurat 13).

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda,

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ، ولا إِلى صُوَرِكمْ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada badan-badan kalian, tidak pula kepada wajah-wajah kalian, namun melihat kepada hati dan amalan kalian”. (HR Muslim).

Sifat Mahaadil Allah sangat tampak ketika menetapkan bahwa ketakwaan adalah ukuran kemuliaan hamba di hadapan-Nya, sebab semua manusia berpotensi untuk dapat mewujudkan dan merealisasikan sifat ini tanpa ada halangan dari keadaan fitrah yang meliputi seseorang berupa buruknya rupa, kemiskinan yang menghimpit, ataupun bukan berdarah biru dan hal yang lainnya. Adapun ketakwaan adalah sifat yang dapat digapai oleh orang yang tampan maupun yang buruk rupa, dapat diwujudkan oleh seorang pejabat maupun tukang becak, dan direalisasikan oleh orang yang kaya maupun orang yang miskin, intinya; semua jenis manusia dapat mewujudkan sifat takwa ini dalam kehidupannya.

Kaum muslimin, jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Takwa adalah ukuran kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, Allah berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”. (QS Al-Hujurat 13).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا أَحْمَرَ  عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya: “Wahai manusia, ingatlah bahwa tuhan yang kalian sembah hanyalah satu, dan sesungguhnya bapak kalian adalah satu (Adam), dan ingatlah, tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab di atas bangsa non Arab, tidak pula bangsa non Arab lebih mulia di atas bangsa Arab, dan tiada keutamaan orang berkulit merah di atas orang berkulit hitam, dan begitu pula orang yang berkulit hitam di atas yang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan”. (HR Ahmad).

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan,

وَذَاتَ الفَتَى –والله- بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى          إِذاَ لَمْ يَكُنْ لَاعْتِبَارَ لِذَاتِهِ

“Demi Allah! Kemulian seorang pemuda ditopang oleh ilmu dan takwanya

Jika ia tak berhias dengan keduanya, maka ia tiada harganya.”

Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu adalah seorang budak dan hamba sahaya, pada zaman Jahiliah beliau adalah seorang yang hina, namun ketika beliau mengucapkan dua kalimat syahadat, dan masuk ke dalam agama Islam, maka kedudukan dan kemuliaan beliau terangkat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan beliau termasuk di antara calon penghuni surga, sebagaimana hadis dari Rasulullah:

يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ  

Artinya: “Wahai Bilal, informasikan kepadaku tentang amalan yang paling engkau banggakan di dalam Islam, sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu di depanku di Surga”. (HR  Bukhari, dan Muslim).

            Kemiskinan bukan halangan untuk meraih kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak di kalangan para Sahabat Nabi yang hidup di bawah garis kemiskinan di dunia, namun kemuliaan mereka menjulang tinggi ke atas langit, hal itu disebabkan karena ketakwaan dan amal saleh. Abu Dzar Al-Gifariy radhiyallahu ‘anhu mengisahkan tentang keluh kesah orang-orang miskin dan fakir di Madinah, mereka berkata kepada Rasulullah,

ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنْ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَا وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا وَيَعْتَمِرُونَ وَيُجَاهِدُونَ وَيَتَصَدَّقُونَ.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kaya menduduki tingkatan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi, mereka shalat sebagaimana kami shalat, dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka masih kelebihan harta, sehingga mereka bisa berhaji, melaksanakan umrah, berjihad, dan bersedekah dengan harta-harta mereka.”

Rasulullah lalu bersabda,  

 أَلَا أُحَدِّثُكُمْ إِنْ أَخَذْتُمْ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ

Artinya: “Maukah kalian saya beri informasi sebuah amalan, jika kalian laksanakan, maka kalian dapat mengalahkan orang-orang yang mendahului kalian, dan orang-orang tidak akan mampu mengalahkan kalian kecuali jika beramal dengan amalan yang serupa”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Pelajaran yang bisa dipetik dari hadis di atas, bahwa orang-orang miskin dapat bersaing untuk mendapatkan kedudukan yang mulia dan kenikmatan yang abadi dengan orang-orang kaya, dengan melaksanakan amal-amal saleh.

Bahkan seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang masyhur dengan ketinggian nasabnya, limpahan hartanya, dan keluhurun budinya, tidaklah mulia dan menduduki derajat yang tinggi di tengah kaum muslimin, kecuali karena disebabkan oleh ketakwaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bakr  bin Abdullah Al-Muzaniy rahimahullah mengatakan,

ما فاق أبو بكر رضي الله عنه أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم بصوم ولا صلاة ولكن بشيء كان في قلبه

Artinya: “Tidaklah Abu Bakar dapat mengalahkan (kemuliaan) para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan (banyak) puasanya dan salatnya semata, namun (Abu Bakar dapat mengalahkan mereka) dengan sesuatu yang menghuni hatinya”. (Jami’ul-Ulum Wal-Hikam, Hal: 81).

Dan tentunya, di antara penghuni hati tersebut adalah; ketakwaan.

Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apakah anda pernah mendengar nama Uwais Al-Qarniy? Ya, seseorang yang disebut namanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إن خير التابعين رجل يقال له أويس وله والدة وكان به بياض فمروه فليستغفر لكم

Artinya: “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah Uwais, dan dia memiliki seorang ibu, dan dia pernah terkena penyakit kulit, maka mohonlah kepada dia untuk minta ampun kepada Allah untuk kalian”. (HR Muslim).

 

Apa rahasia seorang Uwais Al-Qarniy sehingga Rasulullah menyebut nama dan keutamaanya, padahal beliau belum pernah berjumpa denga Uwais?

 

Rahasianya ada pada ketakwaan dan amal saleh yang dimiliki oleh Uwais Al-Qarniy. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يأتي عليكم أويس بن عامر مع أمداد أهل اليمن من مراد ثم من قرن كان به برص فبرأ منه إلا موضع درهم له والدة هو بها بر لو أقسم على الله لأبره فإن استطعت أن يستغفر لك فافعل

Artinya: “Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama pasukan yang datang dari Yaman, dia (Uwais) pernah tertimpa penyakit kulit namun kemudian sembuh kecuali tinggal sedikit, dia memiliki seorang ibu yang sangat ia patuhi, (karena kesalehannya), jika ia bersumpah dengan nama Allah atas sesuatu maka akan terjadi, (oleh karena itu) jika engkau mampu membuat ia meminta ampun untukmu, maka lakukanlah!”. (HR Muslim).

Leave A Reply

Your email address will not be published.