Tarbawi

Kemenangan yang Sejati

Tahukah anda kisah ashabul ukhdud (orang-orang yang membuat parit) ?

Kisah yang sangat fenomenal ini disebutkan secara singkat didalam surah ke 85 yaitu al buruj, dan diceritakan secara rinci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis panjang yang diriwayatkan oleh imam muslim dalam kitabnya dengan nomor 3005.

Pada bagian akhir dari kisah tersebut, orang-orang beriman menjadi korban pembunuhan masal yang sangat kejam oleh raja kafir yang zalim, yaitu dengan membakar mereka hidup-hidup dalam parit-parit yang penuh dengan api yang bergejolak.

Sebelum mereka, ada tiga sosok penting yang telah dibunuh oleh raja zalim tersebut, yaitu seorang alim dan ahli ibadah, seorang menteri yang buta, dan seorang pemuda yang tidak lain adalah murid dari alim ahli ibadah tadi yang telah mengislamkan sang Menteri yang buta dan juga mengislamkan  orang-orang yang sedang menyaksikan proses pembunuhannya.

Meski semuanya berakhir dengan sangat tragis dan menyedihkan, namun Allah ta’ala menilai capaian mereka sebagai sebuah kemenangan, tidak hanya sekedar kemenangan, tapi kemenangan yang besar Allah ta’ala berfirman:

 إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡكَبِيرُ

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Buruj/85: Ayat 11).

Inilah kemenangan yang sejati menurut Allah ta’ala. Lantas apa ukuran kemenangan yang sejati itu?

Al Qur’an mengajari orang yang beriman bahwa dinamika kehidupan dengan segala macam warnanya senang dan sedih, kaya dan miskin, kuat dan lemah, bahkan hidup dan mati, bukanlah ukuran yang sebenarnya untuk sebuah kemenangan atau kekalahan, keberuntungan atau kerugian, melainkan hanya sebagian dari bentuk-bentuknya. Namun ukuran sesungguhnya untuk kemenangan yang sejati adalah keistiqomahan dan keteguhan dalam iman dan amal saleh. Ukuran inilah yang tergambar sangat jelas dalam kisah ashabul ukhdud, keteguhan sang alim dan ahli ibadah, juga sang menteri yang buta, dalam mempertahankan Aqidah mereka dihadapan fitnah siksaan dan fitnah kenikmatan dunia.

Baca Juga  Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Ketiga)

Sang alim dan ahli ibadah telah meraih kemenangan dalam peperangan mempertahankan kehidupan atau Aqidahnya, dan ia pun memilih teguh diatas imannya meski harus mempertaruhkan hidupnya.

Adapun sang menteri yang buta ia telah meraih kemenangan dua kali, pertama Ketika ia meninggalkan jabatan dengan segala keistimewaanya sebagai menteri disisi sang raja, dan kedua saat ia rela mati demi aqidahnya. Sungguh keduanya telah mengabadikan bagi kita makna-makna kemenangan yang sejati.

Kisah yang lebih menakjubkan lagi adalah sang pemuda, dalam kisahnya ia memberi tahu sang raja yang kafir dan zalim itu, bahwa ia hanya bisa dibunuh dengan 2 syarat; dilakukan di hadapan masyarakat dan mengucapkan “bismillah rabbil ghulam” (dengan menyebut nama Allah tuhannya pemuda ini). Mengapa ia melakukannya?, padahal Allah ta’ala telah menyelamatkanya dari 3 kali percobaan pembunuhan kepadanya. Kenapa ia tidak memilih untuk hidup agar dapat menyampaikan tugasnya dan menunjuki manusia kepada agama yang benar ?. Demikianlah pertanyaan yang muncul akibat tidak memahami hakikat kemenangan yang sejati.

Sesungguhnya sang pemuda atas taufik dari Allah ta’ala telah memahami momen tepat yang sangat menentukan dan mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh ribuan kalimat dalam puluhan tahun.

Sesungguhya hidup ini merupakan cermin dari sikap dan pendirian, didalamnya orang yang jujur akan berbeda dengan yang lainnya. Kesempatan yang besar itu telah ada dihadapan sang pemuda dan ia tidak boleh menyiakannya, meskipun harus mengorbankan hidupnya dijalan Allah ta’ala.

Sungguh kemenangan dalam memahami, tekad dan keinginan, serta kemenangan Aqidah, Ketika berubah dalam hati seseorang menjadi kekuatan yang berpengaruh dan kehidupan yang benar. Sang pemuda telah menorehkan banyak kemenangan yang sejati, diantaranya:

  • ia menang saat memahami dan mengetahui jalan tercepat dan teraman untuk membela agama dan aqidahnya, serta mengeluarkan umat dan masyarakatnya dari kegelapan kufur kepada Cahaya iman.
  • Ia menang ketika mampu mengambil keputusan yang sangat menentukan pada waktu yang tepat, setelah melewati segala rintangan, dan tidak terjatuh kepada godaan hawa nafsu dan kesenangan dunia.
  • Ia menang atas raja yang Allah butakan mata hatinya, sehingga ia hancurkan kerajaannya dengan ulahnya sendiri. Sang pemuda berani dan dia tahu hakikat perbuatannya, sementara sang raja telah dibutakan oleh candu kerajaan dan syahwat kekuasaan sehingga tidak mengetahui rencana sang pemuda didalam perang yang sangat menentukan tersebut.
  • Ia menang ketika apa yang tergambar dan terbayang olehnya, serta apa yang dia korbankan untuknya telah menjadi kenyataan, yaitu ketika manusia beriman, dan mengatakan: kami beriman kepada tuhan sang pemuda. Sungguh perencanaan yang mendetail dan pelaksanaan yang tepat adalah keberhasilan yang brilian, dan kemenaangan yang nyata.
  • Sang pemuda menang saat ia meraih syahid dijalan Allah ta’ala, semua manusia pasti mati, namun sedikit yang syahid dijalan Allah ta’ala.
  • Dan terakhir dia menang saat Allah ta’ala mengabadikan namanya agar menjadi contoh teladan dan buah bibir yang baik bagi selainnya.
Baca Juga  Jangan Seperti Bunglon!

Adapun puncak kemenangan yang sejati dalam kisah  ashabul ukhdud ditorehkan oleh orang-orang yang beriman melalui dakwah sang pemuda, dimana sang raja sangat terkejut dengan keimanan rakyatnya, hingga ia kehilangan kendali yang membuatnya melakukan segala cara untuk menteror dan mengintimidasi mereka. Kemudian ia memerintahkan untuk menggali parit-parit, menyalakan api yang membara, dan melempar orang-orang yang beriman kedalamnya.

Saat itulah datang keajaiban yang mencengangkan, kemenangan yang sangat besar; ternyata orang-orang yang beriman tidaklah lemah dan kabur Ketika melihat kobaran api yang menyala, justru mereka maju dengan berani, seolah sang pemuda telah menanamkan keberanian dan keteguhan tersebut dalam diri mereka, seakan mereka menikmati ketika mempersembahkan nyawa-nyawa mereka demi membela agama, bahkan ketika ada seorang ibu yang menggendong bayinya ragu untuk maju karena mengkhawatirkan bayinya, maka sang bayi menguatkannya agar tidak takut. Bisa saja jasad-jasad itu mati, tapi arwah-arwahnya tetap hidup disisi penciptanya,

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki,” (QS. Ali ‘Imran/3: 169)

Adakah umat yang seperti mereka?, meskipun diterpa kezaliman dan perbudakan oleh sang raja yang kafir dalam waktu yang panjang, meskipun dalam waktu yang singkat mereka mengenal keimanan, namun mereka telah mengetahui jalan yang benar. Demikianlah iman yang benar bila telah menyentuh relung-relung hati dan jiwa maka akan memancarkan keajaiban. Itulah kemenangan yang sejati: kemurnian Aqidah, metode/manhaj yang jelas kebenarannya, dan jalan yang selamat.

Ridwan Nursalam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Bidang Aqidah & Pemikiran Kontemporer, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?