Janji Jiwa

8

Oleh: Andri Astiawan Azis 

“Jika aku diberi pilihan untuk menghapus kata dari kamus kehidupan ini, maka aku akan men-delete kata perpisahan secara permanen. Namun kata itu sepertinya adalah hal yang default dalam program kehidupan setiap insan, sehingga mustahil untuk dihilangkan.” 

(Muhammad Jabir) 

Mengapa harus ada pertemuan kalau pada akhirnya akan ada perpisahan? Kenapa mesti ada perkenalan kalau akhirnya akan ada pertengkaran? Kenapa harus ada rasa sayang tapi akhirnya hanya bermusuhan? Menuliskan risalah ini rasanya penuh emosi yang meluap-luap membanjiri setiap kenangan yang dihadirkan dalam setiap pertemuan. Rasanya inginku mengerang-erang agar perpisahan dan kata selamat tinggal itu tidak pernah ada.  

Tapi aku yakin, ada takdir Allah yang indah di balik setiap perpisahan dan kata selamat tinggal. Perpisahan dan selamat tinggal bukanlah akhir dari kehidupan. Allah menakdirkan perpisahan bukan berarti Dia tak peduli dengan kita, tetapi Dia melakukan itu karena Dia-lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.  

Masih ingat ketika Allah hendak menciptakan manusia, malaikat bilang apa 

}وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ} [البقرة : 30[ 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?’” Tapi pertanyaan itu dijawab dengan tegas oleh Allah, “Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”(QS. Al-Baqarah : 30) Jadi, hanya Allah yang Maha tahu apa yang terbaik untuk kita. 

Tiap rasa sakit yang kita rasakan, tiap tetesan air mata yang merembes keluar, tiap isak dan teriakan dalam hati yang tak terdengar orang lain, Dia selalu tahu itu. Dia tahu betapa kecewanya diri ini, betapa sakitnya hati ini. Tapi tidakkah kita pernah mengerti, betapa kecewanya Allah dahulu kita tinggalkan, setelah kita menjalin hubungan dengan sang kekasih, dengan berani Dia kita campakkan, saat  gawai berdering segera kita balas chat sang kekasih, segera kita angkat teleponnya. Tapi saat panggilan Allah berkumandang, dengan berani kita mengatakan, “Sebentar, sebentar.” Dengan entengnya kita menunda panggilan-Nya.  

Semenjak kita menjalin kasih dengannya, hampir seluruh waktu kita habiskan di depan gawai. Begitu betahnya kita, puluhan jam dalam sehari habis hanya untuk membaca setiap chat yang masuk. Tapi untuk membuka kalam ilahi sedetik pun kita tak mampu, semenjak dirinya hadir sedetikpun waktu kita untuk Al-Qur’an tidak pernah ada. Jangankan membaca, membukanya pun kita tak sanggup, Al-Qur’an hanya menjadi pajangan lemari, tak pernah dilirik, penuh debu hinga lapuk dimakan rayap. 

Saat dathing di mall, dengan enteng uang kita habiskan hanya untuk membelanjai sang kekasih. Nonton, makan, belanja baju, sampai jam tangan yang harganya jutaan mampu kita belikan untuknya. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ketika ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil di lampu merah dengan wajah kusam menjual koran dan menengadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet? Berapa rupiah yang kita sumbangkan untuk pembangunan masjid? Seribu rupiah, dua ribu rupiah?!  

Mungkin yang pantas kecewa itu Allah, karena Dia-lah yang selama ini memberi kita penghidupan, udara yang kita hirup, rezeki yang kita makan tiap hari semua itu berasal dari-Nya. Namun, apa yang telah kita persembahkan untuk-Nya? Apa yang telah kita lakukan untuk membalas setiap kebaikan-Nya?  Tidak lebih, hanya sebuah kekecewaan yang kita persembahkan. Shalat sering kita tunda, Al-Qur’an kita abaikan, sedekah jarang. Tapi begitulah Allah, rahmat-Nya terlalu besar untuk kita hamba-Nya, hingga kekecewaan yang begitu besar, Dia balas dengan kasih sayang memaafkan setiap kesalahan kita.  

Sampai saat ini, mungkin perlahan kita mulai mengerti mengapa kecewa dan rasa sakit itu ada? Mengapa perpisahan itu terjadi? Tidak lain, karena Allah ingin kita segera kembali kepada-Nya, mungkin kita sudah terlalu jauh melangkah sehingga melupakan setiap perintah-perintah-Nya. Rasa sakit dan kecewa sengaja Allah hadirkan sebagai penegur agar kita segera kembali, kembali khusyu’ dalam ibadah dan kembali bermesra dengan-Nya dalam setiap doa.   

JANJI SETIAP JIWA 

Setiap manusia di muka bumi ini pasti pernah merasakan sembilan bulan di dalam perut sang ibu tercinta. Saat itulah nasib seluruh manusia ditetapkan. Lahir, rezeki, jodoh, ajal, dan takdir baik atau buruk yang akan ia rasakan diriwayatkan dalam garis tangannya. 

Di dalam kandungan, janin pun sudah bisa berkomunikasi. Bukan hanya dengan si calon ibu, tapi juga Allah Sang Maha Pencipta. Selama sembilan bulan lamanya, dalam keadaan gelap dan sempit, janin mampu berbicara kepada Allah, sebagai janjinya di kehidupan sesungguhnya kelak. Mengenai perjanjian Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan janin itu dijelaskan dalam Surah Al-A’raf ayat 172. 

{وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ} [الأعراف : 172] 

“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Ta’ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engaku Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan).” 

Sedewasa ini, adakah kita mengingat perjanjian itu? Adakah kita menepati janji tersebut? Janji yang telah mengikat setiap jiwa bahwa Allah adalah Tuhan mereka, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. 

Tapi ironisnya, setelah kita dilahirkan ke dunia ini, kebanyakan kita lupa dengan janji tersebut. Kebanyakan kita lebih menuhankan manusia dan pekerjaan kita daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika adzan berkumandang, betapa beraninya kita menunda-nunda shalat dengan alasan pekerjaan yang masih menumpuk. Sedangkan ketika bos yang memanggil, betapa cepatnya kita datang.  

Kita sudah sedemikian berani menyombongkan diri di hadapan Allah, kita merasa angkuh dengan mengandalkan diri sendiri dalam meraih impian dan cita-cita tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Tanpa berdoa dan meminta pertolongan-Nya, saat impian tak terwujud dan cita-cita tak tercapai, kita dengan berani menyalahkan Allah bahwa Ia tak adil dalam menentukan takdir. 

Padahal jika kita melibatkan Allah dalam setiap urusan kita, meminta pertolongan dari-Nya dengan shalat dan doa, maka semua akan mudah kita raih. Hanya dengan ucapan “Kun Fa Yakun.” Semua yang kita inginkan akan dipenuhi oleh-Nya. 

Saudaraku, dengarkanlah kalimat yang pertama kali dikumandangkan oleh para muadzin, “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Seakan dengan kalimat tersebut Allah ingin memotivasi kita, bahwa Dia-lah yang Maha Besar dari setiap urusan-urusan kita, Dia-lah yang Maha Agung dari setiap masalah-masalah yang kita hadapi. 

Tapi di mana kita ketika Allah memanggil? Di mana kita ketika adzan berkumandang? Kita malah lari dan tak memperdulikan panggilan-Nya. Lantas, bagaimana mungkin Allah akan segera mewujudkan harapan dan cita-cita kita, sementara ketika adzan berkumandang, kita malah lari dan tak memperdulikan panggilan-Nya.  

Betapa semangatnya kita terbangun di tengah malam, hanya untuk menyaksikan klub sepak bola andalan kita merumput, tapi ketika adzan subuh berkumandang kita malah tertidur lelap dan enggan untuk bangun menunaikan panggilan-Nya. Ketika sedang sakit, bukan Allah yang pertama kali kita ingat. Tapi, obat dan dokter. Ketika kendaraan rusak, bukan Allah yang kita ingat. Tapi bengkel. Saat hidup dalam kesusahaan, dililit utang, bukan Allah yang pertama kali kita ingat. Tapi koperasi, atau bank. 

Saat bangun di pagi hari bukan Allah yang kita ingat, tapi handphone yang pertama kita cari, adakah pesan atau telpon yang masuk. Saat pertama kali membuka mata di pagi hari bukan doa yang kita panjatkan tapi medsos yang kita buka. Mungkin itulah salah satu alasan menapa mengapa hidup kita tidak tenang, kebutuhan tidak pernah cukup dan ambisi tak pernah tercapai.  

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa bangun di pagi hari dan hanya dunia di pikiranya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan empat penyakit: kebingungan yang tidak putus, kesibukan yang tiada berujung, kebutuhan yang tiada terpenuhi, khayalan yang tidak berujung.” (HR. Ath-Thabrani) 

Beginilah kita, lupa akan janji yang telah terikrar di dalam rahim. Jangankan menepatinya, mengingatnya pun kita tak pernah. Kita berjanji bahwa Dialah Allah yang Maha Esa, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Tapi saat dihadapkan dengan pekerjaan, kita malah mendahulukan panggilan bos daripada panggilan-Nya, kita lebih takut bos daripada Allah. Padahal Allah-lah yang menciptakan bos kita, Allah-lah yang memberinya rezeki.  

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.