Jangan Seperti Bunglon!

22

Seorang muslim haruslah berkarakter pemenang, sebagai pribadi yang teguh dalam segala hal, dalam berpendapat, berpikir, berkata dan bertindak. Ia harus memiliki keteguhan yang menunjukkan kemandiriannya dalam ilmu, pemahaman dan tekad, yang terpancar dari ketajaman al-bashirah dan kemurnian petunjuk Al-Quran dan Sunnah, bukan dari sikap keras kepala apalagi egois.

 

Seorang muslim tidak pantas baginya untuk bersikap seperti bunglon, yang berubah mengikuti perubahan aliran, atau mengekor pada setiap figur. Sebab, ketika ia dimuliakan oleh Allah dengan islam ini, ia kemudian diembankan untuk mengajak manusia menuju jalan kebajikan, jalan yang terang benderang oleh sinaran cahaya petunjuk Al-Quran dan Sunnah, yang memancarkan rasa cinta kasih, kejujuran dan keluhuran budi pekerti.

 

Seorang muslim tak pandai berkamuflase, menuruti setiap ajakan, atau tertipu oleh setiap rayuan, sebab Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya telah menjadikan ia sebagai seorang dai, penyeru ke jalan Allah. Ia adalah penganut agama yang teguh dan lurus, dalam dirinya terpatri ilmu dan keyakinan, pada dirinya ada akal yang sempurna, akhlak yang paripurna, cinta dan kasih sayang pada sesama makhluk, serta kepatuhan yang total pada sang khalik.

 

Ia adalah agama yang melarang taklid buta atau mengekor yang membabi buta. Ia adalah sebuah agama yang menyeru kepada pemikiran yang sehat yang membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara keselamatan dan kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela kaum musyrikin karena sikap keras kepala dan taklid buta terhadap ajaran sesat leluhur mereka dalam firman-Nya: “Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu), sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (QS: Asy-Syu’ara: 74). Hal itu mereka katakan tatkala Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menanyakan perihal patung-patung sesembahan mereka, apakah patung-patung itu mendengar doa mereka, atau member manfaat dan menolak mudarat? Tapi, mereka menjawab bukan pada hal mendengar atau tidak, juga bukan pada menolak bala atau mendatangkan manfaat, tapi karena inilah yang mereka dapati dari para leluhur mereka.

Pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan kepada umat ini,

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا ]رواه الترمذي

[Artinya: “Janganlah kalian bersikap Imma’ah; kalian berkata: jika orang-orang baik, kami pun ikut baik. Dan jika mereka zalim kami pun ikut zalim. Tetapi, teguhkan diri kalian: jika orang-orang baik, kalian haru sbaik dan jika mereka berbuat buruk, kalian jangan menjadi orang zalim.” (HR. Tirmizi)            

 

Sebab itu, setiap muslim dan muslimah harus mengambil ‘ibrah (pelajaran) dari hadis di atas, terutama mereka yang terpesona dengan gaya dan penampilan non muslim serta akhlak mereka, dan hendaknya ia menjadikan akalnya yang sehat nan cemerlang itu dan agamanya yang sempurna ini sebagai pencegah dirinya dari sikap mengekor kepada non muslim, Mudah-mudahan Allah mudahkan kita untuk tetap istikamah di jalan-Nya dengan kekuatan prinsip yang tetap kita jaga. Allahu a’lam.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.