Tarbawi

Istiqamah Pasca Bulan Penuh Berkah

Di awal bulan Syawal umat Islam bergembira dan bersukacita, bagaimana tidak? mereka telah menyempurnakan kewajiban berpuasa selama sebulan. Pada tanggal satunya mereka berhari raya, menggemakan takbir, mengenakan pakaian baru, serta melimpah ruahnya makanan-makanan enak dan lezat.

Namun, jangan sampai terlena dengan itu semua, sebab setan juga telah aktif menggoda manusia, agar hilang seluruh kebiasaan baik selama bulan Ramadan. Bahkan, bujukan itu akan sampai ke tahapan meninggalkan ibadah-ibadah wajib, dan terjerumus ke kubangan dosa dan kemaksiatan.

Ingatlah selalu firman Allah subhanahu wata’ala tentang tujuan diwajibkan puasa Ramadan:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Agar kalian bertakwa” [QS. Al-Baqarah: 183].

Di antara ciri-ciri orang yang mendapatakan derajat ini adalah konsistensinya dalam melakukan ibadah, dan selalu dalam ketaatan. Maka istiqamahlah dalam puasa, dimulai dengan puasa-puasa sunah yang disyariatkan, diantaranya; puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Arafah, puasa Asyura, puasa tiga hari setiap bulan, dan yang lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» روَاهُ مُسلِمٌ.

“Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian diikuti (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti berpuasa satu tahun” [HR. Muslim][1].

Beliau bersabda mengenai puasa Arafah: “Aku mengharap kepada Allah agar puasa hari Arafah bisa menghapuskan (dosa) pada tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya, dan aku mengharap kepada Allah agar puasa hari Asyura bisa menghapuskan (dosa) pada tahun sebelumnya” [HR. Muslim][2]. Mengenai puasa 3 hari sebulan beliau  bersabda: “Berpuasalah tiga hari setiap bulan, maka (pahalanya) itu seperti berpuasa satu tahun” [HR. Bukhari dan Muslim][3].

   Bagi yang selalu membaca Al-Quran di bulan Ramadan, bahkan mengkhatamkannya berkali-kali, teruslah membacaanya. Sungguh ia akan menjadi penolong di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ» روَاهُ مُسلِمٌ.

Baca Juga  Menyongsong Generasi Rabbani

“Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat menjadi penolong bagi para pembacanya” [HR. Muslim][4].

Bagi yang gemar bersedekah di bulan Ramadan, lanjutkanlah!. Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakan hartanya di jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji” [QS. Al-Baqarah: 261]. Keutamaan tersebut berlaku untuk setiap sedekah yang kita keluarkan, baik di bulan Ramadan atau pun selainnya. Setiap sedekah dapat memadamkan marah Allah azza wajalla, setiap sedekah bisa meluaskan rizki kita, setiap sedekah bisa menyelamatkan kita dari siksa api neraka.

Bagi pria yang rutin salat wajib berjamaah di masjid pada bulan Ramadan, tetaplah shalat lima waktu berjamaah di masjid. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«صَلاَةُ الجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةَ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Salat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian “ [HR. Bukhari dan Muslim][5].

Beliau pernah mengancam para lelaki yang tidak salat berjamaah dengan sabdanya: “Demi Allah, aku sempat ingin menyuruh (orang-orang) mengumpulkan kayu bakar untuk dinyalakan, kemudian menyuruh agar dikumandangan azan, dan menyuruh seseorang untuk menjadi imam salat, lalu aku mendatangi orang-orang (yang tidak menghadiri salat berjamaah) dan membakar rumah mereka” [HR. Bukhari dan Muslim][6].

   Bagi yang selalu salat malam di bulan Ramadan, konsistenlah dalam mendirikan malam-malammu dengan salat, walaupun tiga raka’at witir, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ اللهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Sesungguhnya Allah witir (ganjil), menyukai yang ganjil” [HR. Bukhari dan Muslim][7].

   Janganlah menjadi hamba yang menyembah Allah hanya di bulan Ramadan, sesungguhnya Rabb yang kita sembah di bulan Ramadan dan bulan-bulan lainnya sama, yaitu Allah tabaraka wata’ala. Siapa yang menyembah bulan Ramadan, sesungguhnya ia telah berlalu, siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Dia Maha Hidup yang kekal abadi. Bisyr Al-Hafy berkata: “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan”[8].  Ingatlah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga  Sifat-sifat Hamba Ar-Rahman (Sifat Kesebelas)

«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah yang konsisten meskipun sedikit” [HR. Bukhari dan Muslim][9].

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kita kemudahan dan taufik dalam beribadah kepada-Nya, melimpahkan kepada kita kekuatan dan kemampuan dalam menjalankan perintah-perintahNya, dan menerima seluruh ibadah-ibadah kita, serta menjadikan kita hamba-hambaNya yang bertakwa, Allahumma Amin.

[1] . (Shahih Muslim: 1164).

[2] . (Shahih Muslim: 1162).

[3] . (Shahih Bukhari: 3419, Shahih Muslim: 1159).

[4] . (Shahih Muslim: 804).

[5] . (Shahih Bukhari: 645, Shahih Muslim: 650).

[6] . (Shahih Bukhari: 644, Shahih Muslim: 651).

[7] . (Shahih Bukhari: 6410, Shahih Muslim: 2677).

[8] . (lathaif Ma’arif: Hal. 222).

[9] . (Shahih Bukhari: 6464, Shahih Muslim: 783).

Sadnanto. BA. MA

Kandidat Doktor Ulumul Hadis Universitas Islam Madinah

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?