Iman Kepada Hari Kiamat dan Tanda-tandanya

91

Kaum muslimin, jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla

Salah satu sifat orang-orang yang bertakwa dan beriman adalah menyakini perkara yang gaib, sebagaimana dalam firman Allah ketika menyebutkan karakter mereka,

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman kepada perkara yang gaib, mendirikan salat, dan orang yang menginfakkan sebagian rezekinya”. (QS. Al-Baqarah: 3).

Yang dimaksud dengan perkara gaib adalah perkara yang tidak terlihat oleh mata, seperti malaikat, surga, neraka, mizan (timbangan). Termasuk dalam kategori perkara yang gaib pula kejadian-kejadian yang akan terjadi di waktu yang akan datang, seperti hari kiamat. Oleh karena itu, iman kepada datangnya hari kiamat termasuk salah satu rukun Iman.

            Hari kiamat termasuk dalam perkara yang gaib sebab ia bagian dari kejadian masa yang akan datang, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu kejadiannya, Allah berfirman,

إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى

Artinya: “Sesungguhnya hari kiamat pasti terjadi, namun Aku merahasiakan waktu terjadinya, agar setiap manusia dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan”. (QS. Thaha: 15).

Kaum muslimin, jamaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

            Banyak manusia yang tidak menyakini datangnya kiamat, kendati telah di jelaskan oleh Allah di dalam Al-Quran dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di dalam Sunnah, sebab kiamat ini terjadi di masa yang akan datang. Untuk membuktikan tentang kebenaran datangnya hari kiamat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang kejadian-kejadian dan tanda-tanda yang mengiringinya, sehingga jika manusia menyaksikan terjadinya tanda-tanda tersebut diharapkan dapat menjadikan mereka mengimani datangnya kiamat yang sesungguhnya.

            Selain untuk membuktikan kebenaran datangnya hari kiamat, informasi terkait tanda-tanda tersebut juga menghadirkan beberapa hikmah, di antaranya;

 

  • Sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam

Hadis-hadis terkait fitnah dan tanda-tanda terjadinya kiamat sejatinya adalah bukti valid tentang kebenaran kenabian Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sebab hadis tersebut terkait dengan informasi tentang peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang yang merupakan bagian dari perkara gaib. Perkara gaib ini adalah informasi yang hanya dimonopoli pengetahuannya oleh Allah semata, Allah berfirman,

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), tiada sesuatu pun di langit maupun di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan akan bangkitkan”. (QS. An-Naml: 65).

Ayat ini menafikan pengetahuan semua makhluk baik yang di langit maupun yang di bumi terkait perkara yang gaib, kemudian menetapkan pengetahuan perkara tersebut kepada Allah semata. Ini menunjukkan bahwa mengetahui perkara yang gaib adalah kekhususan bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah juga berfirman,

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

Artinya: “Katakan (wahai Muhammad), sesungguhnya saya tidak kuasa mendatangkan manfaat apa pun maupun menolak mudarat kecuali yang dikehendaki Allah, sekiranya saya mengetahui perkara yang gaib niscaya saya akan memperbanyak melakukan sesuatu yang membawa manfaat bagiku dan akan jauh dari bahaya”. (QS. Al-A’raf: 188).

Ayat ini memaparkan bahwa Nabi Muhammad pun sejatinya tidak mengetahui perkara yang gaib, apa yang beliau informasikan terkait hal tersebut merupakan wahyu yang Allah turunkan kepada beliau, Allah berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا ۞ إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Artinya: “(Allah) mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan perkara yang gaib tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjagaan (berupa malaikat) di depan dan di belakang”. (QS. Al-Jinn: 26-27).

Maka ayat dan hadits-hadits yang menginformasikan tentang perkara ghaib, merupakan bukti konkrit terkait kenabian Nabi Muhammad shallahu alaih wa sallam.

  • Sebagai ujian bagi keimanan hamba

Di antara sifat orang-orang yang beriman adalah mengimani perkara-perkara gaib, Allah berfirman,

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, menegakkan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”. (QS. Al-Baqarah: 3).

            Mengimani perkara yang kongkrit dan dapat dilihat oleh mata adalah hal lumrah, dan hal ini bukan ujian hakiki bagi keimanan seorang hamba. Namun, ujian yang hakiki bagi keimanan seseorang adalah keyakinannya kepada hal yang gaib, yaitu hal yang tidak dapat ditangkap oleh penglihatan mata, bahkan mungkir di luar nalar manusia. Perkara gaib ada tiga jenis:

  1. Perkara atau peristiwa yang telah berlalu. Biasanya dalam bentuk kisah-kisah kaum yang terdahulu yang telah musnah, termasuk kisah para Nabi dan Rasul yang hidup ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad diutus.
  2. Perkara yang terjadi zaman sekarang (ketika seseorang hidup). Seperti perkara yang berkaitan dengan ajal, musibah, rezeki seorang hamba, sebab seorang hamba tidak mengetahui akhir ajalnya, waktu musibahnya, dan kadar rezeki yang akan diterimanya pada detik dan waktu saat dia hidup, bisa jadi detik itu dia meninggal atau mendapat musibah, atau memperoleh rezeki.
  3. Perkara ghaib yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Seperti informasi terkait “fitnah-fitnah” yang akan terjadi, dan riwayat tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat, khususnya tanda-tanda yang besar. Perkara ini selain termasuk perkara yang gaib, sebagian tanda-tanda tersebut juga berada di luar nalar manusia, seperti: keluarnya Dajal, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, terbitnya matahari dari arah barat, dan munculnya Dabbah (binatang raksasa).

Di antara tiga jenis perkara ini, jenis ketigalah yang paling dahsyat. Sebab untuk perkara pertama; seseorang dapat memperoleh informasi lewat kisah dan cerita orang-orang di sekitarnya, yang dinukil dari lisan ke lisan sampai zaman tersebut. Untuk perkara kedua; terkadang bisa diketahui lewat tanda-tanda tertentu, misalnya sakit berat yang menjadi salah satu tanda dekatnya ajal seseorang. Adapun perkara yang ketiga, maka tidak dapat dibuktikan dengan sesuatu apa pun, kecuali dengan adanya keimanan yang kokoh di dalam sanubari.

Jadi, informasi terkait tanda-tanda kiamat yang akan terjadi di masa akan datang, adalah salah satu ujian berat bagi keimanan seorang hamba.

  • Agar hamba mempersiapkan diri menghadapi akhir dunia

Hal ini merupakan salah satu tujuan terbesar dari informasi tentang tanda-tanda kiamat, sebab jika seorang hamba melihat tanda-tanda hari kiamat terjadi sesuai yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia akan terpacu untuk menyiapkan bekal bagi kehidupan setelah hari kiamat terjadi, berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah, dan giat melaksanakan ibadah kepada-Nya. Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang bertanya tentang waktu terjadinya hari kiamat,  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam justru bertanya kepadanya,

وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟

Artinya: “Lalu apa yang engkau persiapkan untuk menyongsongnya?”. (HR. Bukhari: 3688, dan Muslim: 2639).

Leave A Reply

Your email address will not be published.