Tatsqif

Identitas Islam Yang Harus Dijaga (3)

Mengenal Identitas Islam

          Pada artikel sebelumnya telah disebutkan lima identitas umum umat Islam yang harus dipelihara, dijaga dan dipertahankan. Berikut  empat identitas penting lainnya;

  1. Bahasa Arab.

Bahasa Arab adalah satu-satunya bahasa kitab suci yang masih eksis semenjak kitab tersebut diturunkan dari langit. Sampai saat ini semua kaum muslimin di dunia membaca kitab suci Al-Qur’an sebagaimana Nabi mereka membacanya.

Dua referensi dasar hukum Islam, yakni Al-Qur’an dan hadis juga berbahasa Arab, sehingga siapa saja dari kaum muslimin yang ingin belajar dan mendalami ilmu-ilmu syariat, ia harus terlebih dahulu mahir dalam bahasa Arab. Karena belajar Islam dari sumber asalnya melalui bahasa perantara (terjemahan) kualitasnya pastilah berbeda.

Oleh sebab itulah, dari hati Nurani yang paling dalam, dan kecintaan kepada agama ini, kaum muslimin di seluruh dunia berusaha kuat untuk menguasai bahasa ini dan memasukkan putra-putri mereka ke lembaga-lembaga pengajaran bahasa Arab. Apalagi ulama-ulama Islam menyatakan bahwa hukum belajar Bahasa Arab adalah fardhu kifayah, jika tidak ada diantara kaum muslimin yang mengerjakannya, maka mereka semua akan berdosa.

Imam Ibnu Taimiah berkata: “Telah diketahui bersama, bahwa belajar dan mengajarkan bahasa Arab (hukumnya) fardhu kifayah.” (Majmu’ Fatawa: 32/252).

Harmalah berkata, aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Tidaklah Manusia menjadi jahil dan berselisih melainkan karena mereka meninggalkan lisan (bahasa) Arab dan berpaling kepada bahasa Aristoteles.” (Siar A’lam al-Nubala’: 8/268).

Intinya, bahasa Arab adalah bahasa ibadah yang mendekatkan diri setiap hamba kepada Sang Khaliq. Bahasa Arab adalah bahasa ilmu pengetahuan, membantu siapa saja yang ingin menggali ilmu dunia dan akhirat dari sumber terotentik sepanjang masa, Al-Qur’an al-Karim dan sunah nabawiah. Bahasa Arab adalah bahasa persatuan dan persaudaraan, dimana hubungan sosial kaum muslimin menjadi lebih erat dengan menebar salam dan berkomunikasi dengan bahasa persatuan muslimin secara global.

  1. Kiblat

Ka’bah adalah rumah ibadah yang pertama kali didirikan di muka bumi dan masih eksis sampai detik ini. Allah menjadikan Ka’bah sebagai kiblat kaum muslimin di seluruh dunia. Ka’bah menjadi simbol persatuan muslim dunia. Setiap muslim di manapun dia berada wajib shalat menghadap kiblat, ia juga disunahkan menghadap kiblat saat berdoa, membaca Al-Qur’an dan ibadah lainnya, bahkan setelah mati dan meninggalkan dunia, jasadnya tetap dihadapkan ke kiblat (Ka’bah).

Baca Juga  MENJAGA IDENTITAS ISLAM (I)

Agama yang dibawa para nabi dan rasul adalah sama; yaitu agama Islam, maka Ka’bah juga menjadi pusat ziarah para nabi untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.  Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Telah Melewati Batu besar di Rawha’ tujuh puluh nabi, tanpa alas kaki dan memakai jubah, semuanya menuju baitullah al-Atiq, di antara mereka ada nabi Musa ‘alaihissalam. (HR. Abu Ya’la, no. 4275, Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 12). Rawha’ adalah perkampungan yang terletak antara Medinah dan Mekkah, berjarak sekitar 80 Km dari Kota Medinah.

Bahkan Nabi Isa alaihissalam di akhir zaman nanti akan melewati Rawha menuju Baitullah. Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, pastilah Isa Putra Maryam bertalbiah di Rawha’ untuk haji atau umrah atau keduanya.” (HR. Muslim, no. 1252).

Ini semua menunjukkan keutamaan Baitullah, sebagai pusat pemersatu para Nabi Allah dan umat Islam sepanjang masa.

  1. Takwim Hijriah.

Takwim hijriah bukan sekedar kalender biasa. Ia adalah simbol identitas Islam. Tarikh Islam dan pristiwa-peristiwa bersejarah perkembangan Islam yang gemilang sangat berkaitan erat dengan takwim hijriah. Bahkan penetapan pelaksanaan berbagai ibadah selalu dilekatkan dengan bulan-bulan hijriah, seperti puasa Ramadan, haul zakat, ibadah haji, dsb.

Takwim hijriah didasarkan pada pembagian waktu yang ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala. Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.” (QS. At-Taubah: 36).

Hijriah ditetapkan menjadi kalender resmi kaum muslimin oleh Umar bin Khattab yang disandarkan pada persitiwa terpenting dalam sejarah perkembangan dan kejayaan Islam, yakni peristiwa hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah al-Munawwarah. Kalender hijriah kemudian menjadi identitas peradaban Islam sampai kurang lebih seribu tahun.

Baca Juga  Urgensi Dan Efisiensi Waktu

Setelah khilafah islamiah terakhir berhasil diruntuhkan, negara-negara Islam dijajah dan ditundukkan, maka identitas-identitas Islam mulai dikaburkan atau dihapuskan, termasuk kalender masehi dijadikan patokan penanggalan internasional. Sebagai bagian dari usaha menjauhkan umat Islam dari identitas aslinya, dari sejarah dan peradaban gemilangnya, bahkan dari syiar-syiar agamanya.

Meski demikian, mayoritas kaum muslimin masih menjadikan takwim hijriah sebagai patokan momen-momen ibadah, karena ibadah puasa, haji dan lainnya tidak bisa dilepaskan dari bulan-bulan hijriah, sesuai tuntunan Allah dan rasul-Nya, walhamdulillah.

  1. Menebar salam.

Menebar salam berarti menebar kedamaian kepada semua manusia dan mendoakan kebaikan, rahmat serta keberkahan bagi sesama muslim. Inilah hikmah agung dari ucapan “Assalamu ‘alaikum“. Kaum muslimin adalah umat yang konsisten dengan tuntunan mulia ini, padahal Allah sudah menjadikannya salam umat manusia sejak Nabi Adam alaihissalam, sehingga sejak Nabi Muhammad memerintahkan umatnya untuk menebar salam, jadilah salam ini sebagai identitas khusus umat Islam.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setelah Allah menciptakannya (Adam), Allah berfirman: pergilah dan ucapkanlah salam kepada mereka, mereka adalah sekelompok malaikat yang tengah duduk, lalu dengarkanlah jawaban mereka, itulah salammu dan salam keturunanmu.” Beliau (Rasulullah) bersabda: “Adam pun pergi dan mengucapkan ‘Assalamu ‘alaikum’. Mereka menjawab ‘Assalamu ‘alaika wa rahmatullah’.” Beliau bersabda: “Mereka menambahinya: warahmatullah.” (HR. Muslim, no. 2841).

Saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hijrah dan tiba di Madinah, di antara wasiat yang pertama kali beliau sampaikan adalah menyebarkan salam. Uniknya, wasiat ini didengar oleh seorang ulama Yahudi Madinah yang di kemudian hari beriman dan masuk Islam. Beliau Adalah Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan:

Baca Juga  Tujuh Gelar Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhuma

“Ketika Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasulullah telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalinlah silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’”  (HR. Bukhari dalam “al-Adab al-Mufrad”, no. 981).

Jelas sekali dari hadis ini betapa pentingnya menebarkan salam di tengah kaum muslimin, dan seharusnya ‘salam’ menjadi identitas mereka, di mana ada komunitas kaum muslimin, maka salam akan menjadi sapaan yang terdengar di mana-mana. Sehingga rasa aman di hati, rasa ketentraman di tengah masyarakat, dan rasa cinta benar-benar membumi. Inilah tujuan mulia dari perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menebar salam kedamaian.

Sahabat mulia, Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalian semua tidak akan masuk surga sebelum beriman. Dan kalian belum bisa sempurna imannya sebelum saling mengasihi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mengasihi? Sebarkanlah salam diantara kalian.’” (HR. Muslim).

Setiap muslim dan muslimah punya tanggungjawab yang sama untuk menjaga dan mempertahankan identitas Islam, karena jika identitas tersebut menjadi kabur dan tidak jelas, atau malah hilang, maka umat Islam akan kehilangan arah, dan jika kehilangan arah maka sulit bagi mereka untuk mencapai target-target mulia Islam sebagai agama pilihan terakhir. Wallahu a’lam.

Abu Zulfa, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Fiqih dan Ushul, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?