Hikmah di Balik Musibah Corona

308

Kita tentu mengetahui bahwa tidak ada yang terjadi di dunia ini melainkan telah ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

 

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua perkara yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [QS. Al-An’aam: 59]

 

Semua sudah menjadi takdir-Nya

Segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah, baik yang besar maupun yang kecil. Apa yang telah terjadi hari ini adalah kehendak Allah dan ini adalah keistimewaan orang-orang beriman ketika ia menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari ketentuan Allah. Maka kepadanya akan mewariskan As-Sakinah dan At-Thuma’ninah, ketika dia pasrah dan rida terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla tersebut.

 

Sebagaimana perkataan ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu yang pernah berwasiat kepada putranya:

 

إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

 

“Sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakikat iman hingga engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan oleh Allah akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu”

 

Bagi orang yang beriman, hal seperti ini sudah mereka persiapan sebelumnya. Orang yang beriman senantiasa mempersiapkan dirinya dalam ‘kondisi dia diuji’ baik dengan kebaikan ataupun keburukan, sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

 

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’:35).

 

Ibnu Yazid rahimahullah mengatakan tentang makna ayat ini, “Kami uji kalian dengan sesuatu yang disenangi dan yang dibenci oleh kalian, agar Kami melihat bagaimana kesabaran dan syukur kalian.”

 

Oleh karena itu, kita harus kita lakukan adalah beristirja dengan mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, sembari bersabar agar mendapatkan pahala dari-Nya. Karena apabila kita mendapatkan musibah kemudian kita bersabar dan mengembalikannya kepada Allah, di situlah kita mendulang pahala. Sebaliknya walaupun kita marah dan murka terhadap cobaan, itu juga tidak akan mengubah takdir Allah dan justru kita mendapatkan dosa dari apa yang kita lakukan.

 

Bangun optimisme Ummat

Sebagai Thulabul-‘Ilm (penuntut ilmu) dan sebagai dai yang berkecimpung di media sosial, jadikan ini sebagai senjata untuk menenangkan umat. Kirimkan kepada masyarakat islam ruh dan optimisme agar mereka tidak larut dalam kegalauan.

 

Secara fitrah, tentu kita semuanya bersedih atas musibah ini, namun kita tidak boleh larut, ini tidak lepas dari takdir dan ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam kondisi yang seperti ini, saatnya kita mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dan mengambil poin-poin hikmah dari rukun iman Beriman kepada Qada’ dan Qadar.

 

Dengan peran dai diharapkan dapat mengembalikan umat ini kepada relnya, yakni kembali bersemangat beribadah kepada Allah. Bukankah tujuan utama kita berada di dunia ini adalah untuk menyembah kepada Allah dengan sebenar-benar penyembahan?

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Saatnya muhasabah diri

Tentu, kita juga dituntut untuk senantiasa melakukan muhasabah, kemudian kita istislam (berpasrah diri) atas semua yang terjadi. Musibah yang diturunkan oleh Allah juga tidak lepas dari ulah tangan manusia. Oleh karenanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Al-Rûm: 41)

 

Allah menurunkan musibah kepada kita hanya sebagian saja. Bayangkan, musibah Corona ini disebutkan mengakibatkan 3% tingkat kematian bahkan kurang dari itu. Yang terkena kematian pun umumnya adalah orang-orang tua yang sudah memiliki penyakit kronis. Boleh jadi jika Allah berkehendak, musibah yang terjadi saat ini dapat meningkatkan tingkat kematian akibat covid-19 hingga 100% dan tentu Allah dapat melakukan itu.

 

Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan bencana itu untuk mengingatkan kita yang lalai agar kembali ke jalan yang benar. Berusahalah untuk senantiasa mengisi kehidupan ini dengan keimanan dan ketaqwaan, ini akan menjadi sebab Allah menurunkan keberkahan. Allah Ta’ala berfirman:

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raf : 96).

 

Jadi, dengan ketaatan kita kepada Allah, akan mengundang keberkahan. Sebaliknya jika kita menjalani kehidupan ini dengan kemaksiatan, ini tentunya akan mengundang azab.

 

Di dalam hadis yang sahih disebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita, “Apabila terjadi awan gelap, angin topan, dan sebagainya, wajah Rasulullah yang penuh cahaya akan berubah pucat karena rasa takut. Kadangkala, beliau berada di dalam atau keluar sambil terus membaca doa: ‘Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang berada di dalamnya, dan kebaikan yang dikirim karenanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan padanya, dan keburukan yang dikirim karenanya.’ Jika hujan mulai turun, wajah Rasulullah akan mulai cerah. Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, ‘Ya Rasulullah! Semua orang suka jika melihat awan mendung sebagai pertanda akan turun hujan, tetapi mengapa engkau seperti ketakutan?’ Nabi menjawab, ‘Wahai Aisyah! Bagaimana aku akan tenang jika belum dipastikan di dalamnya tidak akan turun azab? Kaum ‘Ad telah diazab oleh Allah dengan keadaan seperti ini. Ketika melihat awan hitam, mereka senang. Mereka menganggap akan turun hujan. Padahal, itu adalah pertanda Azab Allah kepada mereka’.”

 

Allah berfirman:

 

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَٰذَا عَارِضٌ مُّمْطِرُنَا ۚ بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ ۖ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ تُدَمِّرُ كُلَّ شَىْءٍۭ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا۟ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمْ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْقَوْمَ ٱلْمُجْرِمِينَ

 

“Ketika orang-orang itu (Kaum ‘Ad) melihat bahwa awan tersebut menuju ke arah lembah-lembah mereka, mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan ke atas kita.’ (Allah menjawab), ‘Bukan, itulah ancaman yang kamu minta untuk disegerakan (karena kalian telah berkata kepada Nabi alaihissalam, ‘Jika kalian memang benar sebagai Nabi, kirimkanlah azab kepada kami}’. Angin yang terdapat di dalamnya azab yang sangat pedih. Tidak kelihatan, kecuali bekas rumah-rumah mereka. Demikianlah, kami membalas kaum yang durhaka.” (QS Al-Ahqaf: 24-25).

 

Musibah yang menimpa kita saat ini adalah momen untuk bermuhasabah dan kembali kepada Allah. Ini tidak kita sampaikan dan tujukan kepada orang lain melainkan untuk diri kita sendiri.

 

Ketika Umar ibnu Al-Khattab mengutus Sariyah bin Zanin Al-Khulajiy dan pasukaannya dalam suatu perang dan ia kembali dengan kemenangan, Umar kemudian bertanya, “Kapan kalian mulai berperang?” Mereka menjawab, “Di pagi hari”. Umar bertanya lagi, “Kapan kalian mendapatkan kemenangan?” Mereka menjawab, “Di sore hari”. Umar pun berkata, “Ini adalah sebuah keterlambatan yang sangat lama, entah ini karena dosa yang saya lakukan atau dosa yang kalian lakukan”.

 

Berinstropeksi dirilah terhadap apa-apa yang telah kita perbuat. Kadangkala kita mengetahui apa yang telah diperintahkan dan apa yang dilarang Allah, tetapi masih saja kita mengerjakan perbuatan yang batil dan tidak mengerjakan apa-apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun kita sudah mengetahui hukumnya. Betul bahwa kita melihat kemaksiatan di mana-mana tetapi jangan sampai kita memiliki andil terhadap terjadinya musibah itu, na’udzu billah.

 

Tetap bersyukur kepada-Nya

Hikmah lain yang dapat kita petik dari musibah ini adalah betapa banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Allah Ta’ala berfirman:

 

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

 

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An–Nahl: 18)

 

Namun terkadang nikmat yang banyak itu baru kita rasakan kehadirannya ketika telah dicabut. Terkadang manusia tidak menyadari bahwa begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah. Ketika orang sudah lupa diri dan selalu tidak puas dengan apa yang ia dapatkan, jangankan nikmat yang sedikit, nikmat yang banyak yang ada pada dirinya pun tak akan dia syukuri.

 

Ingatlah betapa kecilnya kita dihadapan Allah. Allah ‘Azza wa Jalla melalui musibah ini ingin mematahkan kesombongan dan ujub kita. Mereka yang selalu menyombongkan perekonomiannya dan kedikdayaannya serta teknologinya tidak bermanfaat sedikit pun. Ini menunjukkan kelemahan kita dihadapan Allah.

 

Mohon pertolongan Allah

Akhirnya, tidak ada yang mampu menolong kita dari pandemi ini kecuali Allah Ta’ala. Bagi Allah semua yang terjadi ini mudah untuk dikembalikan pada keadaan normal. Olehnya itu mari perbanyak doa dan pujian kepada Allah. Kita tidak pernah tahu doa siapa di antara kita yang akan diijabah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Semoga ujian ini segera diangkat Allah, agar kita bisa be-ramadan-ria dengan penuh keakraban dan kekhyusukan. Amin.

 

Wallahu a’lam bish-Shawab.

Leave A Reply

Your email address will not be published.