Akhlak

Hapus jejak kesalahanmu dengan kebaikan

Manusia diciptakan diiringi dengan berbagai ujian yang telah menjadi takdir bagi setiap mereka baik bagi orang kafir maupun orang beriman, bahkan untuk orang-orang yang beriman Allah menegaskan di dalam Al Qur’an melalui firman-Nya:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?” QS. Al Ankabut: 2.

Dari ayat inilah sebagian ulama mengatakan bahwa siapa saja yang mengarungi kehidupan dunia ini dan mengaku beriman maka harus merasakan ujian yang akan ditimpakan kepadanya. Namun bukan berarti Allah akan terus menerus menguji mereka secara berturut-turut melainkan untuk menyadarkan sekaligus menjadi peringatan bagi mereka yang terlena dan larut dengan kemerlapan dunia dengan berbagai isinya sehingga lupa terhadap Rabbnya.

Ujian yang Allah timpakan kepada hamba-hamba-Nya pun beraneka ragam, mulai dari ujian yang menimpa diri, keluarga, harta, jabatan dan seterusnya. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”. QS.Al Baqarah: 155.

Berkata Syekh as Sa’di terkait ayat ini: “Allah mengabarkan bahwasanya sudah menjadi kepastian akan ujian yang akan ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya untuk mengetahui siapa yang jujur dengan keimanannya dan siapa yang hanya berpura-pura beriman, begitupun untuk mengetahui siapa yang tidak mampu sabar terhadap ujian dan siapa yang mampu bersabar atasnya, dan ini merupakan sunnatullah terhadap hamba-hambaNya”.

Di antara ujian-ujian itu adalah ujian yang menimpa diri atau jiwa, dan di antara bentuk ujian yang menimpa diri adalah seringnya tergelencir pada suatu kesalahan atau dosa karena pada dasarnya setiap manusia tidak terlepas dari kesalahan, lantaran ia difitrakan dengan kelemahan dan ketidaktundukan kepada Tuhannya, namun demikian Allah membukakakan bagi mereka pintu taubat. Oleh karenanya di dalam sebuah hadis dari sahabat yang mulia Anas bin Malik radiallahu ‘anhu mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga  Hati-hati Dengan Lisan

كل بني آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون

Artinya: “Setiap anak Adam berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”. HR.Tirmidzi 2499

Dari hadis ini juga dipetik satu pelajaran berharga bahwa terjatuh pada kesalahan atau dosa merupakan hal yang wajar, tetapi wajib bagi mereka untuk segera bertobat dan tidak larut dalam kesalahan dan dosa yang ia lakukan itu. Karena pada hakikatnya seseorang yang bertobat dari suatu dosa maka bagaikan tak ada dosa baginya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التائب من الذنب كمن لا ذنب له

Artinya: “Orang yang bertobat dari satu dosa bagaikan tak ada dosa lagi baginya”. HR.Ibnu Majah 4250. Tobat yang dimaksudkan adalah tobat yang sesungguhnya atau tobat nasuha.

Bagi orang yang beriman tatkala melakukan suatu dosa atau kesalahan pasti akan merasa cemas dan takut jikalau jejak-jejak kesalahan yang ia lakukan akan selamanya berbekas, padahal pada hakikatnya ia bisa terhapus dengan kebaikan yang dilakukan setelahnya. Dan ini merupakan di antara bentuk kasih sayang Allah dan keadilanNya terhadap hamba-hambaNya yang tidak membiarkan jejak kesalahan atau dosa itu berbekas selamanya, Allah berfirman:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ

Artinya: “Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan”. QS.Hud: 114.

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada, tutupilah keburukan itu dengan kebaikan niscaya ia akan menghapusnya, dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik”. HR. At Tirmidzi

Baca Juga  Cara Menumbuhkan dan Menjaga Sifat Malu dan Muraqabatullah (Merasa Diawasi Allah) - Bag. 1

Kendati ada silang pendapat di kalangan ulama terkait maksud dari “alhasanah” pada kedua dalil di atas, namun mayoritas mengatakan bahwa “alhasanah” mencakup segala bentuk kebaikan, dan kebaikan yang paling utama adalah bertobat karena ia merupakan kebaikan di atas kebaikan, lalu kebaikan setelahnya adalah salat karena dengan seseorang mendirikan salat maka akan terhindar dari perbuatan keji, sebagaimana firman Allah:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

Artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. QS.Al Ankabut: 45.

Adapun jejak kesalahan atau keburukan yang dimaksudkan adalah bekas kesalahan tersebut dalam hati dan pada buku catatan amal, artinya ia akan dihapus dari buku catatan amalnya.

Oleh karena itu, selama keimanan masih ada di dalam hati kita jangan biarkan ia ternodai dengan bekas-bekas kesalahan atau dosa yang telah dilakukan, perbanyaklah melalukan kebaikan dengan segala bentuknya agar bekas-bekas itu terhapus yang dengannya menjadikan hati kembali suci.

Darul Idam, Lc.

Mahasiswa S2, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?