Motivasi Islami

Hakikat Dosa “Menyebabkan Luka dan Menimbulkan Kepedihan” (Part. 4, Tamat)

  1. Menjadikan Setan Bangga dan Semakin Bersemangat Menyesatkan Si Pendosa

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya, “Apakah setan pernah tidur?”, beliau menjawab, “Jika setan memiliki kebiasaan tidur, kita akan bisa istirahat dengan tenang”.

Saudaraku, setiap dosa dan maksiat yang engkau kerjakan membuat setan senang, karena ketika engkau melakukan dosa, kedudukanmu sama dengannya, selain itu dosa-dosa itu dapat mengantar pada kekufuran, dan kufur adalah jalan menuju neraka, setan tentu saja tidak ingin sendirian kekal di dalamnya.

Inilah rahasia mengapa setan menangis ketika dia mendengar atau melihat manusia ketika membaca ayat sajadah lalu sujud, setan berkata, “Celakalah, manusia diperintah untuk bersujud, ia pun sujud dan baginya surga, sedangkan aku diperintahkan untuk sujud, aku membangkang dan neraka adalah balasan bagiku”.

Maka buatlah setan kesal dengan memperbanyak dan berlama-lama sujud serta ruku’, jadikan dia menangis putus asa di dunia sebelum tangisannya pecah di jahanam kelak.

Mutharrif bin Abdullah berkata, “Ketika pemburu melihat hewan buruannya dan hewan buruan itu tidak melihat si pemburu, bukankah kemungkinan besar si pemburu akan berhasil menangkapnya?”. Ya begitulah setan, dia melihat kita dan kita tidak bisa melihatnya, sehingga kita menjadi sasaran yang empuk baginya (untuk disesatkan).

  1. Su’ul Khatimah (Kematian yang Buruk)

Dosa-dosa mengantarkan pada su’ul khatimah, karena manusia akan mati dalam kebiasaan yang dia lakukan di kesehariannya. Maka, siapa yang ingin meninggal dalam keadaan bersujud, jadikanlah sujud sebagai amal yang paling banyak dilakukan dalam hidup. Begitu pula bagi yang ingin meninggal dalam keadaan berpuasa dan berzikir serta amal-amal saleh lainnya.

Pendosa juga demikian, ketika kalian melihat seseorang meninggal dalam kondisi yang buruk, maka ketahuilah bahwa ia telah melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah semasa hidupnya, dan ia pun dijauhkan dari rahmat Allah ketika ia mati.

Baca Juga  Nilai Waktu Bagi Seorang Muslim

Berikut dua contoh orang yang mati dalam kondisi yang mengenaskan:

Muhammad bin Mughits Al Maghribi (403 H)

Ia dahulu terjerumus dalam minum-minuman keras dan sudah kecanduan olehnya sampai-sampai ia tak bisa melewati satu hari tanpanya. Sebagian saudaranya bertanya padanya untuk mengetahui kondisi tubuhnya saat ia sedang sakit yang menyebabkan kematiannya, “Apakah kamu bisa bangun dengan kondisimu sekarang?”, dia menjawab, “Kalau aku bisa bangun, sudah pasti aku akan pergi ke tempat Abu Zakaria untuk beli bir di sana”, saudaranya bertanya lagi, “Bukankah lebih baik jika Kamu katakan bahwa kamu ingin pergi ke masjid jika kamu bisa bangun?”, ia pun menjawab, “Setiap orang akan kembali sesuai dengan kebiasaannya, dan aku tidak terbiasa dengan masjid”. Demikianlah saudaraku, kelak seseorang akan dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sebagaimana ia meninggal.

Musthafa Kamal Ataturk (1358 H)

Namanya tidak sesuai dengan perilakunya saat hidup. Ia memerangi Islam, menghancurkan kekhilafahan dan mengganti azan dengan bahasa Turki, mengubah hari libur dari Jumat ke hari Sabtu, ia juga menjadikan masjid Aya Sofia sebagai museum. Suatu hari ia kesal dengan suara azan subuh, lalu ia perintahkan bawahannya untuk membunuh sang muazin dan menghancurkan menara azan masjid itu. Suatu hal yang menghibur tapi sekaligus menyedihkan, dia berwasiat agar tidak disalatkan ketika dia mati kelak.

Saat ia mati, terjadi perdebatan apakah dia akan disalatkan atau tidak yang pada akhirnya diputuskan agar tetap disalatkan, namun tahukah kalian siapa yang menjadi imam salat jenazahnya? Dia adalah direktur wakaf Turki yang bernama Syarafuddin Afandi, ia adalah dalang dibalik penghasutan Presiden Turki setelah Kamal Ataturk agar menjadikan bahasa Turki sebagai bahasa dalam membaca Alquran dan dalam ibadah-ibadah lainnya, serta mewajibkan membaca Alquran dengan bahasa Turki di masjid-masjid dengan menerbitkan undang-undang resmi atasnya. Maka cocoklah antara Imam dan jenazah yang dishalatkan.

Baca Juga  Amar Makruf Nahi Mungkar Bukti Cinta Kepada Allah

Demikianlah sebagian dampak negatif dari perbuatan dosa. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan setelah kita mengetahui bahaya dari perbuatan dosa? Berikut sebagian tipsnya:
1. Ukurlah keimanan Anda dengan timbangan sensitifitas Anda terhadap dosa, dan jadikan hasilnya sebagai langkah awal untuk memperbaiki diri.

  1. Jalan pertama untuk kembali pada Allah adalah tobat dan merasa sedih dan menyesal karena telah terjatuh dalam perbuatan dosa lalu bayangkan dampak negatif dari dosa di atas.
  2. Ingatlah, siapa yang menahan dirinya dari kenikmatan sesaat yang terlarang di dunia, maka ia akan menikmati nikmat itu sepuasnya di surga kelak.
  3. Siapa yang melakukan perbuatan-perbuatan orang kafir, munafik dan zalim, kelak akan dikumpulkan bersama mereka.
  4. Jika engkau lupa apa saja dampak negatif dari perbuatan dosa, maka pergilah ke kuburan untuk mengingatkan dirimu, jika tidak bisa, pergilah bergaul dengan orang-orang saleh, dan jika tidak bisa, hadirilah majelis-majelis ilmu dan zikir, jika tidak bisa juga, lalu ceklah detak jantungmu untuk mengetahui apakah Anda masih hidup atau sudah mati.
  5. Siapa yang membenci sesuatu, ia akan lari meninggalkannya. Siapa yang mencintai sesuatu, ia akan terus mengusahakan untuk mendapatkannya. Bacalah kembali tulisan ini sekali, dua kali dst, agar engkau lebih terlatih untuk menghindari perbuatan dosa, mudah-mudahan engkau berjaya dan menang serta bahagia di sisi Allah kelak. (Tamat)

Yusta Rizaldi, S.Pd.

Mahasiswa S2, Jurusan Tarbiyah, Qassim University

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?