Hadis

Hadis Badui Keempat: Tawaduk Nabi Muhammad ﷺ

Hadis Badui Keempat

TAWADLU NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WASSALLAM

Imam Al-Bukhari رحمه الله تعالى berkata:

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Sa‘id yaitu Al-Maqburi, dari Syarik bin ‘Abdillah bin Abi Namir, bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata:

“بيْنَما نَحْنُ جُلُوسٌ مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في المَسْجِدِ، دَخَلَ رَجُلٌ علَى جَمَلٍ، فأناخَهُ في المَسْجِدِ ثُمَّ عَقَلَهُ، ثُمَّ قالَ لهمْ: أيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟ والنبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُتَّكِئٌ بيْنَ ظَهْرانَيْهِمْ، فَقُلْنا: هذا الرَّجُلُ الأبْيَضُ المُتَّكِئُ. فقالَ له الرَّجُلُ: يا ابْنَ عبدِ المُطَّلِبِ فقالَ له النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: قدْ أجَبْتُكَ. فقالَ الرَّجُلُ للنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: إنِّي سائِلُكَ فَمُشَدِّدٌ عَلَيْكَ في المَسْأَلَةِ، فلا تَجِدْ عَلَيَّ في نَفْسِكَ. فقالَ: سَلْ عَمَّا بَدا لكَ فقالَ: أسْأَلُكَ برَبِّكَ ورَبِّ مَن قَبْلَكَ، آللَّهُ أرْسَلَكَ إلى النَّاسِ كُلِّهِمْ؟ فقالَ: اللَّهُمَّ نَعَمْ. قالَ: أنْشُدُكَ باللَّهِ، آللَّهُ أمَرَكَ أنْ نُصَلِّيَ الصَّلَواتِ الخَمْسَ في اليَومِ واللَّيْلَةِ؟ قالَ: اللَّهُمَّ نَعَمْ. قالَ: أنْشُدُكَ باللَّهِ، آللَّهُ أمَرَكَ أنْ نَصُومَ هذا الشَّهْرَ مِنَ السَّنَةِ؟ قالَ: اللَّهُمَّ نَعَمْ. قالَ: أنْشُدُكَ باللَّهِ، آللَّهُ أمَرَكَ أنْ تَأْخُذَ هذِه الصَّدَقَةَ مِن أغْنِيائِنا فَتَقْسِمَها علَى فُقَرائِنا؟ فقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: اللَّهُمَّ نَعَمْ. فقالَ الرَّجُلُ: آمَنْتُ بما جِئْتَ به، وأنا رَسولُ مَن ورائِي مِن قَوْمِي، وأنا ضِمامُ بنُ ثَعْلَبَةَ أخُو بَنِي سَعْدِ بنِ بَكْرٍ”.

“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi ﷺ di masjid, datanglah seorang laki-laki mengendarai seekor unta. Ia menambatkan untanya di dalam masjid lalu mengikatnya. Kemudian ia berkata kepada mereka, ‘Siapakah di antara kalian Muhammad?’ Sementara Nabi ﷺ saat itu sedang bersandar di tengah-tengah mereka. Maka kami berkata, ‘Orang yang berkulit putih itu, yang sedang bersandar.’

Laki-laki itu pun berkata kepadanya, ‘Wahai putra ‘Abdul Muththalib.’ Maka Nabi ﷺ menjawab, ‘Aku telah menjawabmu.’ Laki-laki itu berkata kepada Nabi ﷺ, ‘Sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu, dan aku akan bersikap tegas dalam bertanya. Maka janganlah engkau merasa keberatan dalam hatimu terhadapku.’ Beliau bersabda, ‘Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan.’

Laki-laki itu berkata, ‘Aku bertanya kepadamu demi Rabbmu dan Rabb orang-orang sebelum engkau, apakah Allah yang mengutusmu kepada seluruh manusia?’ Beliau menjawab, ‘Ya, demi Allah.’

Ia berkata, ‘Aku memohon kepadamu demi Allah, apakah Allah memerintahkanmu agar kami menunaikan salat lima waktu dalam sehari semalam?’ Beliau menjawab, ‘Ya, demi Allah.’

Ia berkata, ‘Aku memohon kepadamu demi Allah, apakah Allah memerintahkanmu agar kami berpuasa pada bulan ini setiap tahun?’ Beliau menjawab, ‘Ya, demi Allah.’

Ia berkata, ‘Aku memohon kepadamu demi Allah, apakah Allah memerintahkanmu agar engkau mengambil zakat ini dari orang-orang kaya di antara kami lalu membagikannya kepada orang-orang fakir di antara kami?’ Maka Nabi ﷺ menjawab, ‘Ya, demi Allah.’

Laki-laki itu pun berkata, ‘Aku beriman kepada apa yang engkau bawa, dan aku adalah utusan dari kaumku yang berada di belakangku. Aku adalah Dhimam bin Tsa‘labah, saudara Bani Sa‘d bin Bakr.’”

(HR. Al-Bukhari, 1/23)

 Penjelasan hadis:

Dhimam bin tsa’labah bertanya tentang Nabi ﷺ karena sebelumnya ia belum mengenalnya, dan ia tidak melihat sesuatu pun yang membedakan beliau dari orang-orang di sekitarnya, baik dari tempat duduk, pakaian, maupun penampilan. Pertanyaan seperti ini berulang kali muncul dari orang asing yang datang dan belum mengenal pribadi Nabi sebagai pemimpin ﷺ. Ia tidak melihat sesuatu yang membedakan beliau dari para sahabatnya, sehingga ia bertanya: “Siapakah di antara kalian Muhammad?”

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani رحمه الله

(Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani) berkata:

قال ابن حجر العسقلاني – أحمد بن علي بن حجر العسقلاني

قوله : ( أجبتك ) أي : سمعتك ، والمراد إنشاء الإجابة ، أو نزل تقريره للصحابة في الإعلام عنه منزلة النطق ، وهذا لائق بمراد المصنف . وقد قيل إنما لم يقل له نعم لأنه لم يخاطبه بما يليق بمنزلته من التعظيم ، لا سيما مع قوله تعالى : لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا والعذر عنه – إن قلنا إنه قدم مسلما – أنه لم يبلغه النهي ، وكانت فيه بقية من جفاء الأعراب ، وقد ظهرت بعد ذلك في قوله : ” فمشدد عليك في المسألة ” وفي قوله في رواية ثابت : ” وزعم رسولك أنك تزعم ” ولهذا وقع في أول رواية ثابت عن أنس : ” كنا نهينا في القرآن أن نسأل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن شيء ، فكان يعجبنا أن يجيء الرجل من أهل البادية العاقل فيسأله ونحن نسمع ” زاد أبو عوانة في صحيحه : ” وكانوا أجرأ على ذلك منا ” يعني أن الصحابة واقفون عند النهي ، وأولئك يعذرون بالجهل ، وتمنوه عاقلا ليكون عارفا بما يسأل عنه . وظهر عقل ضمام في تقديمه الاعتذار بين يدي مسألته لظنه أنه لا يصل إلى مقصوده إلا بتلك المخاطبة .

فتح الباري شرح صحيح البخاري ١/١٧٨

Perkataan beliau: “(Aku telah menjawabmu)” maksudnya adalah “Aku telah mendengarmu.” Yang dimaksud adalah ungkapan untuk memulai jawaban. Atau, penetapan beliau kepada para sahabat untuk menyampaikan tentang dirinya diposisikan seperti ucapan lisan. Penafsiran ini sesuai dengan maksud penyusun (Imam Al-Bukhari).

Sebagian ulama berkata: Nabi ﷺ tidak menjawab dengan ucapan “ya” karena orang tersebut tidak memanggil beliau dengan panggilan yang sesuai dengan kedudukan beliau dalam hal pengagungan, terlebih lagi dengan firman Allah Ta‘ala:

“Janganlah kalian menjadikan panggilan kepada Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain.”

Adapun alasan (permohonan maaf) terhadap orang tersebut, jika kita berpendapat bahwa ia datang sebagai seorang Muslim, adalah karena larangan itu belum sampai kepadanya. Selain itu, masih ada sisa sikap keras khas orang-orang Arab Badui pada dirinya. Hal ini tampak kemudian dalam ucapannya: “Maka aku akan bersikap keras kepadamu dalam bertanya,” dan dalam ucapannya pada riwayat Tsabit: “Dan utusanmu mengira bahwa engkau mengira …”

Oleh karena itu, pada awal riwayat Tsabit dari Anas disebutkan:

“Kami dilarang dalam Al-Qur’an untuk banyak bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sesuatu. Maka kami senang jika datang seorang laki-laki yang berakal dari kalangan penduduk pedalaman lalu bertanya kepada beliau, sementara kami mendengarkannya.”

Abu ‘Awanah menambahkan dalam kitab Shahih-nya:

“Dan mereka (orang-orang Badui) lebih berani melakukan hal itu daripada kami,”

maksudnya para sahabat berhenti dan menahan diri karena larangan tersebut, sedangkan orang-orang Badui dimaafkan karena ketidaktahuan. Mereka pun berharap yang datang itu adalah orang yang berakal, agar ia mengetahui apa yang ia tanyakan.

Dan tampaklah kecerdasan Dhimam pada sikapnya yang mendahulukan permohonan maaf sebelum menyampaikan pertanyaannya, karena ia mengira bahwa ia tidak akan mencapai tujuannya kecuali dengan cara penyampaian seperti itu.

(Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 1/178)

Keutamaan Tawaduk

Di antara hal yang semakin menambah rasa pengagungan dan penghormatan kepada pemimpin terbesar yang pernah dikenal dunia, Nabi ﷺ, adalah bahwa para sahabatlah yang menunjukkan kepada si penanya, atau bahkan Rasul yang mulia sendiri yang menunjukkan dirinya, dengan menunjuk kepada dirinya tanpa formalitas apa pun, tanpa sindiran, tanpa celaan, tanpa menggigit bibir, tanpa mengernyitkan dahi, bahkan tanpa senyuman yang menunjukkan ketidaksenangan. Tidak ada satu pun dari itu yang terjadi, bahkan tidak pula terlintas dalam hati.

Maka jika jiwa merindukan kemuliaan, ia tidak akan menemukan ruang yang lebih lapang, pembicaraan yang lebih indah, dan keadaan yang lebih jujur, selain dari sirah penghulu manusia terdahulu dan terkemudian, Nabi ﷺ.

Barang siapa ingin menghiasi diri dengan keutamaan ini, hendaklah ia menyingkirkan perkataan manusia, dan menanamkan keyakinan yang kuat dalam dirinya bahwa ketinggian dan kemuliaan itu terletak pada prinsip, nilai, dan akhlak. Hendaklah ia bersabar, mengharap pahala, dan berjuang melawan dorongan hawa nafsu, karena hawa nafsu adalah musuh terbesar bagi akhlak yang luhur ini.

Sikap tawaduk bukanlah ajakan untuk meninggalkan perhatian terhadap penampilan, makanan, atau simbol-simbol jabatan dan kedudukan. Namun ia adalah ajakan agar semua itu tetap berada pada tempatnya, tidak menguasai hati, tidak menyibukkan pikiran, dan tidak menjadi obsesi siang dan malam.

Cukuplah bagi orang yang tawaduk suatu kebanggaan bahwa:

(من تواضع لله رفعه الله).

“Barang siapa merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya.”

Dan cukuplah tawaduk sebagai pendorong bahwa:

(لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقالُ ذَرَّةٍ من كِبْر).

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah.”

Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا ﴾ [الفرقان: 63].

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.”

(QS. Al-Furqan: 63)

Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik; tidak ada yang dapat menunjuki kepada yang paling baik selain Engkau. Dan palingkanlah dari kami akhlak yang buruk; tidak ada yang dapat memalingkannya dari kami selain Engkau.

Semoga bermanfaat.

Berian Muntaqo Fatkhuri, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Qassim University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button