Gejolak Hati

421

Ketika ada orang lain mendapatkan kenikmatan dari Allah, apa yang pertama kali terlintas dalam hati? Gembira, simpati, acuh tak acuh, atau justru merasa lebih berhak atas kenikmatan tersebut?

Ingatlah saudaraku, betapa besar karunia Allah yang telah kita dapatkan dari-Nya. Allah selalu mengingatkan hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur: “Jika kamu mau bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan kenikmatan kepadamu. Tapi jika kamu ingkar, maka azab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim: 7)

Bersyukur dan ikut bergembira atas kenikmatan yang diraih orang lain adalah bagian dari kebaikan seorang muslim. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

(لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه)

“Tidaklah kalian beriman sampai kalian mencintai apa yang dicintai saudaranya sebagaimana ia mencintai apa yang dicintainya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Lapang dada atas apa yang diberikan Allah kepada orang lain adalah tanda kebaikan seorang muslim. Juga hendaknya ia membenci apa yang dibenci saudaranya. Iri, dengki dan hasad adalah sifat iblis yang telah Allah laknat. Dengannya ia terusir dari surga. Dengannya Adam juga terusir dari surga. Iri, dengki dan hasad berasal dari hati yang bergejolak. Hati tidak senang atas apa yang diraih orang lain dari kebaikan berupa ilmu, harta, keturunan dan berbagai macam kenikmatan yang ia anggap tidak ia peroleh.

Jika muncul hasad dalam hati, maka renungkanlah: apakah kita juga rela jika ada orang yang tidak senang dengan apa yang sudah kita dapatkan dari Allah? Orang yang berakal sehat pasti akan membuang jauh-jauh sifat tercela ini. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah memberikan petunjuk dalam masalah ini:

الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ، كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Hasad menghilangkan kebaikan-kebaikan, seperti api yang menghanguskan kayu bakar” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah)

Selalu menjauhkan diri dari sifat hasad adalah perjuangan seorang mukmin sejati karena ia akan senantiasa berjuang melawan hawa nafsunya.

Oleh karena itu, Allah syariatkan ibadah-ibadah yang penuh perjuangan dalam melawan hawa nafsunya, seperti shalat lima waktu yang membutuhkan mujahadah dan keistiqamahan seorang mukmin.

Bangun di pagi hari mengambil dinginnya air wudhu dan bersegera memenuhi panggilan Allah melalui para muazin. Kalaulah tidak ada bantuan Allah dan perjuangan seorang mukmin, maka lewatlah shalat ini. Allah syariatkan zakat dan sedekah untuk melatih hawa nafsunya agar tidak tamak dengan harta yang diraihnya. Allah wajibkan puasa agar hamba-Nya terlatih mengekang hawa nafsunya dari sebagian yang dihalalkan di siang hari, juga agar ia lebih kuat meninggalkan yang diharamkan-Nya. Demikian pula ibadah-ibadah lainnya yang sangat banyak memerlukan perjuangan dan kesungguhan.

Resah dan gelisah terhadap apa yang dicapai orang lain adalah manusiawi. Tapi syariat yang mulia ini mengaturnya dalam hal yang positif saja. Rasululla membimbing umatnya agar senantiasa risau dengan kenikmatan yang dimiliki orang lain tanpa mengharapkan hilangnya kenikmatan itu dari pemiliknya. Ini disebut sebagai ghibthah. Hasad yang dimaksud dalam ghibthah bukanlah hal yang tercela. Tapi Rasulullah juga hanya membatasinya dalam dua hal saja, sebagaimana dalam sabdanya:

لا حسد إلا في اثنتين، رجلٌ آتاه اللَّه مالًا فَسُلِّط على هلكته في الحق، ورجل آتاه الحكمة فهو يقضي بها
ويعلمها

“Tidak dibenarkan hasad kecuali dalam dua hal: kepada seseorang yang Allah berikan kepadanya harta, kemudian ia gunakan dalam kebaikan sampai ia mati. (hasad) kepada seseorang yang diberikan kepadanya hikmah (ilmu) sedangkan ia mengamalkannya dan mengajarkannya” (HR Bukhari).

Betapa indahnya kehidupan para sahabat di bawah bimbingan Rasulullah. Mereka adalah manusia utama setelah para nabi dan rasul. Tarbiyah langsung dari Rasulullah melahirkan mereka sebagai generasi utama umat manusia. Jasa mereka sangat besar kepada Islam. Hati mereka bersih dari sifat tercela ini. Allah tegaskan sifat para sahabat dalam firman-Nya: “Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (QS Al Fath : 29)

Sifat yang sangat terpuji ini Allah abadikan dalam firman-Nya: “Maka akan Allah datangkan segolongan orang yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, berlemah lembut kepada sesama mukmin, bersikap kasar kepada orang kafir” (QS Al Maidah : 54).

Imam Ibnu Kasir rahimahullah menyampaikan dalam tafsirnya: “Ini adalah sifat orang-orang yang beriman, seyogyanya ia bersikap kasar kepada orang-orang kafir, berkasih sayang dan berbuat baik kepada orang yang terpilih (orang beriman), keras bermuka masam di hadapan orang kafir, memperlihatkan keceriaan dan senyuman di hadapan saudaranya orang yang beriman”

Allah juga memuji kaum Anshar yang dalam diri mereka tidak memiliki sifat yang tercela ini: “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.

Dan siapa yang dijaga darinya dari kekikiran, maka mereka adalah orang-orang yang beruntung” (QS Al Hasyr : 9)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan dalam tafsir ayat (Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin)): “Yaitu mereka tidak hasad kepada kaum Muhajirin atas apa yang mereka dapatkan secara khusus berupa harta rampasan perang dan yang lain”

Kecenderungan hati agar kenikmatan yang diraih orang lain sirna adalah sifat tercela. Sifat ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang sakit dan orang munafik.

Lantaran buruknya sifat ini, maka Allah menghilangkannya dari hati para penghuni surga sebelum mereka masuk ke dalamnya: “Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman), dan (di dekat) mata air (yang mengalir).

(Allah berfirman), “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (QS Al Hijr : 45-47).

Rasulullah juga menyampaikan dalam hadisnya dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu:

((لا تباغضوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا ولا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاثة أيام))

“Janganlah kalian saling bermarah-marahan, saling hasad, saling membelakangi, dan jadilah kalian bersaudara, dan tidak dibenarkan seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari” (HR Bukhari)

Ada beberapa hal yang harus senantiasa dijaga seorang mukmin ketika hadir gejolak dalam hatinya yang menjurus kepada hasad dan perbuatan tercela dalam hati.

Pertama: Yakinlah bahwa semua kenikmatan berasal dari Allah Yang Maha Pengasih. Allah tidak akan pernah salah memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya.

Semua itu adalah cobaan, apakah hamba-Nya mau bersyukur atau ingkar. Allah tegaskan: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami” (QS Al Anbiya:35)

Kedua:
Yakinlah bahwa semua kebaikan yang diberikan kepada saudara kita adalah bentuk kebesaran Allah dan kehendak-Nya yang penuh dengan hikmah agar kita semakin beriman kepada-Nya. Rasulullah membimbing umatnya agar senantiasa meyakini sumber semua kenikmatan yang dimiliki adalah dari Allah.

Sahabat Anas pernah menyampaikan: “Semua apa yang Allah berikan kepada seorang hamba berupa keluarga, harta, dan anak, kemudian ia mengucapkan maasyaa Allah (semua atas kehendak Allah), laa haula walaa quwwata illaa billaah (tidak ada daya upaya kecuali karena pertolongan Allah), maka ia tidak akan mendapatkan kejelekan selain kematian, dan Allah telah berfirman:

“Seandainya saja engkau masuk ke dalam kebunmu dengan mengucapkan maasyaa Allah, laa haula walaa quwwata illaa billaah” (QS Al Kahfi:39).

Ketiga:
Segera mengusir gejolak hati yang berasal dari godaan setan dengan cara memohon perlindungan Allah dari godaannya. Allah berfirman: “Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia” (QS Annas : 4,5)

Allah juga berfirman: “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh Dialah Yang Maha Mendengar Maha Mengetahui” (QS Fushilat:36)

Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zadul Ma’aad menyampaikan:

“Ketika setan dibagi menjadi dua: jenis yang bisa dilihat kasat mata, yaitu setan dari golongan manusia, dan jenis yang tidak bisa dilihat, yaitu setan dari golongan jin, Allah memerintahkan Nabi-Nya mencukupkan diri dari godaan setan jenis manusia dengan cara tidak menghiraukannya dan memberi maaf, atau melawan dengan cara yang baik. Sedangkan setan dari jenis jin dengan berlindung kepada Allah dan membiarkannya …”

Keempat:
Hendaknya bertemu dengan saudara kita tersebut dan memberikan selamat dan keberkahan atas kenikmatan yang diberikan Allah kepada dirinya.

Kelima: Mendoakan kebaikan kepadanya:

((ما من عبد مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا قال الملك ولك بمثل))

“Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya sedangkan saudaranya tidak mengetahuinya kecuali malaikat akan mengatakan: dan bagimu yang sepadan” (HR Muslim)

Ternyata tidak ada ruginya ketika seseorang senang dan mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Ia bahkan mendapatkan kebaikan doa dan kebaikan doa malaikat untuknya. Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebaikan berdasarka ilmu, mampu mengamalkan ilmu yang sudah didapat dan menyampaikannya kepada
orang lain serta bersabar di jalan-Nya. Aamiin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.