Cara Mensyukuri Nikmat Iman Dan Hidayah Islam

126

Jika seorang hamba telah bertaubat dan kembali kepada Allah ta’ala dengan jujur, maka dosanya akan diampuni bagaiamana pun besar dan banyaknya. Sesungguhnya rahmat Allah ta’ala meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: 

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾ 

Artinya: “Katakanlah: ‘Wahai hambahamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’’. (Q.S. Az-Zumar: 53). 

Setiap muslim yang telah benar-benar bertaubat dan mengiringinya dengan iman dan amal soleh, maka akan kembali seperti tak memiliki dosa atas apa yang telah berlalu. Bahkan Allah akan membalas orang-orang yang jujur dalam taubatnya dan sangat menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan dengan keistimewaan yang agung yaitu kesalahannya akan tergantikan dengan kebaikan. Sebagaimana firman Allah ta’ala 

﴿اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا﴾ 

Artinya: “kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman serta mengerjakan kebajikan, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebaikan; Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. al-Furqan: 70). 

Maka barang siapa yang dianugerahi keadaan seperti ini, maka hendaklah ia menjaga dan mempertahankan nikmat tersebut agar ia tidak kembali terjerat oleh jeratan-jeratan setan yang dapat mengakibatkan ia kembali ke masa lalunya.  

Manisnya Iman 

Siapa saja yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala cinta, kemudian mencintai seseorang berdasarkan kadar keimanan, kedekatannya kepada Allah, dan kebaikan agamanya, dan juga benci untuk kembali kepada kekufuran, kesyirikan, kesesatan dan kemaksiatan masa lalu sebagaiamana ia benci dirinya dibakar dengan api neraka, maka saat itu ia akan menemukan dan merasakan manis dan lezatnya iman dalam hatinya serta kebahagian dalam mengamalkan syariat dan hidayah dari Allah ta’ala. Hal ini sesuai dengan hadis dari  sahabat yang mulia Anas bin Malik raiyallāahuanhu bahwa Nabi allallaāhualaihi wa sallam bersabda: 

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ  أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّار. 

Artinya: “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (H.R. Bukhari [no. 16] dan Muslim [no.43]).  

Cara Mensyukuri Nikmat Iman dan Hidayah Islam 

Segala nikmat yang dianugerahkan kepada kita wajib untuk kita syukuri dengan cara yang tepat; karena dengan bersyukur maka kita telah menunaikan kewajiban kita akan hal tersebut dan dengan bersyukur pula Allah ta’ala akan menambahkan karunia kepada kita. Dan anugerah taubat, iman dan hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang wajib disyukuri. Di antara hal teragung yang dilakukan seorang muslim untuk mensyukurinya adalah: 

  1. Berpegang Teguh dengan Agama Ini dan Bersabar atas Segala Konsekuensinya 

Barang siapa yang memiliki harta simpanan yang berharga, maka ia akan bersungguh-sungguh untuk menjaganya agar tak diambil dan dicuri oleh orang lain, serta menjaganya dari segala hal yang dapat merusaknya. Hidayah iman dan Islam adalah hadiah terbesar untuk seluruh manusia, dan dia lebih berharga dari segala harta yang tersimpan, sehingga usaha untuk menjaganya adalah sebuah keharusan. Islam bukan hanya sekedar orientasi pemikiran semata, atau sebuah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang kapan saja ia mau, namun lebih dari pada itu, dia adalah agama yang akan mejadi hakim untuk segala aktivitas kehidupannya baik dalam gerakan maupun diamnya. Olehnya, Allah ta’ala berfirman yang berisi perintah kepada Rasul-Nya untuk berpegang teguh dengan Islam dan Al-Qur’an serta tidak melepaskannya 

﴿ فَٱسْتَمْسِكْ بِٱلَّذِىٓ أُوحِىَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيم  

Artinya: “Maka berpegang teguhlah kamu kepada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu; Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”. (Az-Zukhruf : 43). 

Jika seorang muslim mendapatakn cobaan setelah ia masuk Islam atau hijrah, maka yakinlah bahwa ini adalah sunnatullāh (ketetapan) dalam kehidupan. Bahkan orang-orang yang lebih baik dari kita mendapatkan cobaan yang lebih berat, namun mereka bisa bersabar dan bersungguh-sunnguh untuk tetap teguh di atas kebenaran yang mereka yakini. Merekalah para Nabi-Nabi Allah yang kisahnya abadi di lembaran-lembaran mushaf Al-Qur’an, demikian pula Nabi Muhammad allallāhualaihi wa sallam dan para sahabatnya raḍiyallāhuanhum, mereka mendapatkan cobaan dari kaumnya hingga dari kerabat mereka sendiri. Namun mereka tetap sabar dan tegar atas apa yang menimpa mereka di atas jalan Allah ta’ala. Hal seperti ini merupakan cobaan dari Allah untuk menguji kebeneran iman kita dan kekuatan keyakinan yang tertancap dalam dada-dada kita. Allah ta’ala menegaskan:  

{أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣} [سورة العنكبوت:2-3]. 

Artinya: ‘‘Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman“, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta’’.  

(Q.S. Al-Ankabut : 2-3). 

Dengan berbagai cobaan hendaklah kita bersabar dan tetap istiqamah di jalan Islam serta memperbanyak doa 

﴿ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 

Artinya: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia).” (Q.S. Ali Imran: 8). 

Dan dengan doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi allallāhualaihi wa sallam: 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ 

Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (H.R. At-Tirmiżi no. [3522], Imam Ahmad [IV/302], Al-Hakim [I/525], Lihat Sahih Sunan At-Tirmiżī no. [2792]). 

 

  1. Bersungguh-Sungguh Mendakwahkannya dengan Penuh Hikmah  

Mendakwahkan Islam di antara sarana terbesar mensyukuri nikmat hidayah Islam sebagaimana ia juga merupakan sebab terbesar seseorang istiqamah dan teguh di atas agama Allah ta’ala. Barang siapa yang selamat dari sakit yang membahayakan kemudian badannya kembali sehat dari penayakit mematikan yang telah membuatnya lelah, sakit, dan merusak hari-harinya, lalu dia mengetahui resep pengobatan yang ampuh, maka tentu dia akan berusaha menyebarkan berita ini kepada orang lain, dan khususnya kepada keluarga, kerabat, dan orang-orang yang dia cintai. Demikian pula dengan nikmat Islam yang merupakan solusi untuk segala problem dalam kehidupan yang mesti kita sampaikan kepada orang lain dengan penuh hikmah agar tak cukup kita yang merasakan anugerah ini, akan tetapi bisa dirasakan oleh semua orang agar menjadi rahmat untuk seluruh alam. Allah ta’ala berfirman: 

﴿ ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ  

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S.An-Nahl: 125).

Leave A Reply

Your email address will not be published.