Motivasi Islami

Bunda Cekatan  

“Saya lebih mulia darimu dan ayahku lebih baik dari ayahmu!” Ucap Muhammad bin Ja’far bin Abi Thalib pada saudara seibunya, Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Mendengar itu, putra Abu Bakar tersebut balas mendebatnya, “Tidak! Tapi, saya lebih mulia darimu dan ayahku lebih baik dari ayahmu!”

Mendengar perdebatan dua putra tirinya yang masih remaja itu, Ali bin Thalib yang saat itu menikahi ibu mereka berdua meminta ibu mereka, Asma’ binti ‘Umais agar mendamaikan mereka berdua.

“Damaikanlah mereka berdua”, Pinta Sayiduna Ali.

Sebagai salah satu wanita sahabiah tercerdas, Asma’ pun memanggil mereka lantas mengucapkan kalimat yang akan membuat rida setiap yang mendengarnya, “Saya tidak mendapati pemuda yang lebih baik daripada Ja’far bin Abi Thalib (ayah Muhammad bin Ja’far), dan saya tidak mendapati lelaki separuh baya yang lebih baik daripada Abu Bakar (ayah Muhammad bin Abu Bakar).”

Mendengar pujian Asma’ terhadap kedua mendiang suaminya tersebut, Ali lantas sedikit cemburu dan dengan nada bercanda menyatakan, “Lalu pujian apa yang cocok darimu untukku?”[1]

Dalam riwayat lain, dengan nada bercanda Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Lalu pujian apa yang cocok darimu untukku?! Namun, bila Anda tidak menyatakan selain itu, aku akan memarahimu!” Ini karena Ali tidak mau dikatakan lebih utama daripada kakaknya, Ja’far, dan dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhum.

Dengan tersenyum lebar, Asma’ berkata pada suami ketiganya tersebut, “Demi Allah! Seandainya di antara kalian bertiga, Andalah yang paling kurang utama, tetaplah itu sebagai kemuliaan.”[2]

Ucapan Asma’ di atas tentang keutamaan Ja’far bin Abi Thalib dan Abu Bakar, tentunya membuat kedua putra remajanya tersebut tersenyum lebar tanda telah rida dan merasa masing-masing memiliki keutamaan yang sepadan. Beginilah seorang bunda dalam berbuat adil di antara putra-putrinya, tidak hanya adil dalam persoalan harta dan hadiah, tapi juga dalam tutur kata, perbaikan kesalahan, dan dalam keceriaan mereka.

Baca Juga  7 Golongan yang Akan Dinaungi pada Hari Kiamat (Bag. 2)

Di sini pula, tampak akhlak mulia Asma’ binti ‘Umais dalam memperlakukan putra-putranya. Dia tak menggerutu seperti halnya beberapa bunda lain saat mendapati anak-anaknya saling berdebat dan bersitegang. Dengan segenap hati yang tenang dan kepala dingin, ia hanya melontarkan satu kalimat santun yang mampu mendamaikan mereka. Sebaliknya, bila ia nimbrung dengan omelan pedas, bisa saja perseteruan antara dua anaknya yang beda ayah itu terus berlanjut. Imam al-Gazaliy rahimahullah memberikan wejangan terkait ini, “Janganlah engkau memperbanyak celaan (omelan) kepada sang anak di setiap waktu, karena hal itu akan membuat dirinya meremehkan celaan dan amalan buruk, serta nasihat tak akan berdampak positif lagi pada hatinya. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibaannya tatkala berbincang dengannya, tidak mencelanya kecuali sesekali. Adapun ibu, hendaknya ia menakut-nakuti sang anak dengan ayahnya dan memperingatkannya dari berbagai amalan buruk.”[3]

Asma’ binti ‘Umais adalah sosok istri sekaligus ibu yang sangat cerdas dan penyabar. Selama bertahun-tahun dirinya bersama sang suami tercinta, Ja’far bin Abi Thalib, melewati hari-hari bersama di negeri hijrah, Habasyah. Di sanalah beliau melahirkan 3 putra hebatnya dari Ja’far, yaitu, Abdullah, ‘Aun dan Muhammad.

Sekitar tahun 7 H, mereka sekeluarga melakukan hijrah ke Kota Madinah untuk hidup di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setahun setelahnya Ja’far ikut serta sebagai komandan jihad umat Islam dalam perang Mu’tah dan mati syahid pada perang tersebut dengan kedua tangan terpotong dan terkena lebih dari 70 sabetan pedang dan tikaman anak panah dan tombak. Setelah syahidnya sang suami, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menikahkan Asma’ dengan Abu Bakar pada saat Perang Hunain. Dari pernikahan mereka berdua lahirlah Muhammad bin Abu Bakar.[4] Ketika Abu Bakar wafat, Asma’ lantas dilamar oleh Ali bin Abi Thalib dan mereka memiliki seorang putra bernama Yahya. Sungguh, betapa mulia seorang Asma’, yang dinikahi oleh tiga sahabat Nabi yang paling utama.

Baca Juga  Janji Jiwa

Asma’ binti ‘Umais melahirkan 3 putranya bersama Ja’far di negeri hijrah pertama, Habasyah. Di sanalah dirinya mulai mendidik dan membina putra-putranya yang memiliki paras dan karakter yang mirip dengan paman mereka, yaitu Baginda Rasulullah.

Ketika wahyu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang syahidnya Ja’far di perang Mu’tah, wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam langsung dirundung duka[5]. Beliau lalu mendatangi rumah Asma’, lantas memanggil 3 putra Ja’far dan mencium mereka satu per satu sembari meneteskan air mata. Asma’ yang menyaksikan perilaku Rasul ini pun dengan penuh ketabahan bertanya kepada beliau tentang suaminya, “Wahai Rasulullah! Apakah ada kabar dari Allah tentang keadaan Ja’far?”

Dengan sedih, beliau menjawab, “Iya. Ia telah mati syahid hari ini.”

Lalu dengan penuh ketabahan, Asma’ dan putra-putranya pun menangis[6].

Asma’ dengan gigih terus mendidik mereka, hingga mereka menjadi para ksatria sejati. Bahkan Abdullah, putra tertuanya adalah seorang yang sangat dicintai oleh Rasulullah, sukses menjadi seorang ulama sekaligus figus besar para sahabat junior. Imam adz-Dzahabiy menyatakan tentangnya, “Abdullah bin Ja’far figur besar, sangat terpandang dan dermawan, pantas menjadi khalifah… dia lebih pantas menjadi khalifah dibandingkan Yazid bin Mu’awiyah.”[7]

Asma’ juga senantiasa memotivasi mereka untuk selalu membersamai paman mereka, Rasulullah. Sebab itu, mereka semua juga tertarbiyah di tangan Rasulullah. Salah satu informasi unik dari mereka bertiga adalah bahwa ketika Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu wafat, maka istrinya, Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, dinikahi oleh ‘Aun bin Ja’far. Lalu ketika ‘Aun wafat, ia dinikahi oleh saudaranya, Muhammad bin Ja’far. Lalu ketika Muhammad wafat, ia dinikahi oleh Abdullah bin Ja’far. Radhiyallahu ‘anhum.[8]

Baca Juga  Obati Kesalahan

Adapun putranya bersama Abu Bakar, maka ia adalah Muhammad bin Abu Bakar, seorang ksatria sahabat junior yang lahir di Dzul-Hulaifah (sekarang: Bir Ali) saat perjalanan Haji Wada’. Ayahnya, Abu Bakar wafat saat Muhammad berusia sekitar 4 tahun, sehingga Asma’ harus membesarkannya sendiri dan mendidiknya hingga menjadi ahli ibadah dan seorang pendekar sejati. Ayah tirinya, Ali bin Thalib mengangkatnya sebagai gubernur Mesir, namun saat Mesir dikalahkan oleh ‘Amr bin al-‘Ash saat terjadinya perselisihan antara Khalifah Ali dan Mu’awiyah, Muhammad terbunuh. Radhiyallahu ‘anhum.

Ketika Muhammad bin Abu Bakar ini terbunuh, ibunya, Asma’ binti ‘Umais sangat bersedih dan dirundung duka lalu menahan kesedihannya dengan memperbanyak salat hingga kedua payudaranya mengeluarkan darah.[9]

Bahkan, ketika kabar terbunuhnya Muhammad bin Abu Bakar ini sampai di Madinah, Aisyah radhiyallahu ‘anha sangat bersedih, karena ialah adik tirinya yang sangat ia cintai. Lalu beliau pun memelihara putranya yang bernama Al-Qasim bin Muhammad, yang kelak sukses dididik oleh Aisyah menjadi ahli ibadah dan ulama besar era tabiin di Kota Madinah. [10]

[1] . (Diriwayatkan Ibnu As-Sakan dengan sanad sahih, Lihat: Al-Ishabah: 8/16)

[2] . Thabaqat Ibni Sa’d (8/285)

[3] . Ihya’ ‘Ulumiddin (3/73)

[4] . (HR Ibnu Syabbah dalam Akhbar Makkah, Al-Ishabah: 8/15)

[5] . Lihat: HR Al-Hakim (3/206)

[6] . Lihat: HR Ahmad (6/270) dan Ibnu Majah (1611)

[7] . As-Siyar: 3/465

[8] . Lihat: As-Siyar: 3/502

[9] . Lihat: Al-Ishabah: 8/16

[10] . Lihat: Al-Ishabah: 8/16

Maulana Laeda, Lc., M.A., Ph.D.

Doktor Bidang Ilmu Hadits, Universitas Islam Madinah, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?