Berhias Dengan Sikap Sabar

201

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Adalah merupakan perkara aksiomatik bagi manusia, bahwa kehidupan akan senantiasa bergejolak, terkadang diliputi oleh kenikmatan dan kegembiraan, namun sering juga seorang hamba ditimpa oleh musibah, dan dirundung oleh masalah dan problematika. Tujuan dari adanya dinamika dalam hidup ini adalah untuk menguji keimanan, Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

Artinya: “Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta (dalam pernyataan imannya).” (QS Al-‘Ankabut: 2-3).

salah satu di antara keindahan Islam adalah meletakkan adanya ibadah dalam setiap keadaan. Jika seorang hamba bergelimang dalam kenikmatan dari Allah, maka ibadahnya saat itu adalah sikap syukur, sebaliknya jika seorang hamba diuji dengan musibah, ataupun berbagai problem dalam urusannya, maka bersabar adalah ibadah sekaligus solusinya saat itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن: إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

Artinya: “Alangkah menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya baik, dan hal itu tidak akan dicapai kecuali oleh orang mukmin, jika ia bergelimang kenikmatan, maka ia bersyukur dan hal itu adalah kebaikan baginya, dan jika ia tertimpa musibah, maka ia bersabar, dan hal itu juga merupakan kebaikan baginya”. (HR Muslim).

Sikap sabar bukan hanya dikoar-koarkan semata, bukan sekadar menjadi hiasan lisan saja, namun inti dari sikap sabar adalah menahan diri, yaitu dengan cara;

1)- Menahan lisan agar tidak berkeluh kesah ketika petaka menimpa,
2)- Mengontrol hati agar rida dan rela dengan musibah dan problematika yang melanda,
3)- Menahan anggota tubuh agar tidak terjerembab ke dalam perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala, seperti meratap, membunuh diri, mecari solusi dengan lewat minuman keras atau narkoba dan sebagainya.

Perpaduan antara tiga hal inilah yang akan menentukan kwalitas kesabaran seorang hamba.
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Ada tiga cakupan besar dari sikap sabar ini:

Yang pertama: bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebab banyak ibadah dan ketaatan yang yang berat dan yang sifatnya “taklif” (pembebanan), maka tentunya butuh adanya upaya, latihan dan pengorbanan dalam melaksanakannya.

Contoh terbesar bagi kesabaran jenis ini adalah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimassalam, khususnya ketika Allah mengintruksikan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Nabi Ismail, kendati berat, namun Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut, dan Nabi Ismail menyambut perintah tersebut dengan penuh kesabaran, buah dari kesabaran tersebut adalah Allah menggantikan pada keduanya seekor domba untuk disembelih.

Yang kedua: bersabar dalam menjauhi larangan Allah.

Sebagian maksiat memberikan semacam “janji-janji” nikmat bagi pelakunya, sehingga banyak di antara hamba yang terseret dan tejebak di dalamnya, oleh karena itu sangat dibutuhkan kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan.

Contoh yang paling nyata bagi sabar jenis ini adalah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, yaitu ketika beliau digoda oleh seorang ratu mesir pada waktu itu untuk melakukan perbuatan zina, namun beliau bertahan dan bersabar untuk tidak terjerembab ke dalam kubangan zina tersebut, padahal semua faktor terkumpul untuk terjadinya perbuatan tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah:

1- Ratu tersebut tentunya cantik jelita, sebab hampir mustahil seseorang menjadi seorang permaisuri raja jika tidak memiliki keistimewaan ini.

2- Yang mengajak dan merayu untuk melakukan perbuatan tersebut adalah sang ratu, jadi Nabi Yusuf tidak perlu merayu dan memaksa sang wanita untuk melakukannya.

3- Mereka sudah berdua-duaan di dalam kamar.

4- Nabi Yusuf saat itu sedang di tanah rantau, sangat jauh dari kaumnya, sehingga namanya tidak akan tercemar di tengah kaumnya dengan perbuatan yang ia lakukan.

5- Nabi Yusuf juga tertarik dengan sang Ratu tersebut, sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur’an.

Inilah faktor-faktor yang meliputi Nabi Yusuf dan sang ratu ketika itu, dan semua faktor tersebut terpampang di hadapan Nabi Yusuf, namun beliau tetap bertahan untuk tidak terjatuh ke dalam perbuatan zina, bahkan beliau lebih memilih untuk masuk penjara dibandingkan melakukan perbuatan tersebut sebagaimana dalam ucapannya yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

Artinya: “Ya Allah, masuk penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka (untuk berbuat keji)”. (QS Yusuf: 33).

Yang ketiga: bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan.

Musibah yang mendera tentu berpotensi menjadikan hati gelisah, dada sempit dan pikiran kalut serta kacau, hal inilah yang berpotensi untuk mengakibatkan seorang hamba berkeluh kesah, dan mengucapkan kata-kata yang tidak layak, maka tentu hal ini adalah sesuatu yang sangat berat, apalagi jika musibahnya memang berat. Oleh karena itu, bersabar dalam posisi ini sangat berat.

Karena keagungan dan keutamaan sifat sabar ini, maka Al-Qur’an memberikan porsi perhatian yang lumayan tinggi terhadapnya. Di dalam Al-Qur’an ada sekitar 94 ayat terkait dengan sikap sabar ini, di antaranya; ada ayat yang menganjurkan untuk berhias dengan kesabaran, atau menjelaskan tentang keutamaan sabar, atau teguran bagi orang yang tidak bersabar. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan urgensi sabar ini dengan menyimpulkan:

الصبر: ضابط الأخلاق المأمور بها

“Sikap sabar adalah pengontrol bagi akhlak-akhlak yang diperintahkan (oleh syariat).” (Majmu’ fatawa 16/65.)

Sebab dengan sikap sabar ini, akan terealisasi ibadah kepada Allah, akan dapat menjauhi maksiat, dan akan dapat bertahan ketika ditimpa musibah.

Kaum muslimin, jamaah salat jumat yang dirahmati oleh Allah.

Sifat sabar ini adalah sifat yang harus dimiliki oleh semua manusia, bahkan orang kafir pun harus berhias dengan akhlak ini, sebab mereka juga tertimpa musibah, dan didera oleh ujian dan cobaan, bahkan mereka juga harus bersabar demi untuk mempertahankan akidah mereka yang rusak, Allah berfirman menceritakan ucapan kaum kafir Quraisy:

إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا

Artinya: “Sesungguhnya hampir-hampir saja (Nabi Muhammad) menyesatkan kita dari penyembahan tuhan-tuhan kita, seandainya kita tidak bersabar (untuk tetap menyembahnya)”. (QS Al-Furqan: 42).

Allah “takjub” dengan “kesabaran” mereka untuk bertahan pada agama mereka yang rusak, sehingga menjerumuskan mereka ke dalam Neraka, Allah berfirman:

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

Artinya: “Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan azab dengan ampunan, maka alangkah bersabarnya mereka (dengan amalan-amalan mereka yang sesat) untuk masuk ke dalam Neraka”. (QS Al-Baqarah: 175).

Jika orang kafir juga “berhias” dengan akhlak sabar ini, dan “bertameng” dengannya agar dapat konsisten di atas kekufurannya, maka sejatinya seorang Muslim lebih berhak untuk berhias dengan akhlak ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.