Berbakti Kepada Orang Tua

96

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Islam adalah agama yang memperhatikan dua aspek penting dalam kehidupan, yaitu aspek hablun minallah, dan hablun minannaas. Aspek hablun minallah tercermin dalam penjelasan yang gamblang terkait hak-hak Allah subhanahu wata’ala atas hamba-Nya, berupa tauhid, pensyariatan Ibadah-ibadah, dan keikhlasan niat ketika menjalankannya. Adapun aspek hablun minannaas tercermin dalam keindahan akhlak yang ditanamkan Islam kepada pemeluknya, dan terpampang dengan jelas pada keluhuran budi yang diajarkan kepada manusia.

Kaum muslimin, jamaah salat jumat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wata’ala.

Akhlak yang mulia merupakan perhiasan bagi orang yang beriman, dan keindahan akhlak yang akan semakin bertambah jika dipraktikkan kepada kedua orang tua. Di dalam literasi Islam, berakhlak mulia kepada kedua orang tua disebut dengan birrul-walidain atau berbakti kepada orang tua.

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu akhlak agung yang diajarkan oleh Islam, ia merupakan salah satu bentuk ibadah yang termulia di dalam agama ini. Buktinya adalah kecintaan Allah terhadap amalan ini, di dalam sebuah hadis disebutkan,

أَيﱡ اﻟْﻌَﻣَلِ أَﺣَبﱡ إِﻟَﻰ ﷲﱠِ؟. ﻗَﺎلَ: “اﻟﺻﱠﻼَةُ ﻋَﻠَﻰ وَﻗْﺗِﮭَﺎ.” ﻗَﺎلَ: ﺛُمﱠ أَيﱞ؟. ﻗَﺎلَ: “ﺛُمﱠ ﺑِرﱡ اﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ.” ﻗَﺎلَ: ﺛُمﱠ أَيﱞ؟. ﻗَﺎلَ: “اﻟْﺟِﮭَﺎدُ ﻓِﻲ ﺳَﺑِﯾلِ ﷲﱠِ”.

Artinya: (Rasulullah ditanya), “Apa amalan yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.” Ia ditanya lagi, “Kemudian amalan apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Ia ditanya lagi, “Kemudian amalan apa lagi?” Beliau menjawab, “Berjihad fi sabilillah.” (Muttafaq ‘alahi).

Dalam hadis di atas, berbakti kepada orang tua disejajarkan dengan dua ibadah yang sangat urgen di dalam Islam, yaitu; melaksanakan salat pada waktunya dan berjihad di jalan Allah subhanahu wata’ala. Tentunya ini adalah indikasi kuat terkait keutamaan ibadah ini, dan keagungan ibadah ini lebih nampak lagi ketika Allah menyandingkan kewajiban manusia kepada orang tua dengan kewajiban seorang hamba kepada Allah, Allah berfirman,

وَﻗَﺿَﻰ رَﺑﱡكَ أَﻻ ﺗَﻌْﺑُدُوا إِﻻ إِﯾﱠﺎهُ وَﺑِﺎﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ إِﺣْﺳَﺎﻧًﺎ
Artinya: “Dan Allah telah memerintahkan kepada kamu, “Jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua”. (QS Al-Isra’: 23).

Allah juga berfirman,
أَنِ اﺷْﻛُرْ ﻟِﻲ وَﻟِوَاﻟِدَﯾْكَ
Artinya: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada kedua orang tuamu.” (QS Luqman: 14).

Kaum muslimin, jamaah salat Jumat yang di rahmati oleh Allah subhanahu wata’ala.

Disejajarkannya dua kewajiban di atas tentunya merupakan indikasi kuat terkait agungnya birrul-walidain. Jika durhaka kepada orang tua adalah bagian dari dosa besar, maka dapat dipahami dari hal ini (mafhum mukhalafah), bahwa berbakti kepada orang tua merupakan ibadah yang agung, bahkan sebagian ulama memandang bahwa ia dapat menggugurkan dosa-dosa besar, sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Imam Makhul yang dinukil oleh Ibnu Abdil Barr.

Kalimat “berbakti kepada orang tua” maknanya global, mencakup segala bentuk perbuatan baik, baik secara lisan seperti berkata lembut kepada mereka, maupun secara sikap dan perbuatan, seperti mematuhi mereka dalam kebaikan dan membantu kebutuhan-kebutuhan mereka. [lihat Tafsir As-Sa’diy, hal: 456 dengan sedikit tambahan]. Allah berfirman,

وَﻗَﺿَﻰ رَﺑﱡكَ أَﻻﱠ ﺗَﻌْﺑُدُوا إِﻻﱠ إِﯾﱠﺎهُ وَﺑِﺎﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ إِﺣْﺳَﺎﻧًﺎ إِﻣﱠﺎ ﯾَﺑْﻠُﻐَنﱠ ﻋِﻧْدَكَ اﻟْﻛِﺑَرَ أَﺣَدُھُﻣَﺎ أَوْ ﻛِﻼَھُﻣَﺎ ﻓَﻼَ ﺗَﻘُلْ ﻟَﮭُﻣَﺎ أُفﱟ وَﻻَ ﺗَﻧْﮭَرْھُﻣَﺎ وَﻗُلْ ﻟَﮭُﻣَﺎ ﻗَوْﻻً ﻛَرِﯾﻣًﺎ وَاﺧْﻔِضْ ﻟَﮭُﻣَﺎ ﺟَﻧَﺎحَ اﻟذﱡلﱢ ﻣِنَ اﻟرﱠﺣْﻣَﺔِ وَﻗُلْ رَبﱢ ارْﺣَﻣْﮭُﻣَﺎ ﻛَﻣَﺎ رَﺑﱠﯾَﺎﻧِﻲ ﺻَﻐِﯾرًا

Artinya: “Dan Allah telah memerintahkan kepada kamu; jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya usianya telah sepuh, maka janganlah engkau sekalikali berkata: Huh, dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia dan bersikap rendah hatilah engkau terhadap orang tuamu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, dan berdoalah: Wahai Allah, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. [Al-Isra’: 23-24].

Kedua ayat di atas memaparkan standar teknis berbakti kepada orang tua, yaitu berupa;

1. Memilih perkataan yang baik dan mulia untuk orang tua.
2. Mengucapkan kata-kata tersebut dengan santun dan lembut.
3. Menjauhi kalimat dan cara bicara yang kasar.
4. Berinteraksi dengan kasih sayang kepada mereka.
5. Mendoakan kebaikan bagi orang tua.

Satu lagi yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk berbakti kepada orang tua, bahwa jika kita memiliki kelebihan rezeki, dan orang tua kita memerlukan bantuan finansial dari kita, maka hendaknya kita tidak “pelit” untuk memberikan bantuan tersebut kepada mereka, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan isyarat terkait hal ini ketika seorang sahabat mengadukan ayahnya yang mengambil hartanya, beliau bersabda,

أَﻧْتَ وَﻣَﺎﻟُكَ ﻷَِﺑِﯾكَ
Artinya: “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu”. (HR Ahmad dan dinyatakan hasan ligairihi oleh Syekh Syua’ib Al-Arnauth dan dinyatakan sahih oleh Syekh Al-Albaniy).

Hadis di atas bukan justifikasi bagi orang tua untuk mengangkangi seluruh harta anaknya, namun maksudnya, diperbolehkan bagi orang tua untuk mengambil sesuatu dari harta anaknya sesuai dengan kebutuhan primernya yang tidak memberatkan anaknya. [An-Nihayah fi Garibil-Hadits 1/834 dengan sedikit penyesuaian].

Para ulama kita juga telah mengisyaratkan makna ini di dalam buku-buku mereka. As-Safaariniy mengutip dari Abu Laits As-Samarqandiy bahwa beliau mengatakan, “Di antara hak seorang bapak kepada anaknya adalah memberinya makan jika butuh kepada makanan dan membelikannya baju jika sang anak memiliki kemampuan.”

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.

Sesungguhnya berbakti kepada orang tua merupakan ibdah yang memiliki keutamaan yang besar, di antaranya adalah mendapatkan keridaan Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah bersabda,

رِﺿَﺎ ﷲَﱠِ ﻓِﻲ رِﺿَﺎ اَﻟْوَاﻟِدَﯾْنِ
Artinya: “Keridaan Allah (kepada manusia) terletak pada keridaan orang tuanya kepadanya”. (HR Tirmidzi).

Dan tentunya, orang tua tidak akan meridai anaknya kecuali jika anaknya berbakti dan berbuat baik kepadanya. Dan sesungguhnya muara terbesar bagi berbakti kepada orang tua adalah surga Allah subhanahu wata’ala, Rasulullah bersabda,

رﻏم أﻧف، ﺛم رﻏم أﻧف، ﺛم رﻏم أﻧف ﻣن أدرك أﺑوﯾﮫ ﻋﻧد اﻟﻛﺑر أﺣدُھﻣﺎ أو ﻛﻼھﻣﺎ ﻓﻠم ﯾدﺧل اﻟﺟﻧﺔ
Artinya: “Sungguh celakalah ia! Sungguh celakalah ia! Sungguh celakalah ia yaitu orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan tua renta, dan ia tidak dapat masuk ke dalam surga”. (HR Muslim).

Hadis ini memberikan isyarat bahwa berbakti dan memelihara orang tua yang sudah renta adalah amalan yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga Allah subhanahu wa ta’ala.

Leave A Reply

Your email address will not be published.