Apa Boleh Bayi Muslim Disusui Oleh Wanita Kafirah/non Muslimah?

Bismillah
Kaifa halukum asatizdah?
‘asaakum ‘ala Khairin
Afwan asatizdah, apa boleh Bayi muslim disusui oleh wanita kafir/non muslim?
Barakallah fiikum jami’an
Jawaban
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba‘du:
Dimakruhkan bagi seorang muslim untuk menjadikan wanita non-muslimah sebagai penyusu bagi anaknya, karena hal itu mengandung beberapa larangan syar‘i. Para ulama telah menegaskan hukum makruhnya.
Dalam Al-Mudawwanah, disebutkan perkataan Ibnul Qāsim:
سَأَلْتُ مَالِكًا عَنْ الْمَرَاضِعِ النَّصْرَانِيَّاتِ قَالَ لَا يُعْجِبُنِي اتِّخَاذُهُنَّ وَذَلِكَ لِأَنَّهُنَّ يَشْرَبْنَ الْخَمْرَ وَيَأْكُلْنَ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ فَأَخَافُ أَنْ يُطْعِمْنَ وَلَدَهُ مِمَّا يَأْكُلْنَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ وَهَذَا مِنْ عَيْبِ نِكَاحِهِنَّ وَمَا يُدْخِلْنَ عَلَى أَوْلَادِهِنَّ قَالَ وَلَا أَرَى نِكَاحَهُنَّ حَرَامًا وَلَكِنِّي أَكْرَهُهُ
“Aku bertanya kepada Imam Mālik tentang wanita-wanita Nasrani yang menyusui (bayi). Beliau menjawab: Aku tidak menyukai menjadikan mereka sebagai penyusu. Sebab mereka minum khamr dan makan daging babi, maka aku khawatir mereka akan memberi makan kepada anak dengan apa yang mereka makan itu. Beliau berkata: Dan inilah sebagian cacat menikahi mereka, serta apa yang mereka masukkan kepada anak-anaknya. Namun aku tidak memandang menikahi mereka itu haram, tetapi aku membencinya.”
Dalam Al-Mughnī, Ibn Qudāmah berkata:
كَرِهَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الِارْتِضَاعَ بِلَبَنِ الْفُجُورِ وَالْمُشْرِكَاتِ وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا اللَّبَنُ يَشْتَبِهُ فَلَا تَسْتَقِ مِنْ يَهُودِيَّةٍ وَلَا نَصْرَانِيَّةٍ وَلَا زَانِيَةٍ وَلِأَنَّ لَبَنَ الْفَاجِرَةِ رُبَّمَا أَفْضَى إِلَى شَبَهِ الْمَرْضَعَةِ فِي الْفُجُورِ وَيَجْعَلُهَا أُمًّا لِوَلَدِهِ فَيَتَعَيَّرُ بِهَا وَيَتَضَرَّرُ طَبْعًا وَتَعَيُّرًا وَالِارْتِضَاعُ مِنْ الْمُشْرِكَةِ يَجْعَلُهَا أَمًّا لَهَا حُرْمَةُ الْأُمِّ مَعَ شِرْكِهَا وَرُبَّمَا مَالَ إِلَيْهَا فِي مَحَبَّةِ دِينِهَا وَيُكْرَهُ الِارْتِضَاعُ بِلَبَنِ الْحَمْقَاءِ كَيْلَا يُشْبِهَهَا الْوَلَدُ فِي الْحُمْقِ فَإِنَّهُ يُقَالُ إِنَّ الرِّضَاعَ يُغَيِّرُ الطِبَاعَ
“Abu Abdillah (Imam Ahmad) memakruhkan menyusu dengan susu wanita fajirah (pelaku maksiat) dan wanita musyrik. Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz رضي الله عنهما berkata: Susu itu serupa, maka janganlah menyusu dari wanita Yahudi, Nasrani, atau pezina. Sebab, susu wanita fajirah bisa menimbulkan keserupaan anak dengan sifat kefajiran, serta menjadikannya seperti seorang ibu bagi anak, sehingga anak bisa tercela karenanya dan terpengaruh secara tabiat maupun celaan orang. Adapun menyusu dari wanita musyrik akan menjadikannya seperti ibu, yang memiliki kehormatan ibu meski dalam keadaan syirik, dan mungkin anak akan condong mencintai agamanya. Dimakruhkan juga menyusu dari wanita bodoh agar anak tidak menyerupai kebodohannya, karena dikatakan: ‘Sesungguhnya susu dapat mengubah tabiat.’”
Dengan demikian, diketahui bahwa hukum menyusui anak kecil kepada wanita Nasrani adalah makruh, bukan haram. Namun apabila si anak sangat membutuhkan susu dari wanita Nasrani, maka hukum makruh itu hilang, karena kemakruhan dapat gugur dengan adanya kebutuhan.
Wallāhu a‘lam.



