Motivasi Islami

ANTARA WAKTU DAN TUJUAN HIDUP

Di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang mukmin adalah bagaimana ia memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Allah dalam banyak ayat telah bersumpah dengan waktu yang menunjukkan bahwa waktu memiliki esensi yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin.

Manusia di sisi Allah hanya tahun-tahun yang terbatas, bulan-bulan yang terbatas, hari-hari yang terbatas, jam, menit dan detik yang terbatas.

Seorang penyair berkata,

دقات قلب المرء فائلة له  * إن الحياة دقائق وثواني

Setiap detak jantuk seseorang berkata kepadanya,

‘Bahwa kehidupan adalah kumpulan menit-menit dan detik’.

Banyak waktu yang terbuang sia-sia disebabkan rasa malas, sikap selalu menunda-nunda, obrolan-obrolan yang tidak berfaedah, menghabiskan waktu dengan banyak jalan-jalan, menonton episode-episode film dan lain-lain.

Demikianlah manusia menghabiskan waktunya, Imam Syafii dalam syairnya mengatakan:

ماذا قدمت يا عبدي إلى متى انت باللذات مشغول * وأنت عن كل ما قدمت مسؤول

تعصي الإله وانت تظهر حبه * ذاك العمر في المقال شنيع

لو كان حبك صادقا لأطعته * إن المحب لمن يحب يطيع

Wahai hamba Allah apa yang sudah engkau persembahkan?

Sampai kapan engkau akan disibukkan dengan berbagai kenikmatan?

Sementara engkau terhadap apa yang engkau kerjakan akan ditanya.

Engkau bermaksiat kepada Allah sementara engkau menampakkan cinta kepada-Nya, hal itu adalah hal yang mustahil.

Jika sekiranya cintamu kepada-Nya jujur engkau akan menaati-Nya.

Sesungguhnya orang yang mencintai akan taat kepada yang ia cintai.

Seseorang perlu untuk mengatur waktunya dengan berbagai kegiatan-kegiatan untuk membaca buku-buku, menghadiri majelis-majelis ilmu, berdakwah dan mengajak manusia kepada Allah, mencari rezeki dan berkumpul bersama keluarga.

Hal-hal seperti itu perlu untuk diagendakan, perlu untuk diatur waktunya serapi mungkin. Karena waktu tidak akan menunggu seseorang, waktu akan terus berlalu, apa yang sudah berlalu maka ia telah berlalu, yang engkau punya hanya saat sekarang ini engkau ada padanya, hanya waktu itu yang engkau punya, sementara waktu yang sudah berlalu dan yang akan datang sama sekali belum engkau miliki.

Baca Juga  Memilih dan Dipilih

Betapa banyak orang yang telah meninggal dunia pada waktu yang tidak kita pikirkan. Betapa mahalnya waktu hingga Imam Al-hasan Al-Bashri mengatakan :

إنما أنت بضعة أيام كلما انقضى يوم انقضى بضع منك

“Engkau hanya sebagian dari kumpulan hari, setiap kali hari berlalu maka berlalu pula sebagian dari dirimu”

Banyak sekali perkara-perkara yang menyebabkan banyaknya waktu yang terbuang sia-sia, di antaranya adalah tidak adanya tujuan dalam hidup seseorang, Seseorang harus mengetahui dan memahami apa tujuan ia hidup. Apakah tujuannya sekedar ia hidup begitu saja? Sekedar makan? Sekedar minum? Sekedar tidur? Sekedar duduk bersama pasangan? Sekedar duduk bersama anak-anak?

Tidak ada tujuan sama sekali, ia tidak mengetahui kenapa ia ada di dunia ini, sekedar ia mengetahui bahwa ini sudah takdirnya, ia tidak mengetahui dari mana ia datang dan ke mana ia akan kembali. Orang seperti ini adalah orang yang jahil, orang yang tidak bisa mengerjakan apa-apa, padahal jelas sekali tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah hanya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Manusia juga diciptakan untuk Allah berikan rahmat kepadanya, yang dengan itu mereka bisa kembali ke surga-Nya. Hal inilah yang perlu dijadikan sebagai tujuan, karena hidup tanpa tujuan adalah hal paling besar yang dapat menyebabkan seseorang menyia-nyiakan waktunya.

Kemudian jika ada yang mengatakan, “Saya tahu mengapa saya diciptakan, saya diciptakan agar saya mengenal Allah, saya diciptakan untuk menyembah dan menaati Allah, saya diciptakan agar saya bisa masuk surga”. Maka tanyakan kepadanya, “Apakah engkau punya langkah-langkah atau strategi yang mengantarkanmu sampai pada tujuan itu?.”

Baca Juga  Kata-kata Mutiara Penggugah Belajar

Sebuah peribahasa mengatakan,

الأهداف من دون خطط أحلام وأمنيات

“Tujuan-tujuan (hidup) tanpa langkah-langkah yang jelas hanya sebatas mimpi dan angan-angan.”

Sementara Allah tidak bermuamalah dengan kita sekedar hanya dengan mimpi dan angan-angan belaka. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

لَيْسَ بِاَمَانِيِّكُمْ وَلَآ اَمَانِيِّ اَهْلِ الْكِتٰبِ ۗ

“(Pahala dari Allah) bukanlah (menurut) angan-anganmu dan bukan (pula menurut) angan-angan Ahlulkitab” (QS. An-Nisa: 123).

Peribahasa lain juga mengatakan,

التمنيات بضاعة الحمقاء

“Angan-angan adalah barang bawaannya orang-orang bodoh.”

Seperti itulah ungkapan yang mengatakan bahwa hanya orang-orang bodoh saja yang hidup penuh dengan angan-angan, diam di tempat dengan berbagai mimpi dan khayalan tanpa mau melakukan sebuah tindakan untuk mewujudkannya.

Seorang mukmin yang memahami ayat-ayat Allah tidak akan bersikap demikian, sebab dalam banyak ayat Allah telah mengisyaratkan keharusan untuk melakukan pergerakan dan tindakan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ

“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna, bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (QS. An-Najm: 39-42).

Dari ayat tersebut sangat dipahami bahwa Allah subhanahu wata’ala menginginkan setiap kita untuk melakukan ikhtiar pada setiap apa yang kita harapkan, jika dalam urusan dunia kita mau bersusah payah untuk mewujudkannya, maka bagaimana lagi dengan akhirat yang merupakan tujuan hidup kita sesungguhnya? Tentu sangat butuh usaha dan perjuangan yang besar.

Di antaranya adalah dengan mengatur waktu, menentukan satu amalan yang menjadi andalan untuk bisa dikerjakan secara konsisten hingga akhir hayat, serta bergerak, berusaha, berikhtiar dan berdoa kepada Allah untuk senantiasa dibimbing dan diberikan taufik.

Baca Juga  Catatan seorang penuntut ilmu

Anugrah

Mahasiswa S1, Jurusan Syariah dan Ushuluddin, Najran University, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?