Amanah dan Keindahan Akhlak

560

Akhlak merupakan peninggalan yang diwarisi semenjak peradaban manusia itu ada. Ia laksana butiran-butiran mutiara yang tersusun rapi. Setiap peradaban meninggalkan akhlak dan budi pekertinya, hingga ketika akhlak itu telah mendekati kesempurnaan, diutuslah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyempurnakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang luhur” (HR. Bukhari).
Jika segala sesuatu berharga karena mutu dan kualitasnya, maka mutu serta kualitas akhlak ada pada sifat amanah, bahkan boleh dikata bahwa amanah adalah puncak tertinggi dari akhlak itu sendiri, sehingga tak aneh jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan amanah sebagai suatu tanda kesempurnaan iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana dalam HR Imam Ahmad:

إنه لا إيمان لمن لا أمانة له، ولا دين لمن لا عهد له

“Sungguh tidak sempurna imannya orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak pula sempurna agamanya orang yang tidak menepati janji” (HR. Ahmad).

Lalu apakah amanah itu? Jika kita mencermati makna amanah dengan seksama, maka akan kita temukan bahwa makna amanah tak sesempit yang kita ketahui selama ini, yakni menjaga dan atau merawat apa yang dititipkan orang lain kepada kita dengan sebaik-baiknya dan segera mengembalikan titipan itu jika orang tersebut memintanya.

Akan tetapi, makna amanah lebih luas dari pada itu, ia mencakup cara kita menyikapi segala hal yang ada disekeliling kita, tentang bagaimana kita menjaga keluarga kita, tentangga di sekeliling kita, masyarakat kita, serta bagaimana kita berbangsa dan bernegara.

Amanah itu tentang keharusan kita bekerjasama menjaga keamanan negara, tentang profesionalitas kita dalam bekerja, tentang sikap tanggungjawab kita dalam mendidik keluarga dengan didikan islami, tentang rasa aman yang kita berikan kepada tetangga sebagai aplikasi dari hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

والله لا يؤمن والله لا يؤمن والله لا يؤمن قيل من يا رسول الله ؟ قال الذي لا يأمن جاره
بوائقه

“Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman” Sahabat bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “(Yaitu) orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukannya” (HR. Bukhari).

Makna amanah juga mencakup tentang saling menjaga rahasia, tentang kesadaran bahwa setiap kita memiliki kekurangan, tentang kewajiban untuk saling menutupi, sebagaimana hal itu diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam bait-bait syair beliau: “Jika engkau inginkan hidup yang baik, di mana agamamu terjamin dan kehormatanmu terjaga, maka jagalah lidahmu dari membicarakan kejelekan orang lain, karena memang manusia benyak mempunyai kejelekan, akan tetapi mereka juga mempunyai lidah (untuk mencela kamu), demikian pula matamu, bila ia menampakkan kejelekan orang, maka katakanlah kepadanya bahwa orang lain pun mempunyai mata (yang siap mengawasi setiap kesalahan dirimu), maka pergaulilah orang lain dengan baik, lupakan segala kekurangan mereka, dan persembahkan kepada mereka segala kebaikan”.

Seorang penyair juga berkata: “Sesiapa yang telah diamanahkan padanya suatu rahasia lalu ia mendedahkannya, maka seumur hidup orang tak akan lagi mempercayainya.”

Sungguh indah ungkapan berikut ini, “Setiap kali aku berpapasan dengan wanita yang bersolek, aku selalu menundukkan pandangan lalu menahan nafasku, agar auratnya (aibnya) tidak tampak olehku, dan harum tubuhnya tidak tercium hidungku, dengan begitu aku telah menjaga diriku dan dirinya”.

Definisi amanah terlampau luas, ia mencakup diri kita ini, yang telah Allah amanahkan agar kita jaga dan menuntunnya ke jalan yang diridhai-Nya, dan tidak menjerumuskannya kedalam jurang kehancuran. Diri kita adalah amanah, di mana kita dituntut untuk selalu menjaga kesehatannya dan tidak mengkonsumsi apa-apa yang
diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Adapun derajat tertinggi dari amanah itu adalah agama ini, baik pokok akidahnya atau cabangnya, dan amanah inilah yang pertama kali Allah turunkan ke dasar hati hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhiyanatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”(QS Al-Ahzaab:72).

Huzaifah ibn Al-Yamaan radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami dua hadis, salah satu dari keduanya telah aku lihat, dan saat ini aku sedang menunggu yang lainnya. Beliau bersabda kepadaku bahwasanya amanah singgah pada pangkal hati manusia, kemudian mereka mengetahui sebagian dari al-Qur-an, mengetahui sebagian dari as-Sunnah, dan beliau meriwayatkan kepada kami bagaimana diangkatnya amanah itu, beliau bersabda, “Seseorang tidur, lalu amanah di dalam hatinya dicabut, maka bekasnya masih tetap ada bagaikan titik- titik, lalu dia tidur kemudian dicabut, maka bekasnya bagaikan lepuh, seperti sebongkah bara api yang digelindingkan ke kakimu, lalu ia melukainya sehingga engkau melihatnya melepuh, tidak ada apa-apa (sesuatu yang beranfaat) di dalamnya…(HR. Bukhari. Sambungan haditsnya bisa dilihat pada Sahih Bukhari no: 7086)

Orang yang mengkhianati amanah dan menyia-nyiakannya pada hakikatnya ia telah merusak dunianya sebelum agamanya, pada sisi dunianya, ia akan dijauhi manusia, mereka akan saling memperingati agar berhati-hati dalam berinteraksi dengannya. Adapun untuk agamanya maka seperti pada hadis yang telah kami kemukakan di atas:

“Sungguh tidak sempurna imannya orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak pula sempurna agamanya orang yang tidak menepati janji” (HR. Ahmad). Semoga kita semua mengerti makna amanah dan urgensi serta cakupannya, dan agar kita semua diberi taufik oleh-Nya dalam menunaikan amanah dalam segala bentuknya dalam mengejawentahkan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil…”(QS. An-Nisaa. 58). Wassalam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.