Tarbawi

3 Tips Menghindari Dosa Namimah dan Gibah

Di antara tips dan cara untuk menghindari perbuatan namimah (adu domba) dan gibah adalah:

Pertama: Perbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah memberikan kepada kita akhlak yang mulia, di antara doa yang masyhur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terdapat dalam hadis Qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Wahai Muhammad, jika engkau salat, ucapkanlah doa: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin, ampunilah (dosa-dosa)ku dan rahmatilah saya. Jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkan saya dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.”

Dalam lanjutan hadis Nabi Shallallahualaihi wasallam menyebutkan, “Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah.” (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5/243. Syekh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).

Begitu pula membaca doa yang lain, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan jangan Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

Jadi kita berdoa kepada Allah agar kita diberikan hati yang bersih dari perbuatan dosa dan benci dari salah seorang dari kaum muslimin karena yang mendorong kita untuk berbuat gibah kepada seseorang adalah kebencian dan inilah yang diinginkan oleh setan, oleh karenanya dalam hadis Rasulullah pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling utama?”, beliau menjawab, “Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya”, Para sahabat berkata, “Orang yang benar ucapannya telah kami paham maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?”, Rasulullah menjawab, “Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 4216 dan At-Thabarani, serta disahihkan oleh Imam Al-Albani dalam “Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah”).

Baca Juga  Islam dan Iman, Nikmat yang Paling Agung

Namimah atau gibah adalah kemungkaran yang sangat besar maka hendaklah kita menjauhinya dengan banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Kedua: Mengetahui bahaya dari namimah dan gibah, agar ketika kita memiliki anak yang masih kecil yang susah untuk dilarang dari perbuatan yang ia kerjakan, hal ini disebabkan karena ia belum mengetahui bahayanya. Di antara bahaya gibah adalah berkaitan dengan kebaikan dan pahala kita kelak di hari kemudian, karena amalan yang kita kerjakan akan diambil oleh orang yang kita gibahi. Hakekat perbuatan gibah dan namimah adalah perbuatan yang melanggar hak saudara kita karena di dalamnya ada kezaliman dan setiap kezaliman akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab: “Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda”. Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) salat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam 50 neraka.” (HR. Muslim no. 2581, At-Tirmidzi no. 2418 dan Ahmad (2/303, 334, 371) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu).

Ketiga: Tanyakan kepada diri kita maukah kita diperlakukan seperti apa yang kita lakukan kepada saudara kita, tentunya kita tidak mau karena orang lain memiliki perasaan seperti perasaan yang kita miliki, sebagaimana perbuatan yang kita lakukan kepada saudara kita maka begitu pula kita akan diperlakukan di kemudian hari. Imam Malik pernah berkata, “Saya mengenal suatu kaum tidak memiliki aib dan cela, karena ia sering menceritakan aib orang lain maka aibnya disingkap oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebaliknya saya mengenal ada orang yang banyak dosa dan aibnya, karena ia selalu menutupi aib saudaranya maka aibnya ditutupi oleh Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Baca Juga  Cara Mensyukuri Nikmat Iman Dan Hidayah Islam

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka, karena sesungguhnya barang siapa mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka maka kelak Allah akan menyingkapkan kekurangan dia (di akhirat), Allah akan membiarkan orang lain tahu aibnya, meskipun di dalam rumahnya.” (HR. At-Tirmidzi (Tuhfatul Ahwadzi juz 6/180), disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’ Al-Shaghir” no. 7985 dan “Shahih At-Tirmidzi” no. 1655).

Adapun jika namimah dan gibah sudah terjadi maka bertaubatlah kepada Allah kemudian meminta maaf kepada orang yang pernah kita gibahi, jika dia tahu bahwasanya kita menggibahinya maka minta maaf kepadanya, adapun jika dia tidak tahu maka kembali kepada maslahat, jika kita melihat maslahatnya lebih baik jika tidak disampaikan maka jangan sampaikan, cukup kita bertaubat dan mendoakan kebaikan untuknya, karena jangan sampai ketika disampaikan kemudian ia tahu pada saat itu dapat merusak hubungan kita dengannya. Beginilah cara berlepas dari gibah dan namimah. Wallahu Alam Bish Showab.

Harman Tajang, Lc., M.H.I

Kandidat Doktor, Qassim Universtity, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?