Motivasi Islami

3 Keistimewaan 10 Awal Zulhiijah Yang Wajib Diketahui

Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Demi fajar,” dan “demi malam yang sepuluh,” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 1-2)

Para ahli tafsir baik dari kalangan sahabat dan tabi’in menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh (baca: 10 hari) adalah sepuluh hari awal bulan zulhijjah.

Keutamaan sepuluh hari awal bulan zulhijjah

Mengapa sepuluh hari tersebut menjadi istimewa?

Karena memiliki banyak keutamaan, diantaranya:

  1. Allah ta’ala bersumpah dengan hari-hari tersebut

Karena tidaklah Allah bersumpah dengan makhlukNya dalam Al quran, kecuali menunjukkan keistimewaan dan kekhususan yang dimiliki makhluk tersebut. Seakan Allah memberi isyarat untuk mencari keistimewaan dan keutamaan yang ada didalamnya. Contoh yang paling mudah terkait ulasan diatas adalah sumpah Allah dengan makhlukNya matahari, dimana Allah berfirman:

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari,” (QS. Asy-Syams 91: Ayat 1)

 Siapa yang tidak tahu keistimewaan yang dimiliki makhluk yang bernama matahari? Bagaimana kehidupan didunia ini bila tidak ada matahari?

Demikian juga dengan makhluk-makhluk lain yang menjadi objek sumpah Allah ta’ala.

  1. Allah lebih mencintai amal salih yang dilakukan pada hari-hari tersebut

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيهنَّ أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ العشرِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ إلَّا رجل خرج بنفسِه ومالِه فلم يرجِعْ من ذلك بشيءٍ

Tidak ada hari dimana amal saleh didalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan sepuluh hari ini ( sepuluh Dzulhijjah).”Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun Jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Meskipun berjihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali sedikitpun.” (HR. Bukhari, 969).

Keistimewaan sepuluh awal Dzulhijjah dalam hadis diatas ditunjukkan dengan 2 hal:

 ⁃ pertama: Allah lebih mencintai

Maksudnya amalan dihari yang lain meskipun mendatangkan cinta Allah, namun tidak melebihin cinta Allah pada amalan yang dilakukan pada sepuluh awal Dzulhijjah.

Baca Juga  Nasehat Sebelum Melakukan Maksiat

Syaikhul Islam Ibnu taimiah mengulas perbandingan antara keutamaan sepuluh awal Dzulhijjah dan sepuluh akhir ramadhan, dan berpendapat bahwa waktu siang yang terbaik ada pada sepuluh awal Dzulhijjah, adapun waktu malam yang terbaik ada pada sepuluh akhir ramadhan.

Kemudian siapa yang mencintai?

Bukan orang tua, mertua,saudara, guru atau sahabat , tapi Allah yang menciptakan mereka semua.

Bayangkan!! Dicintai oleh Tuhan yang maha segalanya, bila Allah mencintai, maka jangan ditanya ni’mat dunia yang akan didapat, berkah yang tercurah, rahmat yang merapat, segala kemudahan, perlindungan, dan surga diakhirat.

 ⁃ kedua: Meskipun berjihad di jalan Allah

Maksudnya Allah tetap lebih mencintai amalan yang dilakukan pada sepuluh awal Dzulhijjah, dibanding berjihad di jalanNya yang dilakukan pada hari-hari yang lain.

Allahu akbar!! Jihad yang merupakan puncak syariat Islam karena didalam terkandung segala pengorbanan jiwa raga, harta dan benda. Jihad yang memiliki banyak keutamaan dan keistimewaan. Dan kita harus jujur untuk mengatakan bahwa kita belum siap untuk mengangkat senjata, berhadapan dengan musuh-musuh Allah ta’ala, terkena luka, bahkan menjemput kematian dijalanNya, disebabkan masih lemahnya iman dan besarnya kecintaan terhadap kehidupan dunia. Namun Allah dengan kasihan sayangnya memberikan kesempatan kepada kita untuk meraih cintaNya yang tinggi di sepuluh awal Dzulhijjah ini, dan Allah maha maha memiliki segala karunia dan keutamaan.

  1. Semua ibadah terkumpul pada hari-hari tersebut

Ibadah yang paling utama adalah syahadat, salat, shaum, zakat dan haji yang dikenal dengan Lima rukun Islam. Tahukah anda bahwa ke limanya tidak bisa dilakukan dalam satu waktu kecuali pada sepuluh awal Dzulhijjah.

Satu-satunya ibadah yang bisa dilakukan pada sepuluh awal Dzulhijjah adalah haji.

Maka beruntunglah kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji ditahun ini, juga mereka yang telah menunaikan haji ditahun-tahun sebelumnya, karena mereka Memilliki kesempatan yang sangat besar untuk meraih cinta Allah, pantas saja Allah menjanjikan surga bagi orang mendapatkan haji mabrur sebagaimana sabda Rasulullah:

Baca Juga  Hakikat Dosa “Menyebabkan Luka dan Menimbulkan Kepedihan” (Part. 4, Tamat)

والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dan haji yang mabrur tidak ada balasan selain surga.

Bagaimana dengan mereka yang tidak menunaikan haji, bisakah mereka menyatukan kelima rukun Islam tadi?

Tentu tidak bisa, terutama ibadah haji, karena haji tidak bisa ditunaikan kecuali dikota mekkah al mubaarakah. namun tujuan dan hikmah manasik-manasik haji sesungguhnya bisa diraih oleh kita meskipun tidak menunaikan haji.

Secara singkat tujuan seluruh ibadah termasuk haji minimal ada lima terangkum dalam kata: 3 T CARI, yaitu:

Tauhid, Tunduk, Takwa, Cinta Rasul, Zikir kepada Allah. Tujuan-tujuan mulia tersebut bisa kita raih kapan dan dimana saja kita beribadah.

kemudian secara khusus tujuan manasik-manasik haji diantaranya:

 ⁃ wukuf di Arafah, bertujuan agar kita mampu menjaga dan tidak melampaui apa yang Allah syariat kan, sebagaimana Arafah adalah batasan berdiam dan tinggal bagi yang sedang melakukan wukuf tidak melewatinya, dimana bila melewati dan wukuf diluar batas Arafah menyebabkan hajinya tidak sah alias batal, demikian juga dengan syariat dan hukum-hukum Allah yang merupakan pembatas antara islam dan kafir, taat dan maksiat, takwa dan fasik, wajib kita jaga kapan dan dimanapun kita berada, jangan sampai melampauinya apalagi melanggarnya.

  • Bermalam dimuzdalifah dan mina, bertujuan agar kita selalu menjaga ibadah dimalam hari,seraya senantiasa menancapkan niat dan azam untuk taat dan beribadah di keesokan harinya. Demikian rutinitas keseharian seorang muslim sejati, karena hidup dan matinya semata-mata untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ  اِنَّ  صَلَا تِيْ  وَنُسُكِيْ  وَ  مَحْيَايَ  وَمَمَا تِيْ  لِلّٰهِ  رَبِّ  الْعٰلَمِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,” (QS. Al-An’am 6: Ayat 162)\

Baca Juga  Janji Jiwa

Oleh karenanya jika kaum muslimin yang sedang berhaji bermabit dimuzdalifah dan mina, maka kita yang tidak berhaji hendaknya bermalam dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah dimanapun kita berada.

  • Menyembelih dam/hadyu, diantara hikmahnya agar kita mampu berkurban dengan harta dan menghilangkan nafsu yang tercela kepadanya sehingga ubudiyah dan cinta kita hanya untuk Allah semata, bagi mereka yag tidak berhaji bisa menunaikan ibadah kurban pada hari raya idul adha dan 3 hari setelahnya, dan bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan, maka mereka wajib memotong dan menyembelih hawa nafsu mereka agar tunduk kepada Allah ta’ala.

Hakikatnya kaum muslimin yang pergi kemekkah, mendatangi ka’bah baitullah semata-mata bertujuan untuk menemui dan bersimpuh dihadapan Allah ta’ala, maka sesungguhnya kita yang tidak pergi kemekkah dan tidak mendatangi ka’bah baitullah selalu memiliki kesempatan dan kemampuan untuk menemui dan bersimpuh dihadapan Allah ta’ala kapan dan dimanapun kita berada, karena Allah ta’ala lebih dekat dari pada urat nadi kita, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِ يْدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf 50: Ayat 16).

Penutup

3 keistimewaan 10 awal zulhiijah yng telah dipaparkan tidak bisa diraih kecuali dengan amal salih, ibadah dan ketaatan, oleh karenanya mari kita mulai dengan 2 langkah penting:

  • Pertama: taubat nasuha
  • Kedua: niat dan tekad yang kuat untuk memanfaatkan setiap detik, menit, jam, pada 10 awal zulhijjah untuk amal salih, ibadah dan ketaatan kepada Allah ta’ala.

اَللّٰهُمَّ أَعِنِّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah bantulah kami untuk selalu berdzikir kepadamu dan selalu memperbaiki ibadah kepadamu”

Ridwan Nursalam, Lc., M.A.

Kandidat Doktor, Bidang Aqidah & Pemikiran Kontemporer, King Saud University, Riyadh, KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?