Refleksikan Hajimu

20. Haji dan Ukhuwah

HAJI DAN UKHUWAH

(Oleh : H. Wahid Hasyim Asyrafi,  Lc, M.A.)

Ibadah haji tidak hanya sekedar hubungan seorang hamba dengan Allah Ta’ala saja, namun juga erat kaitannya dengan hubungan seorang hamba terhadap saudaranya seiman, atau yang lazim disebut sebagai ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim).

Haji adalah salah satu sarana penting dalam mewujudkan ukhuwah

Ibadah haji merupakan momen berkumpulnya kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, dengan berbagai macam bahasa, budaya, karakter, bentuk fisik, dan ciri khas lainnya. Bahkan ada yang mengistilahkan ibadah haji merupakan muktamar kaum muslimin terbesar, karena dengan ibadah ini kaum muslimin dapat mengenal dan mengetahui saudaranya dari berbagai belahan dunia. Ini merupakan simbol persatuan Islam yang paling nyata, bila shalat adalah simbol persatuan Islam karena seluruh kaum muslimin menghadap ke satu kiblat maka ibadah haji lebih dari itu karena simbol persatuan umat di sini terlihat lebih jelas dan tidak hanya bersifat maknawi.

Kita bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana mereka datang ke tanah suci dengan pakaian yang sama, mengucapkan talbiyah dengan lafadz yang sama, thawaf, sa’i, wukuf dan mabit semua dilaksanakan dengan bersama di tempat-tempat yang sama. Maka sungguh maha benar firman Allah Ta’ala yang artinya:

Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan aku adalah Robbmu, maka beribadahlah kepada-Ku” (QS. Al-Anbiya’: 92).

Dan sungguh indah apa yang dipesankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam khutbah beliau yang disampaikan pada saat haji wada’ kepada seluruh sahabatnya kaum muslimin pada saat itu, dan menjadi pesan berharga untuk seluruh umatnya sepanjang zaman, beliau berseru:

Wahai manusia sesungguhnya Rabb kalian adalah satu, dan ayah kalian juga satu (Adam ‘alaihissalam), maka sesungguhnya bangsa Arab itu tidaklah lebih mulia dari selain Arab dan bangsa selain Arab tidaklah lebih mulia dari pada bangsa Arab, begitu pula orang yang berkulit merah tidaklah lebih mulia dari orang yang berkulit hitam dan orang yang berkulit hitam tidaklah lebih mulia dari orang yang berkulit merah kecuali dengan taqwa”  (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).

Maka ibadah haji merupakan ibadah yang mengingatkan seluruh kaum muslimin akan wajibnya memelihara sekaligus menguatkan jalinan ukhuwah Islamiyah. Selain itu ibadah ini menyegarkan mereka kembali agar menjadi seperti yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya yang artinya:

Baca Juga  17. Haji dan Bahaya Maksiat

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat: 10).

Definisi ukhuwah

Ukhuwah Islamiyah bisa dimaknai sebagai suatu karunia yang suci, pemberian yang berharga dan nikmat Ilahi yang Allah tanamkan di dalam hati orang-orang yang ikhlas, orang-orang pilihanNya, para wali dan orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Al-Anfal: 63).

Juga firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imron: 103).

Ukhuwah Islamiyah juga memiliki makna sebagai suatu kekuatan iman dalam diri yang dapat memicu dan menumbuhkan rasa simpati, kasih sayang, cinta yang mendalam, juga rasa saling menghormati dan saling mempercayai kepada siapa saja yang sama-sama terikat dalam aqidah Islamiyah, terikat dalam keimanan dan ketakwaan, serta rasa persaudaraan yang tulus. Inilah yang mampu melahirkan pada diri seorang muslim itu sikap-sikap yang positif terhadap saudaranya seperti saling membantu, menyayangi, memaafkan dan meringankan kesusahan saudaranya. Juga menjauhkan diri dari sikap-sikap yang negatif terhadap saudaranya seperti mengganggu jiwa, harta, dan kehormatannya.

Maka dari itu ukhuwah islamiyah adalah sifat yang menjadi tuntutan keimanan bahkan bagian yang tak terpisahkan, iman tidak akan sempurna tanpa ukhuwah dan tidak sempurna pula ukhuwah bila tidak dibangun di atas iman, begitu pula persahabatan bila tidak dilandasi ketakwaan maka tidaklah sempurna.

Adapun ukhuwah tidak sempurna tanpa keimanan sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10).

Sedangkan persahabatan tanpa landasan takwa itu seperti yang difirmankan Allah Ta’ala yang artinya:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Zukhruf: 67).

Kedudukan dan pentingnya ukhuwah dalam Islam

Sampai di sini kita semakin paham betapa penting dan tingginya kedudukan ukhuwah Islamiyah dalam Islam. Ukhuwah Islamiyah ini yang akan memelihara keutuhan persatuan di antara kaum muslimin sehingga kekuatan mereka pun tetap terjaga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memperhatikan masalah ini, karena selain merupakan perintah syariat ia adalah syarat mutlak dalam keutuhan tatanan masyarakat muslim pertama yang beliau bangun. Tak heran banyak sekali kita dapatkan anjuran, nasihat, dan seruan beliau untuk memelihara keutuhan tali persaudaraan Islam ini agar tetap kokoh.

Baca Juga  19. Haji dan Doa

Adapun tuntunan-tuntunan beliau dalam berukhuwah secara garis besar kita dapatkan melalui dua sisi:

  1. Sisi perkataan-perkataan beliau yang datang dalam bentuk seruan dan perintah, seperti perintah untuk saling tolong-menolong, berprasangka baik, dan saling mengunjungi. Salah satu contohnya adalah sabda beliau:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ

“Barang siapa di antara kalian yang dapat memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya” (HR. Muslim). 

Juga sabda beliau tentang 7 golongan yang akan diberi lindungan pada hari kiamat, salah satu yang beliau sebutkan:  

وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah; bertemu karena Allah dan berpisah juga karena Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Sisi perbuatan beliau, tentunya ini sangat jelas karena beliau adalah suri tauladan umat ini. Di mana tidak satu pun kebaikan yang beliau sebutkan kepada para sahabatnya kecuali beliau sendiri telah melaksanakannya. Salah satu contoh nyatanya adalah apa yang diceritakan oleh sahabat Al-Bara’ bin ‘Azib:

Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu khandaq (saat penggalian parit khandaq) beliau mengangkat dan memindahkan tanah sampai tanah itu menutupi dadanya”(HR. Bukhari).

Di sini beliau ingin menanamkan semangat kerja sama, saling bahu membahu sesama kaum muslimin untuk mencapai tujuan bersama, dan beliau langsung turun sendiri melaksanakannya.

Syarat-syarat berukhuwah di Jalan Allah Ta’ala

Dalam berukhuwah di jalan Allah Ta’ala ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar jalinan ukhuwah itu benar-benar sempurna, diterima dan diridhoi Allah Ta’ala. Di antara syarat-syarat itu adalah:

  1. Berlandaskan keikhlasan lillahi Ta’ala, syarat ini tidak akan terwujud tanpa membuang sifat egois dan mementingkan diri sendiri, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dahulu ada seorang pemuda yang hendak mengunjungi saudaranya di negeri lain, maka Allah mengutus seorang malaikat untuk mengawasinya selama perjalanannya, malaikat bertanya kepadanya, ‘Ke mana engkau hendak pergi?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di negeri itu’ Malaikat bertanya lagi: ‘Apakah engkau mempunyai suatu kesenangan padanya yang dapat engkau pelihara?’  ia menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah’ Malaikat mengatakan: ‘sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk memberi tahumu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya’”. (HR. Muslim).

  1. Berlandaskan keimanan, dan ini tidak akan terwujud kecuali dengan mencari dan memilih sahabat-sahabat yang beriman dan bertakwa.
  2. Sesuai dengan manhaj Islam dan ini akan terwujud dengan menjadikan syariat sebagai pedoman dan rujukan pada setiap keadaan.
  3. Dilandasi nasihat karena Allah Ta’ala, dan ini akan terwujud bila seorang mukmin itu menjadi layaknya cermin bagi mukmin yang lain, bila ia melihat pada saudaranya kebaikan maka ia akan memotivasinya agar bertambah, dan bila ia melihat kekurangan atau kesalahan maka ia akan menasihatinya secara pribadi dan mendorongnya untuk bertaubat.
  4. Berasaskan saling membantu dalam senang maupun susah, dan ini akan terwujud bila seorang mukmin itu berbahagia bila saudaranya bahagia, dan turut merasa susah bila saudaranya ditimpa kesusahan.
Baca Juga  15. Haji dan Wanita Muslimah

Hak – hak dan kewajiban dalam berukhuwah

Dalam berukhuwah ada hak-hak dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang mukmin kepada saudaranya seiman. Hak-hak ini dibagi menjadi dua; umum dan khusus, adapun yang umum maka mencakup banyak hal di antaranya:

  1. Menebarkan salam
  2. Menjawab salam
  3. Menjenguk yang sakit
  4. Mengikuti pengurusan jenazahnya
  5. Memenuhi undangannya
  6. Mendoakan rahmat bila ia bersin dan mengucapkan hamdalah
  7. Menjalankan sumpahnya
  8. Menolongnya bila terzalimi
  9. Mendengarkan nasihatnya
  10. Menutupi aibnya
  11. Tidak menyakitinya baik fisik maupun batinnya
  12. Dan lain-lain yang banyak tersebut dalam Al-Quran dan hadis.

Adapun hak-hak khusus ditujukan kepada orang-orang yang paling dekat dalam persahabatan, atau disebut sebagai sahabat karib, mereka adalah orang-orang yang paling dekat dan paling terpercaya dan lebih mengetahui tentang kepribadiannya. Maka dalam menunaikan hak-hak yang tersebut di atas bagi mereka lebih ditekankan dan lebih diperhatikan.

Ini saat yang tepat untuk seluruh jamaah haji agar meresapi dan memaknai sedalam-dalamnya hakikat dari ukhuwah Islamiyah ini, karena kita semua mengetahui bahwa perjalanan haji ini tidaklah semata-mata untuk kemaslahatan dunia, atau kepentingan pribadi, tetapi karena menjalankan ketaatan pada Allah Ta’ala dan memenuhi panggilanNya. Maka hendaknya kita menghargai hak-hak saudara kita. Membudayakan itsar (mendahulukan orang lain), tidak menyakiti, memaafkan kesalahan, membantu kesulitan, dan akhlak kepada sesama lainnya. Intinya adalah: sebagaimana kita ingin saudara kita berbuat baik kepada kita maka kita juga harus berbuat baik kepada mereka. []

Wahid Hasyim Asyrafi, Lc., M.A.

Alumni S2, Bidang Akidah wa Mazahaib Mu'ashirah, King Saud University, Riyadh, KSA., KSA.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Klik
Kami siap melayani anda
Anda terhubung dengan admin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Afwan, ada yang bisa kami bantu?