Pelajaran Berharga Dari Kasus Penista Agama

Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 merupakan masa transisi penting dalam pergerakan politik dan perubahan di Indonesia. Peristiwa sebelum, saat, dan setelah berlangsungnya pilkada memberikan warna istimewa tersendiri. Tak salah jika sebagian orang bercerita bahwa cita rasa pilkada Jakarta sama dengan Pilpres.

Selama lebih kurang 71 tahun Indonesia merdeka, peran ulama dalam kancah perpolitikan di Indonesia terkesan semakin suram. Trauma sebab dihapuskannya HAM penegakan syariat Islam dari sila pertama Pancasila yang tertera dalam piagam Jakarta secara sepihak, penerapan sistem demokrasi Liberal-Sekular sebagai ideologi politik, dan adanya intimidasi pemerintah dalam setiap periode dengan skala berbeda menjadi faktor utama.

Momen pilkada Jakarta tahun ini dan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya telah menguras perhatian segenap rakyat Indonesia, utamanya mereka yang peduli akan nasib NKRI di masa mendatang. Maka sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas berkat rahmat dan karunia-Nya perjuangan kaum muslimin khususnya, dan kaum nasionalis umumnya telah berhasil membendung skenario berbahaya yang dimainkan oleh oknum tertentu untuk menguasai Indonesia.

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kasus penistaan Al-Qur’an dan pilkada Jakarta yang gaungnya masih membahana. Marilah kita petik pelajaran penting dari perhelatan dahsyat ini, jangan biarkan semua jerih payah, pengorbanan, dan perjuangan kaum muslimin dari berbagai elemen lewat dan selesai begitu saja.

1- Kembali kepada Al-Qur’an adalah sumber kejayaan.

Allah Subahanahu wa Ta’ala menjadikan Al-Qur’an sebagai buku petunjuk demi mencapai semua kebaikan duniawi dan ukhrawi. Al-Qur’an adalah kitab suci penyempurna kitab-kitab suci sebelumnya yang juga merupakan buku petunjuk bagi umat saat itu.  Jika kaum muslimin meninggalkan Al-Qur’an dan mengambil pedoman lain, maka mereka akan ditimpa kerugian, kegagalan dan kehinaan.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. al-Isra’: 9)

Dalam rentetan peristiwa yang terjadi di Jakarta, kita dapat menyaksikan bagaimana satu ayat saja dari Al-Qur’an telah mampu membangkitkan umat dari tidur lamanya. The power of al-Maidah 51 telah berhasil menyadarkan kaum muslimin atas satu kesalahan panjang, sepanjang sejarah perjuangan Indonesia, bahwa mereka telah semakin menjauh dari sumber kekuatan melawan segala bentuk kezaliman dan kebatilan, yaitu Al-Qur’an. Bahwa kejayaan Islam tak akan diperoleh dengan bantuan orang kafir, siapa pun dia.

Maka, tidak ada lagi alasan bagi muslim untuk mengabaikan Al-Qur’an, membaca, menghafalkan, memahami ayat-ayatnya, dan mengamalkan hukum dan tuntunannya. Setiap orang tua harus mengerahkan semua usaha agar putra-putrinya cinta Al-Qur’an, agar perjuangan meraih kejayaan Indonesia selanjutnya dipelopori oleh generasi Qur’ani.

2- Ulama Rabbaniyyin pahlawan sesungguhnya.

Para Nabi dan Rasul Allah telah melaksanakan amanah menyampaikan agama Islam dengan baik kepada kaumnya masing-masing. Tugas berat tersebut ditutup dengan keberhasilan gemilang yang dicapai oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.  Setelah beliau wafat, tugas menyampaikan risalah Islam yang lurus tidak berhenti begitu saja, namun dilanjutkan oleh para ulama rabbaniyyin dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama sepanjang masa. Mereka membimbing dan membina umat manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Ulama yang dimaksud adalah para alim yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, tidak rela menjual ilmu apalagi agamanya demi segenggam kenikmatan dunia fana. Mereka tidak gentar menyampaikan kebenaran, mencegah kemungkaran walau harta dan nyawa jadi taruhan. Semua mereka jalani dengan penuh kesabaran diiringi keyakinan akan kebenaran semua ayat dan janji Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman:

“Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. Al-Sajdah: 24).

Mereka bukanlah ulama yang fatwa dan aksinya mengikuti pesan para penguasa. Mereka juga bukan ulama popularitas, yang fatwa dan sikapnya mengikuti kemauan publik.

Saat Al-Qur’an dihina kita menyaksikan langsung beberapa ulama dengan gagah berani mengeluarkan fatwa menuntut sanksi atas penista Al-Qur’an, ulama lainnya yang tak kalah hebat bersatu membela dan mengawal realisasi fatwa tersebut. Mereka bersatu membela Al-Qur’an, mereka berpadu memandu umat untuk maju menuntut keadilan, namun dengan bijaksana mereka meredam kemarahan yang dapat membakar persatuan.

Ulama golongan ini adalah aset yang sangat berharga bagi Indonesia, mereka harus terus didukung dan dijaga. Sebagaimana ulama terdahulu berhasil memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, ulama masa kini juga akan berhasil mempertahankan NKRI dan membimbingnya menuju kemajuan dan kesejahteraan, biiznillahi Ta’ala.

3- Persatuan kaum muslimin, kewajiban yang terabaikan.

Meski sangat banyak ayat dan hadits yang memerintahkan kaum muslimin agar bersatu padu dalam akidah yang benar, bergandengan tangan membela kebenaran dan menegakkan keadilan, namun tetap saja perpecahan menancapkan taringnya dalam tubuh umat. Musuh-musuh Islam bersusah payah memupuk pertikaian dan perselisihan tersebut, agar kaum muslimin lemah, negaranya goyah untuk kemudian dikuasai dengan mudah.

Pilkada Jakarta putaran pertama dinodai dengan adanya perpecahan antara kaum muslimin, apapun alasannya energi yang terbuang tidaklah sedikit dan hampir saja menyebabkan kekalahan. Luka ini sedikit terobati dengan kesepakatan mayoritas kaum muslimin untuk mendukung calon pemimpin muslim pada putaran kedua. Memang persatuan kali ini masih terbilang kecil, namun sudah dapat membuktikan pepatah ‘bersatu kita teguh bercerai kita runtuh’.

Persatuan segenap elemen umat Islam dari berbagai latar belakang dalam memperjuangkan tuntutan keadilan atas penista agama dalam berbagai aksinya, menjadi peristiwa penting yang pantas diukir dengan tinta emas dalam catatan sejarah perjuangan Indonesia. Kaum muslimin tidak pernah dihancurkan karena mereka lemah, namun mereka kalah karena terpecah belah.

Hari-hari ke depan menuntut persatuan dalam tataran yang lebih luas, apalagi menjelang pilpres 2019, kekuatan umat yang telah mulai terbentuk akan dihancurkan dan persatuan mereka akan dipecah-belah. Maka tugas penguasa muslim adalah meminta nasihat ulama dan mendengarkan suara rakyat. Tugas ulama membimbing para penguasa dan mendidik rakyat kepada akidah dan ajaran Islam yang lurus. Tugas rakyat adalah menaati penguasa dalam perkara ma’ruf serta menuntut ilmu dari ulama dan menaati mereka.

4- Perjuangan gigih tanpa pamrih.

Semua muslim berakal sehat yakin dan percaya bahwa keberhasilan tidak akan dicapai hanya dengan berangan-angan dan berpangku tangan. Namun harus ada usaha baik yang didukung dengan doa dan tawakal. Sebab, sudah menjadi sunnatullah, bahwa orang yang berusaha bersungguh-sungguh dengan cara yang tepat akan meraih cita-cita dan harapannya. Begitu pula usaha membela kebenaran, menegakkan keadilan dan menghancurkan kemungkaran.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-Ankabut :69).

Mayoritas kaum muslimin di seluruh Indonesia telah mengerahkan segenap usaha mendukung ulama demi membela agama, mereka merasakan berbagai kesusahan dan intimidasi. Sakit hati tak terbilang saat agama dihina, saat sebagian ulama dan tokoh muslim diteror, difitnah, bahkan ada yang dipenjara. Namun, semua rintangan ini mereka lalui dengan sabar, tabah, dan hanya mengharapkan ridha dan balasan mulia di sisi Allah. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. (QS. an-Nisa’: 104).

Jika kaum muslimin telah mengeluarkan dana tidak sedikit dalam aksi membela agama, Al-Qur’an dan ulama, maka Allah akan memberikan mereka pahala berlipat ganda jika ikhlas. Orang-orang kafir tentu juga mengeluarkan harta berlimpah ruah untuk membela kebatilan, namun hasil yang mereka capai hanyalah penyesalan di dunia dan azab pedih di akhirat. Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS. al-Anfal: 36).

Keberhasilan kaum muslimin dalam pilkada Jakarta dan jatuhnya sanksi atas penista agama nantinya bukanlah akhir dari pengorbanan, namun merupakan titik awal perjuangan. Karenanya setiap muslim harus menyiapkan diri dengan akidah yang benar, iman yang kuat, fisik yang sehat, dan ilmu agama yang memadai. Memimpin Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tidaklah mudah, namun dengan iman, takwa dan keahlian yang mumpuni, insya Allah bukan hanya Indonesia, tapi kita juga bisa memimpin dunia.

5- Kaum munafikin musuh terbesar kaum muslimin.

Munafik dalam pandangan Islam terbagi dua. Pertama munafiq i’tiqadi, yakni orang yang menyembunyikan kekufuran dalam hatinya dan menampakkan keislaman, ia dihukumi keluar dari Islam. Kedua, munafiq ‘amali, yakni seorang muslim yang melakukan amalan atau perbuatan kemunafikan. Golongan pertama jauh lebih berbahaya dari golongan kedua. Sebab, hakikat kekufurannya tidak diketahui khalayak ramai dan ia adalah musuh dalam selimut. Mereka inilah musuh bebuyutan yang harus diwaspadai. Allah Ta’ala berfirman:

Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. al-Munafiqun: 4)

Fakta yang harus kita yakini bahwa bila negara Islam kuat dan menegakkan syari’at, maka kaum munafikin akan semakin banyak. Namun bila negara Islam lemah atau tidak menegakkan syariat dengan benar, maka kaum munafikin menunjukkan diri tanpa malu-malu lagi!

Bukan hanya pada peristiwa penistaan Al-Qur’an yang baru saja terjadi, tapi sepanjang sejarah perjuangan kaum muslimin, bahkan sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, peran kaum munafikin juga sangat besar dalam memerangi dakwah, merongrong kejayaan Islam, serta melancarkan berbagai macam makar terhadap figur dan tokoh Islam, yang mengakibatkan kerugian nyawa, harta benda, bahkan runtuhnya sebuah negara.

Para da’i, pendidik dan ulama harus berusaha maksimal mengajarkan kaum muslimin tentang sifat-sifat dan ciri-ciri kaum munafikin, mengingatkan semua elemen dakwah akan bahaya besar mereka, serta melarang segala bentuk kerja sama. Diiringi usaha mengajarkan sifat-sifat orang beriman yang hakiki, serta manhaj ahlus sunnah dalam bergaul dan menyikapi orang-orang munafik dan kafir.

6- Amar Ma’ruf Nahi mungkar adalah tanggung jawab bersama.

Menyuruh kepada segala yang ma’ruf dan mencegah dari segala bentuk kemungkaran adalah tugas setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari, no. 3461 ) Beliau juga bersabda: “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Kendati demikian, harus tetap ada segolongan kaum muslimin yang mengambil profesi sebagai muhtasib/penegak amar ma’ruf dan nahi mungkar. Untuk Indonesia FPI sudah maju melaksanakan fardhu kifayah ini, maka kewajiban umat Islam Indonesia mendukung mereka atau ikut berpartisipasi  aktif, paling tidak jangan ikut memfitnah mereka. Para ulama diharapkan terus mengawal juga memberikan nasihat serta bimbingan.

Kasus penistaan Al-Qur’an, agama dan ulama adalah salah satu kemungkaran terbesar, dan sekelompok ulama sudah maju menegakkan nahi mungkar yang didukung oleh segenap muslimin Indonesia. Masih banyak kemungkaran lainnya yang perlu dibasmi dengan cara tegas namun bijaksana, tanpa menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi, dan itu menjadi tugas kita semua.

Kita tidak butuh miliaran orang sholeh, namun kita butuh ratusan mushlih, yakni segolongan muslimin yang memperbaiki dirinya dan memperbaiki orang lain di sekitarnya. Sebab jika mushlihin yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar sudah langka kemungkaran akan merajalela, dan bila kemungkaran sudah tersebar di mana-mana, hukuman Allah akan menimpa semua.

Dari Umul mukminin Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang shalih di tengah-tengah kami?” Beliau menjawab, “Betul, ketika kemaksiatan telah merajalela. (HR. Bukhari, no. 3346, 3598, 7059. Muslim. No. 2880).

7- Syariat Islam adalah solusi terbaik mengatasi semua problematika umat.

Semua sumber hukum di dunia ini sudah mengalami distorsi, kecuali Al-Qur’an al-Karim. Sebagai kitab suci paling sempurna, Al-Qur’an menjadi landasan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran manusia dalam segala aspek kehidupan dunia, dan menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya sebenarnya adalah HAM (Hak Asasi Muslim) yang menjadi kesepakatan founding fathers (para pendiri bangsa) dan tertuang dalam piagam Jakarta tahun 1945. Namun malang nian, piagam Jakarta juga mengalami distorsi sepihak, sebagaimana nasib berbagai sumber hukum dan kesepakatan lainnya.

Syariat Islam sangat komprehensif, tidak hanya terbatas pada sanksi pidana sebagaimana dipahami dan dijajakan oleh orang-orang yang benci Islam, namun meliputi semua sendi kehidupan pribadi, masyarakat, negara, dan hubungan internasional, dengan sistem pasti dan rapi berdasarkan referensi valid dan otentik.

Meski tidak sedikit orang yang membenci syariat Islam, namun pada prakteknya, suka atau tidak suka mereka tetap mengadopsi sistem syariat Islam yang membawa keuntungan.  Contoh yang paling nyata dalam dunia perbankan Indonesia adalah Bank Syari’at. Saat krisis moneter 1998, satu-satunya bank nasional yang tidak bangkrut dan mampu bertahan bahkan tanpa bantuan BLBI dari pemerintah adalah Bank Muamalat. Akibatnya, hampir seluruh bank yang ada di Indonesia membuka cabang Syariah, walaupun pemiliknya non muslim. Apa pun alasannya, paling tidak mereka yakin bahwa dalam bidang ekonomi dan finansial syariat Islam mampu menjadi benteng pelindung dari kerugian sekaligus sumber meraup keuntungan.

Tapi banyak yang tidak sadar, bahwa syariat Islam jauh lebih hebat dari yang mereka bayangkan. Tugas kita sebagai muslim sejati adalah mengamalkan ajaran Islam dalam ranah pribadi, keluarga dan masyarakat, juga menunjukkan keindahan syariat Islam serta manfaat besar yang akan diraih Negara kita jika menerapkannya secara kaaffah/menyeluruh, walau  objeknya terbatas bagi kaum muslimin.

Penutup

Perjuangan sebenarnya baru saja dimulai. Perjuangan menjaga eksistensi NKRI, merawat persatuan, memperkuat kebhinekaan, merealisasikan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indoensia yang merupakan janji Pancasila, harus dibina bersama. Para negarawan yang jujur dan loyal kepada NKRI, ulama yang takut kepada Allah dan cinta agama serta negara, dan rakyat yang taat ulama dan pemimpin, adalah tiga elemen utama pembangun Bangsa. Tugas masing-masing sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an al-Karim. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’: 58-59)

Ayat pertama ditujukan kepada pemimpin, ayat kedua diarahkan kepada rakyat, dan para ulama ada di antara keduanya. Baik pemimpin maupun rakyat jelata harus merujuk kepada ulama, mendengarkan dan mematuhi nasihat serta  wejangannya, karena mereka adalah pewaris para nabi, pembimbing manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Wallahu a’lam

You might also like More from author

Leave a comment
k