Makar Kaum Munafikin Dalam Memerangi Islam

Allah Subahanahu wa Ta’ala telah menakdirkan bahwa agama Islam akan tetap eksis sepanjang masa, hanya saja tidak selamanya kaum muslimin berjaya. Allah Ta’ala juga telah menggariskan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah ridha melihat eksistensi Islam dan dakwah kaum muslimin di seantero dunia.

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).”  [QS. al-Baqarah: 120].

Akan tetapi ada musuh yang jauh lebih berbahaya bagi kaum muslimin, mereka adalah kaum munafikin, orang-orang yang menyembunyikan kekafiran dalam hati dan menampakkan keimanan di hadapan khalayak ramai. Hati mereka sesak dipenuhi iri dengki saat menyaksikan kemenangan dan kebahagiaan kaum mukminin, tetapi merasa riang gembira saat kesusahan menimpa mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka.” [QS. al-Munafiqun: 4]. 

Dalam memerangi Islam kaum munafikin menjalankan berbagai makar dan tipu daya, semuanya dapat dirangkum dalam dua cara utama:

Pertama, cara-cara yang dilarang dalam Islam.

Kaum munafikin memerangi Islam dengan cara-cara jahat yang diharamkan dalam agama Islam manakala mereka kuat dan merasa aman. Biasanya kondisi ini terjadi saat kaum muslimin lemah. Cara yang biasa mereka lakukan adalah berkoalisi dengan Yahudi, Nashrani dan agama-agama lainnya. Mereka memberikan segala dukungan dengan harta benda, wewenang, media, dan lain sebagainya. Cara inilah yang dilakukan kaum munafik di Madinah saat mereka bekerja sama dan berjanji setia dengan Yahudi di sana.

Fakta ini ditegaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.” [QS. al-Hasyr: 11].

Pengkhianatan besar seperti ini menjadi sifat sejati kaum munafikin sepanjang masa dan di Negara Islam manapun mereka menghirup udara. Harga diri dan loyalitasnya bisa dijual kepada siapa pun, namun mereka takkan memberikannya kepada kaum muslimin, kecuali jika ada kepentingan dan keuntungan yang dapat diraih.

 Kedua, cara-cara yang dianjurkan Islam.

Di saat kaum mukminin kuat, persatuan dan persaudaraan di antara mereka terjalin erat, sehingga para munafik tidak bisa bergerak leluasa dan ketakutan senantiasa menghantui mereka, maka mereka menjalankan perang dingin dengan cara-cara yang dianjurkan dalam syariat Islam untuk memuluskan agenda buruknya sembari mengelabui kaum muslimin.

Sarananya cukup bervariasi, bisa dengan membangun masjid sebagaimana yang dilakukan kaum munafikin Madinah dengan membangun Masjid Dhirar, dengan tujuan memecah belah jamaah kaum muslimin, menjadikannya tempat perkumpulan para sekutu sekaligus  pusat pergerakan menghancurkan Islam dari dalam.

Perbuatan ini yang secara kasat mata terlihat terpuji namun hakikatnya sangat tercela, diabadikan dalam Al-Qur’an, agar kaum mukminin – kapan pun dan di manapun – tidak lengah dan tidak pula terkecoh dengannya, apalagi mereka biasa bersumpah bahwa tujuannya hanya demi kebaikan umat Islam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sungguh-sungguh bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). [QS. at-Taubah: 107].

Sarana lain yang kerap mereka lakukan adalah dengan berderma, membantu lembaga-lembaga Islam seperti pesantren dan lembaga sosial, mencetak buku-buku Islam, dll. Semua kegiatan terselubung ini akan diliput oleh berbagai media massa agar gaungnya sampai ke mana-mana.

Cara yang tidak kalah berbahaya adalah dengan menggunakan dalil-dalil syar’i untuk melegimitasi penyimpangan pemikiran dan perbuatan mereka. Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat mutasyaabihaat (bermakna samar) daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.” [QS. Ali Imran: 7].

Dalam menilai amal baik seseorang sejatinya kita harus mendahulukan husnuzh-zhan, namun jika seseorang terkenal dengan track record buruk, suka menyerang Islam dan kaum muslimin, rajin mendukung aksi-aksi anti Islam, biasa duduk bersama tokoh-tokoh penyerang Islam, kemudian tiba-tiba berbuat baik, maka rekam jejak sebelumnya tidak bisa diabaikan.

Makar kaum munafikin dengan berbagai triknya harus dihadapi secara bersama antara pemerintah dengan ulama dan para da’i dengan kehati-hatian ekstra. Pemerintah memiliki otoritas dan kekuatan untuk membasmi makar munafikin dan kemungkaran-kemungkaran lainnya, tetapi sering kurang bijaksana dalam menilai dampak yang akan ditimbulkan kemudian. Sebaliknya, ulama dan para da’i memiliki semangat tinggi dalam memberantas kemungkaran dan dapat menilai dampak yang akan ditimbulkan nantinya, namun tidak memiliki otoritas dan kekuatan penuh. Karena itu koordinasi antara kedua elemen ini ditambah dukungan rakyat akan menciptakan kekuatan besar dalam melawan beraneka ragam makar yang dijalankan musuh-musuh Islam. 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kaum muslimin dari berbagai makar musuh Islam baik dari kalangan kaum kafir maupun munafikin. Semoga kaum muslimin menyadari ancaman besar yang menghantui eksistensi negara dan agamanya, sehingga mereka tetap bersatu berbaris di belakang ulama. Amin

You might also like More from author

Leave a comment
k