Islam yang Diinginkan Barat [Bag. 1: Fakta dan Realita]

Perang Abadi antara Kebenaran Vs Kebatilan

Konfrontasi antara kebenaran melawan kebatilan, atau antara Islam vs kekufuran masih dan akan terus berkobar hingga akhir zaman. Sejatinya, Islam sebagai satu-satunya agama yang mendapat legalitas resmi dan cap asli dari Sang Pencipta alam semesta, senantiasa keluar sebagai pemenang tunggal. Tetapi tak jarang para pejuangnya terjebak dalam kekalahan akibat kelalaian mereka sendiri.

Selama kaum muslimin berkomitmen dengan tuntunan Islam yang hanif, menempuh jalan lurus yang telah digariskan oleh Nabiyyur Rahmah, mencengkeram identitas keislamannya dengan geraham seraya berseru “Innani Minal Muslimin”, aku adalah muslim! Maka Islam akan jaya.

Sebaliknya, tatkala kaum muslimin malu atau takut menunjukkan identitas islaminya, mengambil undang-undang kafir sebagai tuntunan dan menjadikan syariat Islam sebagai tontonan atau bahkan bahan kritikan, berpecah-belah, dan saling berlomba mengejar kenikmatan dunia yang fana, maka kaum muslimin tak ubahnya bak buih di lautan, banyak tapi tak berarti. Mayoritas, tapi hanya menjadi bulan-bulanan ombak yang menerjang silih berganti.

Urgensi Rekonstruksi Strategi Perang

Setelah berakhirnya konfrontasi fisik dan senjata yang ditandai dengan ditutupnya Perang Dunia II tahun 1945, dilanjutkan dengan runtuhnya Uni Soviet pasca perang dingin pada 1991, koalisi kaum kafir yang dipimpin oleh Amerika mulai sadar bahwa satu-satunya musuh yang mampu meruntuhkan hegemoninya di dunia internasional hanyalah Islam. Mereka juga betul-betul menyadari bahwa Islam,bagaimanapun lemahnya, tidak akan bisa dikalahkan dengan perang senjata. Akidah jihad yang terpatri dalam hati setiap muslim, ditambah lagi reaksi membela diri melawan kezaliman yang merupakan fitrah insani, menjadi senjata pusaka yang tak dapat dikalahkan meski oleh rudal tercanggih, atau senjata nuklir sekalipun!

Mau tidak mau, Amerika sebagai pemegang komando perang melawan Islam, harus menciptakan strategi baru yang jauh lebih halus namun efektif dapat meruntuhkan Islam. Agar strategi dan skenario ini benar-benar mujarab, maka dibutuhkan peta detail tentang dunia Islam. Tugas ini kemudian diembankan kepada RAND Corporation yang berpusat di California, Amerika Serikat.

Peta Dunia Islam Versi Musuh

Berdasarkan hasil risetnya RAND Corporation mengklasifikasikan masyarakat muslim ke dalam empat kelompok, tetapi menurut hemat penulis, pembagian tersebut dapat dirangkum menjadi tiga, yakni:

A. Fundamentalis

Adalah Gerakan Islam yang berkarakter “Anti Barat”. Cirinya utamanya ada empat, yaitu: pro Syariat Islam, pro Khilafah Islamiyah, anti Demokrasi Barat dan kritis terhadap pengaruh Barat. Status kelompok ini adalah “Berbahaya”, dan penanganannya adalah “Habisi”.

B. Tradisionalis

Adalah Gerakan Islam yang berkarakter “Netral” yaitu tidak anti mau pun pro terhadap Barat. Cirinya ada empat, yaitu: Pro Syariat Islam, pro Khilafah Islamiyah, pro Demokrasi Barat dan Kritis terhadap pengaruh Barat. Status kelompok ini adalah “Waspada” dan penanganannya adalah “Dijaga”. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini sangat berpotensi bermetamorfosis menjadi Modernisme bahkan Liberalisme, sesuai usaha Barat dalam membina dan mengarahkan perkembangannya. Barangkali kelompok yang dimaksudkan adalah kaum Shufi.

C. Modernis-Liberalis.

Adalah Kelompok Islam” yang berkarakter “Pro Barat”. Ciri-cirinya yaitu: Anti Syariat Islam, anti Khilafah Islamiyah, pro Demokrasi Barat. Ciri keempat yang sebenarnya agak berbeda namun sama, yaitu pro Barat. Perbedaannya hanya pada kualitas loyalitasnya, jika kaum Liberalis adalah antek asing, maka kaum Modernis lebih memilih bersahabat dengan Asing. Jika kaum Modernis perlu dirangkul, maka kaum Liberalis adalah anak asuh Barat yang terus dipelihara dan dibesarkan.

Ada kelompok keempat yang berafiliasi kepada Islam, namun Barat tidak memasukkannya dalam klasifikasi di atas, yaitu:

D. Sekte-sekte Yang Berafiliasi Kepada Islam.

Sebagian sekte ini ada yang sudah eksis sejak lama seperti Syi’ah, ada pula yang terhitung baru seperti Ahmadiyah. Kedua sekte ini dan yang semisalnya sengaja tidak dimasukkan dalam tiga kelompok di atas, karena sama sekali tidak berpotensi mengancam Barat, bahkan sebaliknya bisa diajak bekerja sama merusak dan menghancurkan Islam dari dalam, sebagaimana yang terjadi di Irak. Jika terjadi gesekan antara Barat dengan Syi’ah misalnya, maka biasanya terbatas dalam urusan ‘kepentingan, maslahat, atau pembagian daerah kekuasaan’, sebagaimana persaingan antara Romawi-Persia di masa silam.

Skenario Konfrontasi Versi Baru

Berdasarkan hasil studi Grand Corporation di atas, diajukanlah beberapa solusi yang kemudian disulap menjadi strategi rahasia jangka panjang pemerintah Amerika Serikat dan para sekutunya untuk meruntuhkan atau menjinakkan kaum muslimin, operasi yang kemudian dikenal dengan “Perang Salib Babak Baru”. Intinya adalah memerangi Islam asli dan membangun Islam palsu.

Pertama: Menghapuskan Islam.

Jika kita kembali mengamati klasifikasi dunia Islam versi Barat di atas, maka hanya ada satu kelompok yang berpotensi mengancam proyek kaum kuffar, yakni Islam Fundamentalis. Hakikatnya, kaum fundamentalis yang dimaksud adalah mereka yang berpegang teguh dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta manhaj salaf al-Shaleh dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ at-tabi’in. Islam versi ini harus diperangi dan dihapuskan, agar nafsu Barat menguasai dunia dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

Karenanya, strategi yang diterapkan harus benar-benar efektif meruntuhkan “Islam Fundamentalis” ini. Di antaranya:

  1. Memupuk Islam Fobia.

Islam hakiki yang mereka namakan Islam Fundamentalis harus dijauhkan dari kaum muslimin. Dengan artian, kaum muslimin boleh berislam, asal bukan Islam hakiki yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan Islam yang 100 % berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Kaum muslimin harus dibuat alergi dan takut darinya. Maka diciptakanlah istilah-istilah menakutkan, seperti Islam Radikal, Islam Ekstremis, Islam Fundamentalis, Islam Wahhabi, Islam Militan, Islam Garis Keras, … dst.

Selanjutnya, setiap komunitas yang mengklaim bermanhaj sesuai Al-Qur’an dan Sunnah seperti kaum salafi, dan sebagian organisasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ikut dijadikan korban dalam proyek ini.

  1. Kriminalisasi dan Radikalisasi Islam.

Meski tidak begitu berhasil, proyek Islam Fobia sudah cukup untuk mengubah mainstream orang terhadap Islam, dan mampu menciptakan kondisi masyarakat internasional yang siap menerima proyek berikutnya, yaitu kriminalisasi Islam. Kata ‘teroris’ adalah senjata paling ampuh untuk memuluskan proyek ini.

Tetapi, tidak semua masyarakat dunia, baik kaum muslimin maupun kaum kuffar dapat menerima begitu saja vonis ‘teroris’ dijatuhkan atas Islam. Karenanya tragedi 11 September adalah sarana tersimpel yang mampu mengubah persepsi dunia internasional terhadap Islam dalam tempo yang relatif singkat. Sehingga istilah ‘terorisme’ hanya berhak disandang oleh kaum muslimin, dan teroris artinya adalah Islam!

Selanjutnya, semua prinsip-prinsip dan ciri khas Islam bisa divonis teroris atau pemicu terorisme. Jihad adalah aksi terorisme. Syari’at Islam bertentangan dengan hak asasi manusia. Politik Islam tak sesuai dengan sistem demokrasi. Al-Qur’an, masjid dan kajian Islam adalah sumber terorisme. Hijab/cadar, jenggot, buku-buku Islam, dll. adalah ciri-ciri teoris!

  1. Pengalihan Medan Konfrontasi.

Tidak ada kaum muslimin yang rela dijuluki kriminalis atau teroris. Realita ini memaksa sebagian mereka berusaha semaksimal mungkin menjauhkan diri dari stigma negatif tersebut. Bahkan, sebagian muslim ikut memerangi Islam dan segala identitas islami, demi menyelamatkan diri.

Sebaliknya, kaum muslimin yang komitmen dan konsisten dengan prinsip-prinsip Islam yang benar, berusaha mempertahankannya dengan segala daya upaya. Akhirnya, konfrontasi yang dulunya berputar antara Kuffar Vs Islam, kini berpindah menjadi antara Islam Vs Islam.

Untuk lebih mempersempit medan konfrontasi antara sesama kaum muslimin, maka Barat sengaja membiarkan atau bahkan mendukung beberapa organisasi jihadis berkembang. Sehingga kapan saja kata jihad digaungkan, syariat Islam disuarakan, atau khilafah Islamiyah diperjuangkan, maka lirikan publik langsung terarah kepada organisasi tersebut.

Kedua: Menciptakan Islam Alternatif.

Setelah Islam yang sesuai ajaran Rasulullah berhasil dikriminalisasikan, maka pertanyaan yang terpaksa mencuat adalah; lantas, Islam versi mana yang benar? Atau lebih tepatnya, Islam mana yang diakui dunia internasional? Untuk menjawab pertanyaan ini, kaum kuffar sudah siap dengan proyek barunya “Islam Alternatif.”

Baca kelanjutannya di sini …

You might also like More from author

Leave a comment
k