VISI KELUARGA

Keluarga adalah organisasi terkecil dalam masyarakat. Sayangnya tidak banyak keluarga yang memiliki visi dan misi sebagaimana layaknya sebuah organisasi. Padahal visi dan misi ini yang akan menjadi acuan ke mana keluarga ini nantinya akan dibawa.

Visi ibarat gambar jadi sebuah rumah. Dari gambar itu kita bisa menentukan kualitas bahan yang dibutuhkan, kekuatan fondasi yang semestinya dibangun, pun tahapan-tahapan yang akan dilewati. Tanpa gambar ini, tentu tukang akan bingung mengerjakannya.

Tak beda halnya dengan keluarga, tanpa visi ayah bunda akan melalui hari-hari rumah tangga dengan sekenanya, ala kadarnya, larut dalam arus di sekitarnya, cekcok dan perselisihan yang tak kunjung selesai, beda pola asuh ayah bunda sehingga berdampak pada bingungnya anak. Dan masih banyak lagi efek negatif yang akan dihasilkan dari tidak adanya arah dan tujuan yang jelas dari keluarga ini.

Idealnya, pada awal pernikahan suami istri ini menyempatkan waktu untuk menyusun bersama visi keluarga yang akan mereka berdua bangun. Dalam kondisi rileks visi ini dimusyawarahkan berdua lalu dituangkan dalam bentuk tulisan. Keluarga seperti apa yang diidam-idamkan. Masing-masing menyampaikan keinginannya dan gambaran indah yang pernah dimimpikan sebelum berkeluarga. Setelah itu disimpulkan dengan mengakomodir impian kedua belah pihak tentunya.

Ketika visi telah terbentuk, selanjutnya membahas bagaimana visi indah itu bisa terwujud. Bisa dengan panduan poin-poin berikut:

Pertama: Terlebih dahulu membangun komitmen untuk saling:

  1. Menerima pasangan apa adanya.
  2. Terbuka atau transparan satu dengan yang lain.
  3. Percaya dan menjaga kepercayaan.
  4. Menyelesaikan masalah secara internal berdua sebelum melibatkan pihak ke tiga.

Kedua: Masing-masing mengemukakan latar belakang keluarga dan karakter mereka. Dengan langkah ini diharapkan masing-masing suami istri lebih mengenal lebih dekat keluarga barunya, sehingga lahir sikap saling memahami. Termasuk dalam poin ini sang suami menyampaikan siapa dan apa yang menjadi tanggungannya di keluarganya.

Ketiga: Saling menyampaikan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, baik terkait sikap, makanan, atau yang lainnya.

Keempat: Dalam hal ibadah, dirumuskan kegiatan ibadah seperti apa yang akan dijalani bersama di dalam keluarga.

Kelima: Dalam ranah keilmuan, pendidikan seperti apa yang akan ditempuh, formal maupun non formal.

Keenam: Dalam ranah keuangan keluarga, dibahas terkait pekerjaan suami dan atau istri, serta pengelolaan keuangannya. Termasuk dalam poin ini apa saja rencana ke depan yang terkait keuangan, seperti rumah, kendaraan, dll.

Kalaupun tahapan penting ini belum kita lakukan padahal usia pernikahan kita sudah lanjut, bahkan sudah memiliki anak atau cucu, maka tidak ada salahnya mencoba mengevaluasi kembali perjalanan rumah tangganya hingga saat ini dengan panduan poin-poin di atas. Jika sudah memiliki anak, maka baik juga menyertakan mereka dalam penyusunan visi keluarga ini, sehingga semua anggota keluarga merasa memiliki arah yang akan dituju oleh keluarga tercintanya.

Selain itu, ayah bunda pun perlu menyamakan persepsi tentang pola asuh yang akan diterapkan untuk anak-anak, agar anak tidak bingung karena ayah bilang begini sementara bunda berkata begitu. Agar anak juga tidak lantas condong ke salah satu orang tuanya saja karena yang satu selalu menuruti kemauannya sementara yang lain tidak. Ketika keluarga kecil ini masih tinggal bersama orang tua pun perlu diatur pola asuhnya, karena tidak jarang kakek dan nenek ikut campur dalam pengasuhan cucunya.

Pendidikan anak, baik formal maupun non formal, pembiasaan ibadah, dan pendidikan Alquran pun harus mendapat perhatian kita dalam penyusunan visi dan misi keluarga.

Setelah visi ini selesai disusun bukan berarti pekerjaan kita selesai. Secara berkala apa yang sudah kita sepakati dan kita tulis ini ditinjau ulang dan dievaluasi. Agar kita benar-benar tahu seberapa kesesuaian visi dengan kemampuan kita, seberapa pencapaian yang telah kita raih, atau barangkali ada yang perlu kita ubah karena tidak sesuai dengan minat dan bakat anak kita misalnya dalam arah pendidikannya. Intinya dengan memiliki visi tertulis kita memiliki acuan untuk membawa keluarga kita ke masa yang akan datang.

Banyak ayat Alquran yang menggambarkan kehidupan akhirat, nikmat dan sengsaranya, plus amalan yang dapat mengantarkan kita kepadanya. Allah berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang saleh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun.“ (QS : Al Kahfi [18] : 110).

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ، وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ، وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ، حَتَّىٰ أَتَانَا الْيَقِينُ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al-Muddatstsir: 42-47)

Ya, Allah mengajari kita bahwa tujuan akhir itulah yang menentukan proses yang akan kita jalani. Karenanya, keluarga yang merupakan anugerah yang mahal ini sudah semestinya kita kelola dengan baik, dengan langkah awal penyusunan visi keluarga. Selamat mencoba!

You might also like More from author

Leave a comment
k