Menghadapi Anak Berantem

 

Tanpa anak rumah akan terasa sepi, namun ketika anak-anak itu berantem maka keberadaan anak tak jarang dirasa sebagai sumber kegaduhan. Serba salah? Tentu tidak bagi mereka yang berusaha mengetahui akar permasalahannya.

Sebagai orang tua, kita semestinya terlebih dahulu mencari tahu apa penyebab utama masalah yang terjadi di antara mereka. Tanpa melakukan hal ini, maka masalah tersebut pada dasarnya belum tuntas. Kalaupun kelihatannya selesai, maka tidak menutup kemungkinan bahwa masalah itu akan kambuh di lain kesempatan.

Di antara sebab perkelahian anak-anak adalah sebagai berikut:

  1. Anak tidak memahami hal kepemilikan.

Masalah ini yang sering menimbulkan prahara rebutan antar anak yang berujung pada pertikaian, adu mulut, saling pukul, dan lainnya.

Anak perlu diajari tentang kepemilikan sejak dini. Pakaian dan mainan misalnya, anak dikenalkan bahwa pakaian ini punya kakak dan yang itu punya adik. Sehingga saat akan memakai yang bukan miliknya anak diajari dan dibiasakan untuk meminta izin kepada pemiliknya.

Dengan demikian, jika terjadi pertengkaran karena rebutan mainan kita bisa merujuk; mainan milik siapa itu, sehingga bisa ditemukan siapa yang salah di antara mereka. Ketika terbiasa dengan pola ini di dalam keluarga kecilnya, di luar rumah pun pola ini akan terbawa; mana miliknya dan mana pula milik temannya.

  1. Anak mendapatkan tontonan pertengkaran.

Daya rekam anak kita sangat dahsyat. Mereka selalu ingin meniru apa yang mereka lihat, bisa dari tontonan televisi atau dari perilaku orang tuanya sendiri. Karenanya, saat kita melihat anak kita bertengkar, maka kita perlu introspeksi; barangkali kita sendiri yang mencontohkan itu kepada mereka, atau kita yang memfasilitasi tontonan tak bertanggung jawab melalui televisi dan media lainnya.

Setelah introspeksi kita lanjutkan dengan langkah nyata perubahan. Sikap kita kepada orang tua kita harus dilandasi dengan sikap hormat dan bakti. Sikap suami kepada istrinya dilandasi dengan sikap kasih sayang dan arahan. Sikap istri kepada suami didasari dengan sikap taat, hormat, dan kasih sayang. Artinya, sikap ngeyel dan pertengkaran bukanlah sikap yang baik dalam sebuah tatanan keluarga. Nah, anak yang hidup dalam lingkungan saling menghargai ini akan tumbuh berkembang dalam sikap kasih dan sayang serta jauh dari kebencian dan permusuhan.

Akses anak ke televisi pun perlu kita tinjau ulang. Kita perlu tahu apa saja tontonan yang aman untuk anak kita, sehingga sajian kekerasan dan acara yang tidak mendidik lainnya tidak menjadi konsumsi mereka.

  1. Anak ingin mencari perhatian.

Perhatian adalah satu di antara hak anak. Bahkan pada dasarnya lebih berarti dibandingkan dengan hak materi. Saat kita tidak atau kurang memenuhi kebutuhan ini, anak biasanya akan menunjukkan perilaku yang dapat mengusik orang tuanya, dengan tujuan untuk mendapatkan perhatiannya. Misalnya saat kita lebih memperhatikan si kecil, si kakak yang merasa tidak diperhatikan akan mengganggu adiknya, membuatnya menangis, atau sekedar mencari gara-gara. Intinya agar kondisi menjadi kacau dan selanjutnya orang tuanya beralih perhatian ke dia.

Kita perlu menyadari saat hal seperti ini terjadi. Sebagai tindakan preventif kita berusaha sebisa mungkin untuk memberi perhatian yang sama kepada anak-anak kita. Agar tidak terkesan si adik lebih kita perhatikan, kita bisa melibatkan si kakak dalam melayani adiknya, dengan memintanya mengambilkan popok atau baju misalnya. Dengan demikian kita telah memberikan dua perhatian dalam satu kesempatan.

Saat perkelahian terjadi

Andaikata perkelahian terjadi, maka langkah pertama yang kita lakukan adalah melerainya, apalagi jika kita rasa ada bahaya yang mengancam, membawa senjata tajam misalnya. Sambil melerai kita meminta keduanya untuk mengucapkan A’udzu billahi minasy syaithanir rojim, sebagaimana anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah kondisi agak tenang, kita bisa melakukan tahap ke dua yaitu pengadilan kecil. Secara bergantian kita mendengar penuturan masing-masing tentang apa yang terjadi dan alasan mereka berantem. Jika ada dan diperlukan, boleh juga didatangkan saksi yang mengetahui kejadian tersebut. Setelah itu baru kita putuskan siapa dari mereka yang bersalah. Anak yang bersalah harus melakukan konsekuensinya; meminta maaf, mengembalikan barang, mengganti barang, memberi obat jika ada yang luka, dan konsekuensi lainnya sesuai dengan kasus yang terjadi. Sementara pihak yang benar kita motivasi untuk memaafkan dan menjauhi balas dendam.

Dalam peradilan ini kita perlu bersikap obyektif. Sering kali orang tua membela yang kecil meskipun salah. Sikap ini tidak benar dan akan menumbuhkan kecemburuan yang tidak sehat, selain itu anak akan belajar pembelaan yang salah pula. Kita perlu menyampaikan siapa yang salah, perkara kita nanti meminta si kakak untuk mengalah itu urusan berikutnya.

Ini juga berlaku untuk perkelahian di luar rumah anak kita dengan temannya atau anak tetangga. Namun kita tetap terus mengamati, apakah kasus berantemnya anak kita itu hanya sesekali saja atau ternyata sering. Kalau ternyata sering, maka perlu kita lihat apakah ia yang memulai ataukah dia yang selalu menjadi korban. Keduanya perlu kita konsultasikan kepada orang yang ahli di bidang ini, seorang psikiater misalnya. Karena bisa jadi harus dilakukan tindakan terapi khusus agar tidak berkepanjangan.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k