Memegang kendali

Krompyang…” suara piring pecah dari dalam rumah. Saat masuk, dilihatnya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam makanan telah berserakan di tanah. Beliau pun menahan pembantu yang membawa piring itu sampai Aisyah radhiallahu anha  menggantinya dengan piring yang utuh. Makanan diganti makanan, piring diganti piring.

Makanan yang jatuh pun beliau pungut, lalu disuguhkan kepada orang-orang yang ada di sisi beliau saat itu. “Ibu kalian sedang cemburu, ibu kalian sedang cemburu.” Terang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  menjawab sikap penasaran mereka. Hari itu memang jatah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  berada di rumah Aisyah radhiallahu anha  Istri tersayang ini merasa terusik dengan kiriman makanan dari madunya, Ummu Salamah atau Shafiyah radhiallahu anha.

Keluarga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tetap saja terdiri atas anggota dari kalangan manusia, manusia-manusia istimewa. Tentu agar mudah bagi kita umatnya untuk meneladani peri kehidupan yang beliau jalani, termasuk dalam adegan di atas.

Tombol jeda

Kita bisa melihat dengan jelas bagaimana Rasulullah saw memberi contoh nyata dalam menyikapi stimulus (rangsangan) di hadapannya. Beliau dengan lihai bisa menguasai diri lalu konsentrasi untuk melakukan solusi dan menyelesaikan masalah. Stephen Covey mengistilahkan ini dengan sikap “proaksi” lawannya “reaksi”. Artinya, apa yang kita lakukan adalah benar-benar pilihan kita, untuk suatu tujuan yang kita inginkan. Bukan reaksi dari perbuatan orang lain, apalagi terbawa emosi sebagaimana yang diinginkan oleh orang lain.

Sikap proaksi ini adalah kebiasaan baik yang sangat bermanfaat dalam peri kehidupan kita, termasuk dalam mengelola sebuah keluarga. Kita harus memiliki “tombol jeda” ketika datang suatu rangsangan. Berhenti sejenak untuk berpikir langkah apa yang akan kita ambil, apa plus minus dari langkah tersebut, akibat positif apa yang kita inginkan, dan seterusnya.

Sebagai contoh: pulang kerja dalam keadaan lelah,  masuk rumah dan mendapati ruang tamu berantakan.

“Dasar istri tidak becus, mengatur rumah kecil begini saja tidak bisa!”

“Masa’, beresin ruang tamu harus suami juga, hah?”

“Seharian kamu ngapain aja, hah? Suami capek kerja malah enak-enakan di rumah.”

“Istri macam apa kamu? Besok begini lagi, awas!”

Atau ketika anaknya pulang sekolah tiba-tiba ia melemparkan tas dan sepatunya.

“Anak tidak tahu sopan santun, ini yang diajarkan di sekolah, hah.” (sambil menjewer kupingnya).

“Lihat nih anakmu, mendidik satu anak saja tidak beres!”

“He, keluar sana! Jangan masuk rumah!” (sambil membanting pintu dengan keras).

Ini adalah sikap reaktif, terbawa keadaan sehingga ia meluapkan kemarahan, padahal ia belum tahu dan belum mencari tahu penyebabnya. Pada contoh pertama, bisa jadi istri sedang kurang sehat, anak-anak sedang rewel, anak-anak tetangga main ke rumah, atau sebab lainnya. Pada contoh kedua, bisa saja anak sedang punya masalah dengan temannya, habis dihukum oleh gurunya karena lupa tidak mengerjakan PR, uang jajannya hilang, sedang tidak enak badan, atau sebab-sebab lainnya.

Bukankah akan lebih baik jika kita pencet tombol pause sebentar untuk berpikir apa yang sebaiknya kita lakukan, agar masalah bisa selesai dan tidak berkepanjangan. Kita bisa ajak anak-anak untuk bersama-sama membereskan ruang tamu sambil bersenda gurau. Atau menyembunyikan sejenak rasa jengkel kita untuk menemui sang istri dan melihat mendengar dari dekat apa yang sebenarnya sedang terjadi, lalu membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah. Bukankah lebih adem bila kita dekap anak kita dengan hangat agar dia mencurahkan tangisan kekesalannya di dada kita. Atau kita biarkan sebentar, baru ketika sekiranya lega, kita dekati dan menyampaikan empati kita, seakan kita mengetahui problemnya di sekolah.

Ya, tombol jeda ini membuat kita lebih tenang menyikapi segala sesuatu, karena respons yang kita berikan benar-benar berdasarkan pilihan kita dan di bawah kendali kita, bukan reaksi akibat pancingan orang lain. Namun, keterampilan ini tentu membutuhkan pembiasaan dan latihan sampai menjadi bagian tak terpisahkan dari sikap keseharian kita.

Suatu ketika, Nabi shallallahu alaihi wasallam berdakwah di kabilah Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal dan beliau diusir, beliau begitu berduka dan gundah karena mereka tidak mau beriman. Beliau berjalan gontai, hingga tiba di daerah Qarni Ats Tsa’alib. Tiba-tiba beliau merasa ada awan yang menaunginya, sehingga beliau segera menengadah ke langit. Ternyata Malaikat Jibril menampakkan dirinya dari balik awan dan segera menyapanya dan berkata:

“Allah telah mendengar tanggapan dan sikap kaummu terhadap seruan dakwahmu. Karena itu Allah mengutus Malaikat penunggu gunung untuk engkau perintahkan sesuka hatimu”

Segera Malaikat penunggu gunung menyapa beliau dan berkata:

“Wahai Muhammad! Allah telah mendengar tanggapan dan ucapan kaummu kepadamu, sedangkan aku adalah Malaikat yang ditugasi mengurusi gunung. Aku diutus untuk engkau perintahkan apa saja yang engkau suka. Bila engkau mau, niscaya aku akan timpakan dua gunung (gunung Abi Qubais dan gunung Qu’aiqi’an) kepada mereka.”

Mendapat penawaran ini, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak serta-merta mengiyakan. Bukan reaksi yang beliau tunjukkan, namun sikap proaksi dengan sabda yang mulia:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Tidak, Aku sangat berharap semoga Allah melahirkan dari mereka orang-orang yang akan beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

(HR. Bukhari dan Muslim).

Indah dan luar biasa sekali bukan? Sampai derajat ini Rasulullah saw meneladankan sikap proaksi kepada kita. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k