Sunnatullah Dalam Berdiri dan Runtuhnya Suatu Bangsa

Muqaddimah

Allah Azza wa Jalla Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Ia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26).

Bila kita mengamati perjalanan sejarah dinasti-dinasti kekuasaan yang telah lampau, maka biasanya perhatian kita akan tertuju pada tiga fase utama, yakni fase berdiri atau deklarasi dinasti tersebut, fase keemasan atau kejayaan, dan fase keruntuhannya. Jika diamati lebih mendalam, maka kita temukan masing-masing fase memiliki faktor pendukung, dan bahwa faktor-faktor tersebut mirip atau bahkan sama antara satu dinasti dengan dinasti lainnya.

Semua fase ini berjalan sesuai dengan sunnatullah yang jelas dan tetap lagi sempurna. Firman Allah Ta’ala: Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah. (QS. Al-Ahzab: 62).

Oleh karena kesadaran dan pemahaman yang benar terhadap sunnatullah tersebut sangat urgen, Allah Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk senantiasa mengkaji dan menghayatinya, terutama mereka yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan dan kejayaan bangsanya. Sebagaimana kita harus terus membaca, menghayati, dan mengamalkan sunnah qauliah syar’iyah yang tertuang dalam Al-Qur’an al-Karim.

Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali Imran: 137).

Allah juga berfirman: Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada sunan/jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’: 26).

Umat manapun tidak akan eksis tidak pula mencapai kejayaan, jika tidak memahami sunnah atau ketetapan Allah, kemudian berusaha beradaptasi dan berjalan di atas koridornya secara maksimal. Kapan saja ia berpaling atau melawan dikarenakan kebodohan, enggan, atau kesombongan, maka ia akan mendapat sanksi setimpal di dunia ini tanpa terkecuali.

Pemahaman yang minim terhadap sunnatullah dalam kemajuan dan kejayaan sebuah peradaban telah menjebak mayoritas kaum muslimin, sehingga banyak yang menyimpulkan bahwa hegemoni kaum kafir atas umat Islam hanya disebabkan faktor-faktor materil, seperti kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, atau ideologi sekuler yang menjauhkan agama dari segala sendi kehidupan. Kita saksikan saat ini mayoritas mereka menjadikan Barat sebagai mercu suar peradaban dan kiblat kemajuan, tanpa rasa malu mereka menyerukan agar kita merubah haluan untuk berimam kepada Barat secara mutlak, dan megklaim bahwa mereka sajalah pembawa panji perubahan.

Hasilnya, mereka justru menggiring umat menuju jurang kehancuran, di mana mayoritas kaum muslimin khususnya generasi muda kehilangan identitas islaminya, lalu mengikuti dan mengagungkan budaya Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam yang murni. Padahal, hakikat ini sudah sejak lama diwanti-wanti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau:

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhobb (sejenis kadal besar padang pasir, red), niscaya kamu akan mengikuti mereka. Kami (para sahabat) pun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi?” (HR. Bukhari, no. 3456, Muslim, no. 2669).

Kemunduran yang menimpa kaum muslimin abad ini tak ubahnya penyakit yang menimpa seseorang, ia adalah takdir Allah yang harus diterima dengan ridha, tetapi harus tetap ada usaha diagnosa untuk mengetahui penyebabnya dan kondisi keterpurukannya, agar kita mampu memberikan penawar dengan dosis yang tepat, sehingga umat dapat sembuh dari penyakit kronis yang menimpa dengan izin Allah Azza wa Jalla.

Intinya, kemajuan dan kemunduran, eksistensi dan kehancuran sebuah bangsa tunduk pada faktor-faktor utama yang mendukung eksistensi dan kejayaan, serta faktor-faktor utama penyebab roboh dan hancurnya bangsa tersebut, yang kesemuanya tidak lepas dari takdir dan hukum sebab musabab yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.  

Bersambung….

 

You might also like More from author

Leave a comment
k