JALAN HIJRAH

Keputusan seorang hamba yang sebelumnya buta dari ajaran agamanya agar merubah arah hidup dan visinya dalam bingkai amal saleh adalah sesuatu yang tidak mudah. Di antara sekian faktor yang menghalangi perjalanan hijrah dan taubat ini adalah banyaknya tugas dan menumpuknya amal saleh yang mesti ia kerjakan setelahnya. Hal ini memberikan sikap waswas dan rasa berat untuk memutuskan hijrah secara total, dan selanjutnya mundur dan terus hidup dalam gelimang dosa dan maksiat. Di samping itu, ada juga individu yang berusaha keluar dari dunia gelap dan mencoba hijrah ke kehidupan agamis, namun tersandung berbagai rintangan yang membuat hidup mereka terseok-seok dalam kebimbangan, dan pada akhirnya melepaskan status hijrah yang telah digenggam. Problem utama kasus seperti ini adalah kurangnya keyakinan yang terpatri dalam hati, di samping faktor eksternal yang kurang mendukung seperti kurangnya teman-teman saleh, adanya berbagai kesibukan duniawi, kondisi keluarga yang tidak mendukung, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, demi memantapkan langkah hijrah ini, langkah awal yang perlu dilakukan adalah bisikan motivasi pada mereka yang ingin berhijrah ke kehidupan Islami, agar mereka segera mulai berhijrah dengan sungguh-sungguh sembari meneguhkan keyakinan akan sanggup istiqamah dalam melewati berbagai rintangan dan cobaan. Allah Ta’ala telah memberikan janji pada mereka yang bertekad mengerjakan amal saleh ini dalam firman-Nya yang artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-‘Ankabut: 69).

Dengan hijrah dan istiqamah inilah seorang hamba meraih ketenangan dan kebahagiaan hakiki setelah sebelumnya hanya tertipu dalam bayang-bayang kebahagiaan semu, juga hidupnya akan terarah dalam indahnya visi misi hidup Islami setelah sebelumnya terombang-ambing oleh ombak lautan duniawi, mengejar kesenangan tanpa arah. Allah Ta’ala telah menggambarkan kebahagiaan orang-orang yang istiqamah dalam firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah,‘  kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.“ (QS. Fushshilat: 30).

Seorang muslim yang ingin istiqamah dalam hijrahnya, selain meneguhkan hati sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, ia juga harus melecut dirinya dalam ambang pintu istiqamah yang telah digariskan oleh agama ini, di antaranya:

  1. Senantiasa mengintrospeksi keikhlasan dalam beramal saleh. Ikhlas adalah pondasi bangunan istiqamah, dengannyalah perjalanan hijrah seorang insan berpijak, semakin kuat keikhlasan seseorang, semakin kuat pula keistiqamahan dirinya dalam menghadapi berbagai cobaan. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa konsekuensi dan hasil positif ikhlas adalah munculnya sikap istiqamah, sebab ikhlas menunjukkan istiqamahnya hati yang merupakan pondasi keistiqamahan anggota badan, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seorang hamba tidak akan selamat (istiqamah) kecuali hati dan lisannya selamat (istiqamah) juga.” (Riwayat Ahmad: 3672).
  2. Mengilmui Islam dan beramal sesuai sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan mengilmui kewajiban yang dikerjakan, seorang muslim akan beramal dengan penuh rasa takut dan khusyu’ kepada Allah, dan dengan beribadah dengan yang sesuai petunjuk Rasul, ia akan diberikan taufiq merasakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta meraih ampunan-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan menggampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha pengasih lagi Maha penyayang. (QS Ali Imran: 31).
  3. Memperbanyak doa agar diberikan hati yang istiqamah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri senantiasa memperbanyak membaca doa agar diberikan sikap istiqamah, sebagaimana dikisahkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dalam HR Tirmidzi (3522): “Dahulu doa yang beliau perbanyak adalah: Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.” Lalu ia bertanya pada Rasulullah kenapa memperbanyak doa ini ? Beliau menjawab: ”Wahai Ummu Salamah, tidak ada seorang anak Adam pun kecuali hatinya ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Ia bisa berkehendak memberinya keistiqamahan, dan bisa berkehendak menyesatkannya.” Bahkan di antara doa orang-orang saleh yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Quran adalah: “Ya Rabb kami, janganlah sesatkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk pada kami.” (QS Ali Imran: 8).
  4. Merutinkan zikir dan membaca Al-Quran. Zikir dan membaca Al-Quran sangat urgen dalam proses hijrah dan istiqamah seorang muslim. Bila zikir senantiasa mengingatkan seorang hamba pada Rabbnya sehingga konsisten di atas ketaatan, maka membaca Al-Quran selalu memantapkan hati dan meneguhkannya tatkala berbagai rintangan dan cobaan mendera. Dalam Al-Quran Allah Ta’ala telah menyebutkan peran Al-Quran ini dalam meneguhkan hati di atas jalan istiqamah, yang artinya: “Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya (Al-Quran), dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS Al-Furqan: 32).
  5. Berteman dengan orang-orang saleh. Dengan bersahabat dengan mereka, hidup kita akan selalu terkontrol, bila kita beramal saleh mereka akan terus menyemangati, bila kita tersalah, mereka akan meluruskan dan menasehati, bila kita bergembira mereka akan menambahnya, dan bila kita bersedih mereka akan datang menghibur dan membangkitkan semangat kita. Persahabatan dengan orang-orang saleh ini telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasulnya, dalam ayat yang artinya: “Maka istiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud: 112). Setelah perintah istiqamah dalam QS Hud ini, Allah Ta’ala memperingatkan dari perkara yang bisa menyesatkan kita dari jalan istiqamah ini, yaitu dalam ayat yang artinya: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Hud: 113).
  6. Tidak meninggalkan shalat lima waktu dalam kondisi apapun. Shalat lima waktu sangat memiliki peran penting dalam perjalanan hijrah seseorang, khususnya terkait terjauhnya diri dari kebiasaan buruk lama berupa amalan maksiat atau dosa. Allah Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam firman-Nya yang artinya: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan – perbuatan) keji dan munkar.” (QS Al-‘Ankabut: 45). Tentang urgennya shalat yang bisa menjaga istiqamah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan kaitan keduanya dalam hadis: “Istiqamahlah kamu, dan sekali kali kamu tidak akan mampu menghitung (banyaknya manfaat istiqamah), dan ketahuilah bahwa sebaik baik amalanmu adalah shalat.” (HR Ahmad: 22378).

Dalam perjalanan hijrah dan istiqamah ini, seorang hamba hendaknya mengikuti prosesnya secara bertahap, tidak sekaligus. Amalan saleh harusnya ia kerjakan secara bertahap, memulai dari kewajiban yang ia sanggupi secara mudah, lalu yang agak berat, agar ia tak merasa pesimis dan patah semangat lantaran beratnya beban kewajiban yang mesti diembannya sekaligus, dan banyaknya batasan agama yang tidak boleh dilanggarnya. Juga istiqamah, tidak diukur dengan banyaknya amal saleh yang dikerjakan, namun diukur dari kebersinambungan amal tersebut meskipun sedikit. Rasulullah telah memperingatkan ini dalam sabdanya: “Berusahalah istiqamah di atas kebenaran, dan mendekatlah kepada kebenaran, dan ketauhilah bahwa amalan kalian tidak akan memasukkan kalian ke dalam surga, dan ketauhilah sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang selalu dikerjakan terus menerus, meskipun sedikit.” (HR Bukhari: 6464, dan Muslim: 2818).

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita semua sikap istiqamah dalam ucapan, perbuatan dan niat: “Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.” Aamiin.  

You might also like More from author

Leave a comment
k