Rumah dan Tarbiyah

Rumah adalah miniatur organisasi terkecil. Di  dalamnya setiap orang memiliki fungsi masing-masing baik secara individual maupun kolektif. Keberhasilan salah seorang di luar sana adalah keberhasilan seluruh anggota keluarganya. Dan sebaliknya, kegagalan salah seorang adalah kegagalan seluruh anggota keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang suami dan ayah memahami betul bahwa tanggung jawab terbesar yang beliau pikul di atas pundaknya adalah menjadikan rumah tangga beliau sebagai qudwah dan contoh yang terbaik bagi para sahabat dan pengikutnya. Karenanya, sangat banyak momen yang dimanfaatkan beliau untuk menggerakkan seluruh fungsi-fungsi kerumahtanggaan beliau.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana pemahaman syariat yang sebenarnya, penerapan ibadah, muamalah, dan akhlak-akhlak mulia islam. Ummahaatul mukminin (isteri-isteri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) sebagai orang-orang terdekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjadi para pionir yang secara langsung mendapatkan sentuhan tarbiyah ilahiyah yang diajarkan Allah ‘azza wa jalla kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di samping tugas yang telah Allah titahkan untuk mereka. Allah ta’ala berfirman:

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan sunnah nabimu. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” (QS: Al-Ahzaab: 34).

Maka rumah mereka menjadi salah satu tempat turunnya ayat-ayat Allah atas kenabian Rasulullah, sekaligus sebagai madrasah yang akan menerangi para pengikutnya dengan ilmu dan akhlak karimah. Oleh sebab itu, ayat di atas ditutup dengan firman-Nya “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Lembut” yang dengan kelembutan-Nya sehingga ummahaatul mukminin mendapatkan kemuliaan dan kehormatan di sisi Allah, “Dan Allah Lagi Maha Mengetahui” bahwa mereka pantas dan sanggup untuk menjalankan tugas dakwah dan tarbiyah yang dibebankan kepada mereka.

Sebelum beranjak lebih jauh menunaikan tugas dakwah dan tarbiyah yang lebih kompleks di tengah-tengah masyarakat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah lebih dahulu menanamkan dan mengajarkan kepada mereka bagaimana menjadi manusia yang sempurna di hadapan Ilahi. Mereka telah ditempa oleh Rasulullah untuk beriman, beribadah, berbudi pekerti baik di rumah maupun di hadapan masyarakat.

Tatkala Ummu Salamah radiyallahu ‘anha ditanya tentang doa apa yang sering dilantunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau menjawab: “doa yang paling diperbanyak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati hamba di atas agama-Mu”. Dalam sebuah kesempatan, Ummu Salamah kemudian bertanya apa gerangan penyebab Rasulullah memperbanyak doa tersebut?. Dan lihatlah jawaban beliau yang mentarbiyah dan menggugah iman setiap mukmin yang mendengarkannya:

“Wahai Ummu salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusiapun melainkan hatinya berada di antara dua jari dari jemari Allah ‘azza wa jalla, siapapun yang dikehendaki-Nya dapat menjadi istiqomah atau binasa” (HR Tirmidzy nomor 3522 dan dishohihkan oleh Al Albani).

Ketika fitnah yang amat keji menimpa isteri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kisah ifk, apakah gerangan perkataan yang dibisikkan Rasulullah kepada ‘Aisyah yang saat itu berada dalam kegoncangan yang hebat? akankah beliau menghardik? menghina dan mencerca? Saksikanlah tuturan kata yang akan mengarahkan siapapun untuk kembali percaya dan bersandar serta tawakkal kepada Allah Yang Maha Kuasa Lagi Maha Mengetahui. Rasulullah bersabda :

“Duhai ‘Aisyah, sungguh telah sampai kepadaku berita ini, jika engkau suci dari berita ini maka yakinlah bahwa Allah pasti akan mensucikanmu, namun jika engkau telah tergoda hingga melakukan kesalahan maka beristigfar dan minta ampunlah kepada Allah, karena seorang hamba yang mengaku atas kesalahannya dan bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya” (HR Bukhori nomor 2661).

Subhanallah, tarbiyah Rasulullah kepada ummahaatul mukminin tidak berhenti sampai di situ. Qudwah dari diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga terus mengalir dan seakan merangkai antara ucapan dan perbuatan beliau. ‘Aisyah radiyallahu ‘anha mengisahkan: “Jika Rasulullah hendak tidur maka beliau meniup kedua tangannya dan membaca al-mu’awwizaat lalu membasuh keduanya ke seluruh tubuhnya” (HR Bukhari nomor 6319). Dalam kesempatan yang lain ‘Aisyah radiyallahu ‘anha merasa iba melihat ibadah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu memberatkan dirinya hingga kedua kakinya menjadi bengkak, namun tatkala ditanya, Rasulullah kembali mencerahkan dirinya dengan menjawab: “Tidak pantaskah saya menjadi hamba yang bersyukur?” (HR Bukhari nomor 4837 dan Muslim nomor 2820).

Keluarga adalah poros utama terciptanya keserasian dalam kehidupan bermasyarakat. Karenanya, Islam menitikberatkan pentingnya tarbiyah jaaddah (yang sungguh-sungguh) di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah banyak memberikan contoh kepada kita, tarbiyah yang tidak melulu dengan perkataan namun juga dibalut oleh qudwah hasanah yang akan melahirkan pribadi-pribadi tangguh, insya Allah.

You might also like More from author

Leave a comment
k